Dunia Energi Logo Jumat, 24 November 2017

Gangguan Produksi di Kanada dan Nigeria Angkat Harga Minyak

JAKARTA – Harga minyak patokan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni naik US$1,22 dan ditutup US$44,66 per barel pada Selasa (Rabu pagi WIB) di New York Mercantile Exchange. Di London, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Juli, naik US$1,89 menjadi US$45,52 per barel.

Penguatan harga minyak seiring berlanjutnya penutupan sementara beberapa ladang minyak di Kanada dan penurunan produksi di Nigeria. Minyak mentah telah jatuh pada Senin di tengah berita kebakaran hutan di Kanada tidak menimbulkan kerusakan jangka panjang pada infrastruktur ladang minyak utama.

Sentimen pasar kembali bullish pada Selasa, karena investor menyimpulkan gangguan produksi di wilayah pasir minyak Alberta, Kanada, bisa bertahan lebih lama, meskipun fasilitas tidak rusak parah dan kebakaran yang terburuk sudah usai. Sekalipun para produsen minyak berencana untuk menerbangkan beberapa pekerja mereka kembali ke tempat beroperasi pada akhir pekan ini, “Kami pikir mungkin diperlukan 2-3 minggu sebelum produksi pulih sepenuhnya,” kata analis Citi Futures Tim Evans seperti dikutip Antara.

Sekitar 900.000 barel hingga satu juta barel per hari produksi minyak pasir “off line” dan beberapa pipa minyak telah ditutup karena kebakaran hutan yang berkobar di kota minyak Kanada barat, Fort McMurray. Bank investasi Wall Street, Morgan Stanley, memperkirakan bahwa itu akan memakan waktu sekitar satu minggu bagi produsen-produsen minyak mentah Kanada untuk memulihkan kapasitas penuh mereka.

Sementara itu, data yang diterbitkan pada Selasa mengungkapkan bahwa produksi minyak Nigeria telah merosot ke terendah 22 tahun karena sabotase pada jaringan pipa dan meningkatnya kerusuhan yang telah memaksa perusahaan-perusahaan besar mengevakuasi pekerja mereka.

Data yang dikumpulkan oleh Bloomberg menunjukkan produksi di produsen minyak terbesar Afrika itu telah jatuh menjadi di bawah 1,7 juta barel per hari untuk pertama kalinya sejak 1994. Para pemberontak yang mencari pembagian pendapatan adil bagi penduduk setempat di delta selatan yang kaya minyak, semakin menargetkan fasilitas-fasilitas minyak, merupakan tantangan keamanan baru bagi Presiden Muhammadu Buhari.

“Ketakutan meningkatnya kekerasan terus menguat karena kelompok militan baru beroperasi di daerah tersebut,” kata Matt Smith, analis minyak ClipperData seperti dikutip Xinhua.(AT)

Berikan kami pemikiran anda

(dimulai dengan http://)