Dunia Energi Logo Minggu, 18 November 2018

Diluar Pembangkit PLN, Bukit Asam Berpotensi Jadi Pengembang Terbesar PLTU

JAKARTA– PT Bukit Asam Tbk (PTBA), emiten sektor pertambangan batubara, berpotensi menjadi produsen terbesar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di luar PLTU yang dikembangkan oleh PT PLN (Persero) . Anak usaha PT Indonesia Asahan Aluminium atau Inalum (Persero) itu diproyeksikan mengembangkan proyek PLTU berkapasitas kurang lebih 4.000 megawatt (MW).

Arviyan Arifin, Direktur Utama Bukit Asam, mengatakan saat perusahaan mengoperasikan tiga PLTU. Pertama, PLTU Banjarsari berkapasitas 2X110 MW. PLTU tersebut mulai beroperasi sejak 2105 dengan kebutuhan batubara sebesar 1 juta ton per tahun. Bukit Asam memiliki porsi 59,75% di pembangkit tersebut.

Kedua, PLTU Tanjung Enim dengan kapasitas 3X10 MW. Pembangkit ini digunakan untuk kebutuhan internal perusahaan. Mulai beroperasi pada 2012, porsi Bukit Asam di pembangkit ini 100%. Pasokan batubara untuk PLTU ini berasal dari perusahaan sebesr 150 ribu ton per tahun.

Ketiga, PLTU Tarahan berkapasitas 2X8 MW. Pembangkit ini didirikan di pelabuhan Tarahan untuk kepentingan perusahaan. Beroperasi pada 2013, porsi Bukit Asam di pembangkit ini 100%. Total kebutuhan batubara sekitar 100 ribu ton per tahun.

“Di luar tiga pembangkit yang berstatus operasi, ada tiga proyek PLTU yang dalam status MoU,” ujar Arviyan di Jakarta, baru-baru ini.

Ketiga proyek PLTU dalam status nota kesepahaman itu adalah PLTU Kuala Tanjung berkapasitas 2X350 MW. Proyek pembangkit ini merupakan kerja sama Bukit Asam dan Inalum untuk menyediakan pasokan energy listrik bagi pabrik ekspansi Aluminimum Smelter II milik Inalum di Kawasan Industri Sei Mengkei. Pembangkit ini diproyeksikan beroperasi pada 2020 dengan kebutuhan batubara sebesar 3 juta ton per tahun. “Nilai investasi proyek ini sekitar US$ 950 juta,” jelas Arviyan.

Baca juga  Pemerintah Minta Inpex Lakukan Pre-FEED di Blok Masela

Arviyan Arifin, Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk (Foto: Tambang)

Bukit Asam juga masih menantikan nota kesepahaan untuk pembangunan PLTU Halmahera Timur berkapasitas 2X40 MW. Ini adalah pengembangan pembangkit antara dua anak usaha Inallum, yaitu Bukit Asam dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Lokasi proyek ini di Halmahera Timur, Maluku Utara dengan kebutuhan batubara sekitar 350 ribu ton per tahun. “Operasionalisasi pembangkit ini sekitar 2021-2022 dengan nilai investasi sekitar US$ 150 juta,” ujarnya.

Selain proyek PLTU di Halmahera Timur, lanjut Arviyan, pengembangan PLTU dengan Antam juga dilakukan di Pomalaa, Sulawesi. Bukit Asam dan Antam mengembangkan PLTU Pomalaa berkapasitas 2X30 MW. Kebutuhan batubara sekitar 300 ribu ton per tahun dan diproyeksikan beroperasi tahun ini. “Nilai investasi proyek ini sekitar US$ 75 juta,” ujar dia.

Arviyan menambahkan, di luar PLTU yang sudah beroperasi dan yang berstatus MoU, Bukit Asam juga tengah mengikuti tender maupun dalam kerja sama operasi untuk empat pembangkit lainnya. Pertama, PLTU Peranap berkapasitas 2X300 MW di Kabupaten Indragiri Hulu,  Riau. Total kebutuhan batubara pembangkit ini sekitar 3,2 juta metrik ton per tahun. PLTU menggunakan teknologi proven yang akan dapat membangkitkan tenaga listrik dengan harga kompetitif sesuai aturan Pemerintah dan ditargetkan akan mulai beroperasi pada tahun 2023. “Total investasi proyek ini sekitar US$1,2 miliar,” ujarnya.

