JAKARTA – Satuan Kerja Sama Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) menyatakan bahwa BPI Danantara berpotensi mendanai proyek Abadi Masela. Kemampuan pendanaan dari Danantara yang besar dipadukan dengan potensi ekonomi yang dihasilkan dari proyek Masela bisa jadi salah satu faktor pendorong wacana tersebut bisa direalisasikan.

Djoko Siswanto, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), mengungkapkan bahwa saat ini persiapan proses Final Investment Decision (FID) masih berlangsung dengan proses pencarian buyer atau pembeli gas. Ketika sudah dipastikan maka pembahasan FID akan dimulai termasuk di dalamnya sistem pendanaan yang bisa melibatkan Danantara.

“Kami telah memberi daedline kepada para pihak  harus sudah memutuskan kesepakatan harga paling telat bulan depan, kemudian saat acara IPA pada bulan Mei 2026 dapat ditandatangani HOA / GSA yang binding dihadapan Bapak Mentri & Bapak Presiden RI,” ungkap Djoko kepada Dunia Energi, Sabtu (14/3)

Setelah HOA/GSA di teken maka selanjutnya negosiasi dengan para finansial institution untuk membiaya proyek Abadi Masela ini , sehingga FID dapat ditandatangani pada Desember 2026. Menurut Djoko, opsi untuk melibatkan Danantara merupakan bentuk kepastian dari kelanjutan Proyek Masela.

“Apabila pihak finansial institution lambat mengambil keputusan maka pihak Danantara dapat membiayainya, agar tidak ada lagi alasan untuk menunda nunda ini proyek ini,” tegas Djoko.

Sementara itu, proses negosiasi penjualan LNG dari proyek Abadi Blok Masela semakin mengerucut. Dari puluhan calon pembeli internasional, kini tersisa lima perusahaan pemain kelas kakap bisnis gas yang menjadi kandidat kuat pembeli gas alam cair atau LNG Masela.

Djoko menjelaskan proses negosiasi telah berlangsung panjang dan melibatkan berbagai calon pembeli dari sejumlah negara. Negosiasi lanjutan penjualan LNG Masela ke international buyer dari 66 calon buyer mengerucut jadi 40, kemudian 9 buyer dan terakhir tinggal 5 buyer.

“Kelima calon pembeli tersebut adalah Osaka Gas, Kyushu Electric Power, Shell trading, bp Trading, serta Chevron Trading,”ujar Djoko.

Dia menuturkan proses negosiasi terakhir dilakukan di kantor bp dan Shell di Singapura serta di Tokyo, Jepang. Dalam pertemuan tersebut, tim teknis dari Inpex Corporation, Petronas, dan Pertamina bersama para calon pembeli membahas sejumlah ketentuan utama atau key terms kontrak LNG.

“Pihak penjual dan pembeli secara resmi telah mengajukan proposal final harga LNG masing-masing, yang perbedaannya tinggal sekitar ±0,2 persen dari harga minyak Brent,” jelasnya.

Menurut Djoko, rata-rata penawaran harga dari para calon pembeli berada di kurang lebih sekitar 12% dari harga Brent. Sementara pihak penjual tetap menawarkan harga di atas asumsi harga yang tercantum dalam Plan of Development (POD).