Dunia Energi Logo Senin, 20 November 2017

Mendulang Energi Dari Lingkungan Yang Lestari

Sedikitnya tiga ribu orang tumpah ruah memadati kolam raksasa seluas 7.000 hektar. Bukan untuk berwisata. Mereka mendulang energi untuk kesejahteraan umat di masa depan.

Waduk yang tercatat paling besar di Asia Tenggara itu mendadak terasa sempit. Sepanjang Sabtu, 24 November 2012, ribuan perahu dengan berbagai ukuran berhambur menyisir tepian dan tengah waduk, mengangkut berton-ton enceng gondok dan sampah, yang selama ini bak permadani warna-warni menutupi permukaan air.

Di bantaran, tampak pula ratusan orang mengayunkan cangkul, membenamkan batang-batang muda pepohonan. Meski sebagian yang hadir biasanya memanggul senjata, namun sama sekali tak terlihat ada jarak di antara mereka. Diselingi kelakar dan canda, semuanya bahu-membahu hingga mentari bergeser ke barat, mengubah dalam sekejap wajah Waduk Cirata menjadi bersih dan asri.

Begitulah suasana puncak perayaan ke-67 Hari Listrik Nasional, yang bertepatan dengan tiga windu operasional waduk dan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Cirata. PT Pembangkitan Jawa – Bali (PJB) yang memprakarsai kegiatan itu menyebutkan, sekitar 3.000 peserta dari unsur masyarakat dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) terlibat dalam perhelatan tersebut.

“Sengaja kami rayakan dengan kegiatan bersih-bersih Waduk Cirata, karena dari waduk inilah masa depan energi kita gantungkan,” ucap Direktur Utama PT PJB Susanto Purnomo yang turut berpeluh keringat hari itu.

Hadir pula pada pagi yang berbalut mendung itu, Ketua Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) Kuntoro Mangkusubroto. Namun mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) ini mengaku, kehadirannya selaku Pembina Masyarakat Cinta Citarum (MCC).

Tak ketinggalan pula Gubernur Jawa Barat, Direktur Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Pangdam III/Siliwangi, serta jajaran Direksi PT PLN (Persero) beserta anak perusahaan, juga para pejabata pemerintah daerah setempat.

Empat  lokasi yang menjadi sasaran pembersihan meliputi Gandasuli – Kabupaten Bandung Barat, Tegaldatar – Kabupaten Purwakarta, Janggari – Kabupaten Cianjur, dan  sekitar bendungan Cirata – Kabupaten Bandung Barat.

Waduk Cirata

Areal waduk dan PLTA Cirata.

Pemanfaatan Tak Terkendali

Susanto menerangkan, Waduk Cirata saat ini mempunyai kapasitas tampungan  air sekitar 2 miliar meter kubik air, yang pengelolaannya dibawah naungan PT PJB. Air dari waduk ini berkontribusi terhadap penyediaan tenaga listrik di sistem Jawa- Bali melalui operasional PLTA Cirata hingga 1.008 Megawatt (8×126 MW).

“Dari sinilah diproduksi energi listrik murah dan ramah lingkungan sebesar  1.061 Gigawatt Hours (GWh) per tahun,” tandasnya. Waduk Cirata juga berkontribusi terhadap penyediaan air minum terbesar untuk Wilayah Jawa Barat dan DKI Jakarta, disamping manfaat lain untuk perikanan, pertanian , pariwisata, berikut transportasi air  dan industri.

Menurutnya, pelestarian Waduk Cirata menjadi isu penting  terkait potensi besar yang dimiliki dan letaknya di daerah terbuka. Kondisi tersebut memungkinkan timbulnya ancaman bagi kelestarian waduk, akibat pemanfaatan potensi waduk yang tidak terkendali oleh masyarakat.

Setidaknya, kata Susanto, ada empat masalah utama Waduk Cirata. Pertama, rusaknya kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum dari hulu hingga hilir. Kedua, pemanfaatan lahan surutan oleh petani lokal, dan perkembangan usaha Keramba Jaring Apung (KJA) yang mencapai 56.000 unit.

Perkembangan keramba jaring apung ini, sudah melebihi jumlah yang ditetapkan pemerintah daerah, sesuai Surat Keputusan (SK) Gubernur Jawa Barat Nomor 41 Tahun 2000. Dalam SK itu, jumlah keramba jaring apung yang diizinkan hanya sampai 12.000 unit. Namun saat ini jumlah yang ada sudah melebihi. Padatnya KJA berkontribusi pada degradasi kualitas dan kuantitas air akibat limbah yang dihasilkan.

Problem keempat di DAS Citarum dan Waduk Cirata, ialah tingginya angka sedimentasi yang rata-rata mencapai 7,30 juta meter kubik per tahun. Padahal saat desai Waduk Citarum dibuat, diasumsikan sedimentasi yang terjadi hanya sekitar 5,67 juta meter kubik per tahun. Ditambah lagi, problem alih fungsi lahan konservasi menjadi lahan budidaya, dengan teknologi yang tidak ramah lingkungan.