Kedua, PLTU Sumsel 8 berkapasitas 2X620 MW. Pembangkit ini dibangun di Bangko Tengah, Sumsel dengan kebutuhan batuabra sekitar 5,4 juta ton per tahun. Menurut rencana, operasi PLTU ini pada 2021/2022 dengan porsi perusahaan sebesar 45%. Total kebutuhan investasi proyek ini sekitar US$1,6 miliar. Konstruksi direncanakan mulai tahun ini dengan teknologi Boiler Supercritical yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Selanjutnya akan dilakukan amendemen kontrak Engineering Procurement Construction (EPC), kontrak Operations and Maintenance (O&M), dan Coal Supply Agreement (CSA).

Baca juga  Penerimaan Masyarakat terhadap Pembangkit Nuklir Terus Meningkat

Ketiga, PLTU Sumatera 2X300 MW. Berloksi di Muara Enim, Sumatera Selatan, proyek ini membutuhkan batubara 3 juta per tahun dan direncanakan untuk beroperasi pada 2022. Kebutuhan dana untuk proyek ini diproyeksikan US$ 900 juta.

“Kami juga ada satu tender maupun cooperation process untuk solar photovoltaic berkapasitas 100 MW di Sumatera. Kemunginan COD pada 2022 dengan investasi sekitar US$ 197 juta,” jelas dia.

Upaya Bukit Asam ekspansi pembangkit listrik patut diapresiasi sebagai bentuk diversifikasi bisnis. Apalagi kinerja Bukit Asam juga cukup moncer. Sepanjang kuartal I 2018, Bukit Asam membukukan laba bersih senilai Rp1,45 triliun tumbuh 66,64% year-on-year (yoy) dari tahun sebelumnya Rp 870,8 miliar.

Dalam publikasi laporan keuangan, pendapatan perseroan pada kuartal I 2018 mencapai Rp5,75 triliun, tumbuh 26,43% yoy dari kuartal I 2017 sebesar Rp4,55 triliun. Namun, beban pokok penjualan meningkat menjadi Rp3,17 triliun dari sebelumnya Rp2,85 triliun. Namun, laba kotor PTBA masih tumbuh menuju Rp2,58 triliun pada kuartal I 2018 dari sebelumnya Rp1,69 triliun.

Sementara pada 2017, Bukit Asam mencatatkan laba bersih Rp 4,47 triliun atau 223% dari periode sebelumnya yang hanya Rp 2,00 triliun. Pencapaian kinerja ini didukung oleh kemampuan manajemen perusahaan dalam merumuskan strategi yang efektif, diantaranya dengan peningkatan produksi, optimasi harga jual, serta efisiensi biaya.

Sepanjang 2017, Bukit Asam membukukan pendapatan sebesar Rp 19,47 triliun, naik 38% dibandingkan 2016 sebesar Rp14,05 triliun. Peningkatan pendapatan ini adalah hasil dari upaya terus menerus yang dilakukan manajemen Perseroan dalam melakukan penetrasi pasar untuk menjual batubara Low to Medium Calorie di tengah membaiknya harga batubara dunia.

Secara volume, penjualan batubara 2017 tercapai sebesar 23,63 juta ton, meningkat 2,87 juta ton atau 14% dibandingkan penjualan tahun sebelumnya sebesar 20,75 juta ton. Komposisi penjualan masih didominasi oleh penjualan domestik sebesar 61% dan penjualan ekspor 39%.

Baca juga  Serapan Gas Menurun, Impor Gas Tidak Dalam Waktu Dekat

Peningkatan volume penjualan yang cukup signifikan terjadi pada penjualan domestik yaitu sebesar Rp 2,13 juta ton atau 17% dibandingkan 2016. Penjualan ekspor juga sedikit meningkat, yaitu sebesar 9%. Bukit Asam-50 menjadi market brand utama untuk pasar domestik maupun pasar ekspor. Penjualan brand ini meningkat sebesar 1,82 juta ton untuk pasar domestik dan meningkat 2,44 juta ton untuk pasar ekspor. Selain itu, Bukit Asam-48 juga menunjukkan peningkatan 2,22 juta ton untuk pasar ekspor

Tahun ini, Bukit Asam sebesar Rp 6,55 triliun yang terdiri atas Rp 1,43 triliun untuk investasi rutin dan sisanya Rp 5,12 triliun untuk investasi pengembangan. (DR)

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.