JAKARTA – Upaya Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dalam menjaga keberlanjutan sektor hulu migas tidak hanya difokuskan pada peningkatan produksi, tetapi juga kontribusi nyata terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar wilayah operasi.
Djoko Siswanto, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) mengungkapkan bahwa salah satu KKKS, yakni PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM), terus menunjukkan komitmennya dalam menjalankan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) secara berkelanjutan.
“PHM disamping terus berupaya meningkatkan produksi migas nya juga berkontribusi signifikan terhadap lingkungan sekitar,” ujar Djoko,Kamis (16/4).
Menurutnya, PHM bersama SKK Migas setiap tahun secara konsisten melaksanakan program tanggung jawab sosial di sekitar wilayah kerja, yang mencakup sektor ekonomi, sosial—terutama pendidikan dan kesehatan—serta lingkungan.
Di bidang pendidikan, PHM menjalankan berbagai program strategis. Salah satunya adalah Bantuan Pendidikan Mahakam, di mana setiap tahun perusahaan memberikan dukungan kepada mahasiswa di Kutai Kartanegara, khususnya yang berasal dari kecamatan sekitar daerah operasi. Pada 2025, tercatat sebanyak 100 mahasiswa menerima bantuan pendidikan tersebut.
Selain itu, melalui program Beasiswa Sobat Bumi Kalimantan yang digelar bersama Pertamina Foundation dan PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI), peluang pendidikan juga dibuka bagi mahasiswa di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Dari Kutai Kartanegara, sebanyak lima mahasiswa mendapatkan beasiswa untuk menempuh pendidikan tinggi secara gratis di Kalimantan Timur pada tahun 2025.
PHM juga mengembangkan Program Sarjana Pesisir yang berfokus pada pendampingan siswa SMA hingga berhasil melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, sekaligus memperoleh bantuan pendidikan.
Tidak hanya itu, peningkatan kapasitas tenaga kerja lokal juga menjadi perhatian. PHM bersama Eni dan Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS) bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara menyelenggarakan pelatihan dan sertifikasi welder. Program yang telah memasuki tahun kedua ini dilaksanakan di Batam, dan para peserta yang telah bersertifikat memiliki peluang untuk langsung terlibat dalam berbagai proyek migas yang berjalan.
Di sektor lingkungan, PHM memiliki program unggulan bertajuk Wasteco (Waste to Energy for Community). Program ini mengolah gas metana dari sampah organik di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Manggar, Balikpapan, menjadi energi alternatif berbasis biomassa sebagai pengganti LPG. Saat ini, program tersebut telah dimanfaatkan oleh hampir 400 rumah di sekitar TPA Manggar.
“Program ini sangat di apresiasi oleh Menteri KLH dan beliau pernah hadir melihat langsung di lokasi,” ungkap Djoko.
Selain itu, PHM juga menjalankan program konservasi Pesut Mahakam yang dikembangkan bersamaan dengan penguatan desa wisata. Inisiatif ini mendapat apresiasi dari Menteri Lingkungan Hidup serta Menteri Pariwisata.
Berbagai program tersebut menunjukkan bahwa keberadaan industri hulu migas tidak hanya berorientasi pada produksi energi, tetapi juga berperan sebagai motor penggerak pembangunan sosial dan lingkungan yang berkelanjutan di daerah operasi.



Komentar Terbaru