JAKARTA – Institut Teknologi PLN (ITPLN) resmi menggandeng President University dalam kerja sama strategis yang mencakup pengembangan kurikulum hingga pertukaran dosen. Kolaborasi ini digadang-gadang menjadi langkah konkret memperkuat kompetensi sumber daya manusia di sektor transisi energi.
Rektor ITPLN, Prof Iwa Garniwa, menegaskan kerja sama tidak boleh berhenti pada seremoni penandatanganan semata. Ia menekankan pentingnya tindak lanjut yang terstruktur dari kedua belah pihak.
“Kerja sama itu akan kita wujudkan. Tapi yang penting bukan hanya tanda tangan, melainkan implementasinya. Harus ada penanggung jawab (PiC) agar bisa langsung ditindaklanjuti,” ujar Prof Iwa dalam keterangannya, Rabu (1/4/2026).
Menurut dia, kolaborasi ini menjadi krusial di tengah peran PLN sebagai pemimpin transisi energi nasional. ITPLN, kata dia, dituntut melahirkan lulusan dengan kompetensi baru yang relevan menuju target net zero emission.
“Kita menuju energi listrik sebagai kampus transisi energi. Karena itu, kompetensi baru yang mendukung transisi energi menjadi perhatian utama kami,” katanya.
Selain itu, ITPLN juga berencana mengadopsi sistem pengajaran berbasis bahasa asing seperti yang diterapkan President University. Langkah ini diharapkan mampu menarik mahasiswa internasional ke kampus tersebut.
Di sisi lain, Rektor President University Handa S Abidin menyambut baik kerja sama ini. Ia menyebut kampusnya memiliki pengalaman dalam penyelenggaraan pendidikan dengan bahasa pengantar asing yang telah menarik mahasiswa dari berbagai negara.
“Saat ini sekitar 8 persen dari total 10 ribu mahasiswa kami berasal dari luar negeri, seperti China dan Australia. Kami berharap keunggulan ini bisa dikolaborasikan dengan ITPLN,” ujarnya.
Wakil Rektor 1 bidang akademik President University, oleh Dr Adhi Setyo Santoso, menambahkan bahwa kolaborasi antarperguruan tinggi menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing pendidikan Indonesia di tingkat global.
“Memang kalau nature-nya pendidikan tinggi itu skema kolaborasi. Itu yang kami terapkan dari kerjasama kita agar bisa terwujud. Kita ingin bersama-sama mendorong peningkatan peringkat global, meningkatkan pendidikan Indonesia di world ranking. Kalau kita lihat di Malaysia, China, pendidikan itu jadi komoditi, marketnya bukan hanya dari negara sendiri tapi negara lain,” ungkapnya.
Adapun ruang lingkup kerja sama mencakup pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, mulai dari pendidikan, penelitian, hingga pengabdian masyarakat. Selain itu, kedua institusi juga akan mengembangkan pembelajaran berbasis bahasa Inggris serta program pendidikan jarak jauh (PJJ).
Secara teknis, kerja sama ini akan diwujudkan melalui pengembangan kurikulum bersama, pertukaran dosen dan tenaga kependidikan, kolaborasi riset dan publikasi ilmiah, serta penguatan sumber daya akademik dan non-akademik.
Kerja sama ini diharapkan menjadi langkah awal sinergi berkelanjutan antara dunia akademik dan industri dalam menjawab tantangan transisi energi sekaligus mengerek daya saing pendidikan tinggi Indonesia di kancah global.(RA)


Komentar Terbaru