JAKARTA – Kabar gembira datang dari proyek Abadi Masela karena akhirnya setelah 25 tahun proyek tersebut akan memasuki tahapan konstruksi awal. Meskipun pekerjaan fisik ini belum menyentuh fasilitas inti alias hanya fasilitas penunjang, pemerintah tetap menilai hal ini sebagai salah satu milestone penting dan bukti nyata bahwa proyek Masela tetap bergulir dan punya target jelas untuk memproduksi gas.

Djoko Siswanto, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), menjelaskan early work sudah siap untuk dieksekuai dan pemenang lelangnya sendiri sudah disetujui SKK Migas dengan nilai proyek mencapai Rp1 triliun. Dalam early work ini akan dibangun jalan dan lahan parkir untuk menuju ke lokasi pembangunan Onshore LNG plan (OLNG).

“Kami berencana groundbreaking karena ini untuk menimbulkan iklim investasi yang bagus.Ini nanti 1 April, atau habis lebaran, paling cepat,” kata Djoko menjelaskan tentang progres pengembangan proyek Masela kepada Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan sekaligus ketua tim satgas Satuan Tugas Percepatan Program Strategis Pemerintah (Satgas P2SP), Selasa (24/2).

Secara keseluruhan Djoko juga menjelaskan kelanjutan proyek yang diklaim sebagai proyek gas terbesar yang pernah digarap di Indonesia ini.

Proyek ini kini memasuki fase krusial menjelang keputusan investasi final (FID).Dari sisi studi dan persiapan, berbagai kegiatan survei dan kajian untuk FEED telah diselesaikan, mencakup CCS, respons tsunami, survei G&G onshore dan offshore, hingga pekerjaan infrastruktur awal. Persetujuan Pelepasan Kawasan Hutan (PPKH) ditargetkan terbit Januari 2026, sementara persetujuan AMDAL lanjutan telah diperoleh pada 13 Februari 2026.

Secara progres FEED (tender process dan eksekusi), capaian aktual relatif sejalan dengan rencana. FEED SURF telah mencapai 56,13% (di atas rencana 55,59%), FEED GEP 56,72% (sesuai rencana), FEED FPSO 47,01% (di atas rencana 47,16%), dan FEED OLNG 43,52% (mendekati rencana 43,54%). Ini menunjukkan pengendalian proyek berjalan sesuai jalur yang ditetapkan.

Dalam aspek pembiayaan dan komersialisasi gas, draft LNG Development Agreement (LDA) ditargetkan selesai kuartal II 2026 dengan progres saat ini sekitar 35%. Selain itu, Head of Agreement (HoA) non-binding telah dilakukan dengan PLN EPI, PGN, dan Pupuk Indonesia pada Mei 2025 sebagai langkah awal pengamanan pasar gas di dalam negeri.

Ke depan, milestone penting proyek meliputi penyelesaian FEED EPCI SURF & GEP pada Juni–Oktober 2026, FEED FPCI OLNG & FPSO pada Juni–November 2026. Finalisasi LDA dan FID sama-sama ditargetkan tercapai pada Desember 2026.

Dengan progres teknis yang relatif on track dan langkah komersialisasi yang terus dipercepat, Proyek Maesla memasuki fase penentu menuju FID 2026, yang akan menjadi fondasi dimulainya tahap konstruksi penuh dan realisasi pengembangan lapangan gas strategis tersebut. (RI)