Dunia Energi Logo Sabtu, 16 Desember 2017

PLN Tunda Tiga Proyek Pembangunan Pembangkit Berkapasitas Total 4.000 MW

JAKARTA – PT PLN (Persero) memproyeksikan penundaan sejumlah proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan total kapasitas 4.000 megawatt (MW). Analis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) yang masih belum rampung menjadi penyebab tertundanya pembangunan pembangkit.

Sofyan Basir, Direktur Utama PLN, mengatakan penundaan sejumlah proyek pembangkit sebenarnya sesuai dengan revisi target pemerintah dalam proyek 35 ribu MW yang diperkirakan tidak akan mencapai target pada 2019.

Program kelistrikan 35 ribu MW diundur penyelesaiannya untuk menyesuaikan pasokan listrik dengan pertumbuhan ekonomi, yang berdampak pada penurunan konsumsi listrik. Pemerintah telah merevisi minimal target proyek 35 ribu MW akan rampung 17 ribu MW pada 2019.

‎”Contohnya pembangkit-pembangkit besar yang dua tahun kontrak, tapi belum jalan. Seperti pembangkit di Cirebon sudah dua tahun dari Power Purchase Agreement (PPA) itu masalah Amdal, total lebih dari 4.000 MW,” kata Sofyan saat ditemui di Gedung DPR, Rabu (11/10).

Menurut Sofyan, seiring revisi target pemerintah maka PLN sengaja tidak melakukan percepatan pembangunan pembangkit terutama yang berkapasitas besar, karena jika seluruhnya tepat waktu justru PLN yang akan menanggung kerugian karena tidak ada yang menyerap listrik yang sudah tersedia.

“Kalau PPA yang besar langsung dikerjakan dan selesai 2019 COD, maka kewajiban luar biasa jatuh ke PLN. Uang beli listrik tidak ada,” tegas Sofyan.

Nicke Widyawati, Direktur Pengadaan Strategis I PLN‎, mengatakan beberapa pembangkit yang mengalami kendala dan diproyeksikan akan mundur adalah Cirebon 2 (PLTU Cirebon) berkapasitas 1.000 MW, Tanjung Jati B (Unit 5 dan 6) berkapasitas 2×1.000 MW serta PLTU Indramayu yang berkapasitas 2×1.000 MW.

Sebagian besar permasalahan yang dihadapi dimasing-masing pembangkit adalah terkait masalah lingkungan dan sosial masyarakat. “Masalahnya hampir sama lingkungan, sosial ke masyarakat. Batu bara itu kan sensitif, lingkungan. Padahal kita untuk skala besar, bahkan yang kecil kita gunakan super critical jadi karbon emisinya jauh lebih rendah,” kata Nicke. (RI)

Berikan kami pemikiran anda

(dimulai dengan http://)