Dunia Energi Logo Senin, 20 November 2017

Porsi Pertalite Sudah 11% dari Total Pasar BBM

SURABAYA – PT Pertamina (Persero) mengaku pengenalan Pertalite sebagai bahan bakar minyak (BBM) baru cukup sukses. Pasalnya, sejak diperkenalkan pada Juni lalu hingga Oktober 2015, konsumsi BBM dengan RON 90 itu telah mencapai 178.230 kiloliter (KL) atau mencapai 11% dari total pasar BBM.

“Konsumsi Pertalite ini merupakan jumlah mengembirakan. Masyarakat punya pola preferensi konsumsi BBM sesuai dengan jenis kendaraannya,” kata kata Vice President Corporate Communication Pertamina, Wianda Pusponegoro, di Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Surabaya Group, Selasa (10/11).

Bahan bakar minyak jenis Pertalite makin diminati konsumen sehingga konsumsinya terus naik.

Bahan bakar minyak jenis Pertalite makin diminati konsumen sehingga konsumsinya terus naik.

Dia menuturkan peredaran Pertalita juga akan diperluas ke beberapa daerah. Saat ini, katanya, jumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang menjual Pertalite sebanyak 1.642 buah yang tersebar di 250 kota di Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.  Pertamina menargetkan hingga akhir tahun ini ada 1.920 pom bensin yang menjual Pertalite. “Infrastruktur itu yang sedang kami siapkan,” katanya.

Dia optimistis permintaan terhadap Pertalite akan terus naik seiring dengan perubahan pola pikir masyarakat yang sudah memahami jenis BBM yang sesuai dengan kenis kendaraan yang dimilikinya. Wanita yang pernah berkarier di media televise tersebut mencontohkan lonjakan konsumsi Pertamax ketika masa mudik Lebaran. “Konsumsi Pertamax naik empat kali lipat pada Lebaran 2015 dibandingkan periode mudik setahun sebelumnya,” katanya.

Wianda menambahkan khusus  di daerah Jawa Timur ada pergeseran konsumsi BBM dari Premium ke Pertalite. Sebelumnya, konsumsi Premium di Jawa Timur sebanyak 6.500 KL per hari. Kini, konsumsinya berkurang menjadi 6.000 KL per hari. “Ada 500 KL (dari Premium) pindah ke Pertalite,” kata dia.

Meskipun Pertalite yang antara lain diproduksi di Kilang Balongan ini kian popular, Wianda menegaskan produksi Premium tidak akan dikurangi. “Kebijakannya memang demikian. Kami hanya menyediakan alternatif BBM lain bagi masyarakat yang lebih baik,” tegasnya.(LH)

Berikan kami pemikiran anda

(dimulai dengan http://)