KARAWANG – Komisi XII DPR RI melakukan kunjungan kerja spesifik ke fasilitas produksi manufaktur baterai kendaraan listrik milik PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Rabu (16/4). Kunjungan ini dipimpin langsung oleh Wakil Ketua Komisi XII DPR RI Putri Zulkifli Hasan.
PT CATIB adalah perusahaan patungan (joint venture/JV) antara PT Industri Baterai Indonesia (PT IBI) atau Indonesia Battery Corporation (IBC) dengan konsorsium Contemporary Amperex Technology Co Limited, Brunp, Lygend (CBL) bernama CBL Internasional Development Pte Ltd (Singapore-CBL). Fasilitas produksi baterai tersebut berlokasi di kawasan Artha Industrial Hill (IAH) dan Karawang New Industry City (KNIC) di lahan seluas ± 43 hektare (ha), Kabupaten Karawang, Jawa Barat.
Kunjungan kerja Komisi XII DPR RI tersebut sebagai bentuk tindak lanjut dukungan terhadap proyek hilirisasi ekosistem baterai di Indonesia. PT CATIB di Karawang membangun fasilitas manufaktur baterai yang berfokus pada produksi sel baterai dan battery pack untuk kendaraan listrik dan Battery Energy Storage System (BESS) untuk menunjang energi baru dan terbarukan.
Tahap awal, fasilitas ini memiliki kapasitas produksi sebesar 6,9 GWh per tahun yang akan ditingkatkan hingga sekitar 15 GWh pada fase berikutnya. Kunjungan kerja ini juga sebagai upaya memperkuat sinergi antara PT IBI dan PT CATIB dengan lembaga legislatif, pemerintah pusat dan daerah serta pemangku kepentingan lainnya dalam pengembangan ekosistem baterai nasional yang berkelanjutan.
Pembahasan yang dilakukan antara PT IBI dan PT CATIB bersama dengan Komisi XII DPR RI, Kementerian ESDM, Kementerian Lingkungan Hidup, Pemerintah Daerah Kabupaten Karawang dan PT PLN (Persero), mencakup perkembangan proyek, kesiapan operasional, dukungan infrastruktur ketenagalistrikan, pemanfaatan energi baru terbarukan, dan tantangan pengembangan investasi industri baterai di Indonesia.
“Transformasi menuju energi bersih dan ekonomi rendah karbon merupakan agenda strategis nasional yang terus didorong melalui pengembangan ekosistem kendaraan
listrik berbasis baterai,” ujar Putri Zulkifli Hasan, selaku Ketua Tim Kunjungan Kerja Komisi XII DPR RI.
Putri melanjutkan, dalam konteks tersebut, industri baterai menjadi salah satu pilar utama, tidak hanya dalam mendukung dekarbonisasi sektor transportasi, tetapi juga dalam memperkuat ketahanan energi nasional serta mendorong pemanfaatan energi
baru terbarukan.
Putri menjelaskan Indonesia memiliki keunggulan komparatif berupa ketersediaan sumber daya mineral strategis seperti nikel, kobalt, dan mangan yang menjadi bahan baku utama baterai.
“Melalui kebijakan hilirisasi, pemerintah mendorong terbentuknya rantai pasok yang terintegrasi dari sektor hulu pertambangan hingga hilir industri manufaktur baterai. Hal ini menjadikan keterkaitan antara sektor energi, minerba, dan industri semakin erat dan strategis,” jelas Putri.
Putri juga menyampaikan bahwa kunjungan ini bertujuan untuk memastikan kesiapan industri baterai nasional dalam mendukung transisi energi.
Direktur Utama PT IBI Aditya Farhan Arif menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas dukungan berbagai pihak terhadap pengembangan proyek ini.
“Fasilitas produksi baterai di Karawang ini ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada awal kuartal tiga tahun ini. PT IBI berkomitmen untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global baterai sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar Aditya.
Sebagai informasi, pabrik milik PT CATIB tersebut memproduksi baterai ion lithium
dengan komposisi kimia NMC (nickel manganese cobalt) dan LFP (lithium ferro phosphate) karena keduanya dibutuhkan untuk mendukung agenda transisi energi nasional. Saat ini, pasar baterai LFP di dunia dan Indonesia sudah terbentuk namun untuk pasar baterai NMC masih dalam tahap pertumbuhan. Oleh karena itu, IBC mengharapkan dukungan pemerintah untuk mempercepat pertumbuhan pasar baterai nikel.
Berdasarkan data yang dihimpun oleh PT IBI, mobil listrik yang menggunakan baterai jenis NMC di dunia telah mencapai 40%, namun di Indonesia pasar baterai NMC baru berkisar 4%.
Hal itu juga terlihat dari data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) yang baru-baru ini dirilis. Tahun lalu penjualan mobil listrik di Tanah Air telah mencapai lebih dari 10.930 unit, dengan rincian yang menggunakan baterai jenis LFP sebanyak 99.613 unit sementara baterai jenis NMC hanya 4.317 unit.
“PT IBI berharap pemerintah dan legislatif membuat kebijakan untuk mempercepat terciptanya pasar domestik baterai berbasis nikel, guna memperkuat daya tawar Indonesia di pasar global, karena Indonesia adalah pemilik cadangan nikel terbesar di dunia,” kata Aditya.(RA)


Komentar Terbaru