Susanto menilai, pemanfaatan Waduk Cirata yang tidak terkendali ini, dilatarbelakangi berbagai faktor. Antara lain belum siapnya perangkat aturan, tumpang tindihnya kepentingan pembangunan daerah, dan perubahan kondisi lingkungan biofisik. Kondisi itu menimbulkan permasalahan yang menekan dan membebani daya dukung waduk dan lingkungannya.

Tanpa pengelolaan dan pengendalian  yang baik, dengan tingkat sedimentasi waduk sebesar 7,30 juta meter kubik per tahun, diperkirakan umur operasional PLTA Cirata hanya 60 tahun. Lebih pendek dari perkiraan umur desain yang mencapai 100 tahun. “Artinya setelah beroperasi selama 24 tahun sejak 1988, diperkirakan umur operasional PLTA Cirata tinggal 36 tahun lagi,” tuturnya sedih.

Keramba Cirata

Keramba jaring apung di Waduk Cirata.

Menghemat Rp 2,8 Triliun

Susanto mengakui, berbagai persoalan yang melilit Waduk Cirata itulah, yang melatarbelakangi PJB memusatkan puncak perayaan Hari Listrik Nasional 2012 di kawasan berpanorama indah itu. Dengan lestarinya lingkungan seputar Waduk Cirata, tersimpan harapan PLTA yang ada di sana dapat terus mengalirkan energi listrik, demi hajat hidup masyarakat banyak.

Menurutnya, saat ini PT PJB tengah menuntaskan penyusunan  Master Plan Pengelolaan Waduk Cirata, sebagai bagian dari upaya strategis pelestarian waduk tersebut. PJB turut melibatkan perguruan tinggi dan seluruh pemangku kepentingan Waduk Cirata dalam penyusunan master plan itu. Diantaranya lewat Semiloka yang digelar pada 26  September 2012.

Harapannya, master plan yang dibuat dapat mengakomodir seluruh pemangku kepentingan, terpadu, berwawasan lingkungan dan ekonomi secara seimbang, dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat. “Semoga master plan ini dapat dijadikan  landasan bagi seluruh kegiatan pembangunan lintas sektoral terkait pemanfaatan sumberdaya air, lahan dan kelestarian lingkungan di Waduk dan PLTA Cirata,” kata Susanto dalam pembukaan acara yang diberi nama “Sapu Bersih Waduk Cirata” itu.

Lebih lanjut Susanto Purnomo memaparkan, Master Plan Waduk Cirata disusun untuk menunjang ketahanan energi nasional. Lestarinya waduk akan menyokong operasional PLTA Cirata, sebagai pembangkit listrik bertenaga energi terbarukan yang murah dan ramah lingkungan. “Ini tentunya membutuhkan dukungan, kerjasama, dan peran aktif seluruh pemangku kepentingan dari hulu sampai hilir, dalam implementasi master plan tersebut,” tukasnya.

Cirata sendiri merupakan salah satu waduk dari kaskade tiga waduk DAS Citarum. Terletak pada 107°14’15” – 107°22’03” LS dan 06°41’30” – 06°48’07” BT, posisi waduk ini secara administratif masuk tiga kabupaten di Jawa Barat. Yaitu Kabupaten Bandung Barat, Purwakarta, dan Cianjur.

Operasional Cirata dimulai pada 1987 dengan proses penggenangan selama setahun. Pembangunan Waduk Cirata bertujuan sebagai sumber air untuk PLTA Cirata.  Tinggi bendungan 125 meter dengan panjang 500 meter. Daya tampungnya mencapai 2.165 juta meter kubik air, dengan puncak elevasi air maksimum setinggi 221 mdpl.

Mempunyai luas wilayah  7.111 hektar dengan luas genangan 6.200 hektar, Waduk Cirata memiliki fungsi majemuk. Antara lain pembangkit energi listrik, budidaya ikan jaring terapung, pertanian, sebagai reservoir atau penyediaan air, dan obyek wisata. Khusus untuk listrik, PLTA yang digerakkan oleh air dari waduk ini mampu memproduksi 1.012 GWh listrik per tahun. Dari situ, PLN mampu meraup penghematan dari bahan bakar minyak untuk listrik, yang pada 2012 saja mencapai Rp 2,8 triliun.

PLTA Cirata merupakan PLTA yang dikelola oleh Unit Pembangkitan (UP) Cirata, salah satu dari  enam UP  milik PT PJB. UP Cirata mengelola  8 unit PLTA dengan total kapasitas terpasang 1.008 MW. PT PJB sendiri merupakan anak perusahaan PT PLN (Persero) yang khusus bergerak di bidang usaha pembangkit listrik dan jasa operation serta maintenance pembangkit.

Seluruh pembangkit yang dikelola PJB saat ini memiliki kapasitas terpasang total 6.157 MW. Perusahaan yang didirkan 3 Oktober 1995 dan berkantor pusat di Surabaya ini, juga mengoperasikan dan me-maintenance pembangkit dengan total  kapasitas terpasang 3.610 MW.

(Abraham Lagaligo / abrahamlagaligo@gmail.com)

Berikan kami pemikiran anda

(dimulai dengan http://)