JAKARTA – PT BUMA Internasional Grup Tbk (IDX: DOID) mencatatkan pendapatan sebesar US$318 juta sepanjang periode kuartal I 2026, turun 10% YoY, sejalan dengan portofolio aktif yang lebih kecil. Average Selling Price (ASP) bisnis kontraktor pertambangan naik 3% YoY, didukung oleh porsi kontrak rise-and-fall yang lebih tinggi serta kenaikan tarif berjenjang yang terkait dengan harga batu bara.
EBITDA perusahaan induk pertambangan yang terdiversifikasi secara global dengan kegiatan usaha yang tersebar di Indonesia, Australia, dan Amerika Serikat, ini meningkat 98% YoY menjadi US$28 juta dari US$14 juta pada 1Q25, dengan margin EBITDA meningkat menjadi 11% dari 5% pada 1Q25.
Buma Internasional membukukam rugi bersih sebesar US$24 juta, dibandingkan dengan rugi bersih sebesar US$70 juta pada 1Q25.
Perbaikan sebesar 66% YoY ini mencerminkan pemulihan EBITDA serta tiga faktor non-operasional yang mendukung, yaitu keuntungan sebesar US$12 juta dari optimisasi portofolio ACG yang masih berjalan melalui penjualan aset lahan, penurunan kerugian investasi dari 29Metals sebesar US$12 juta, serta tidak berulangnya pencadangan piutang di Australia sebesar US$4 juta yang dicatat pada 1Q25.
Buma Internasional Grup yang beroperasi di bawah empat pilar bisnis utama, yakni jasa pertambangan, kepemilikan tambang, kewirausahaan sosial, dan teknologi tetap mampu menjaga kinerja sepanjang tiga bulan pertama tahun 2026 yang secara musiman merupakan periode dengan curah hujan tertinggi dan paling menantang sepanjang tahun.
Kinerja tersebut didukung oleh perbaikan struktural pada produktivitas, biaya unit, dan disiplin operasional. Selama kuartal ini, Grup juga telah menyelesaikan pembentukan tim ahli (subject-matter expert) yang tersentralisasi di fungsi-fungsi utama sebagai penggerak utama peningkatan kinerja.
Di operasional Indonesia, jam non-produktif (non-productive hours) turun 14% seiring dengan penanganan atas kondisi licin akibat hujan serta hambatan pada area disposal, jalan angkut, dan kondisi geologi. Produktivitas bank cubic meter (BCM)/jam meningkat 1% YoY sejalan dengan penurunan cycle time sebesar 1% YoY, yang didukung oleh kondisi jalan angkut yang lebih baik dan berkurangnya waktu antre.
Biaya unit (unit cost) per BCM turun 1% YoY, menunjukkan disiplin biaya yang tetap terjaga. Biaya tenaga kerja per BCM turun 4% YoY, didukung oleh disiplin shift yang berkelanjutan dan penempatan operator yang lebih efisien, dengan rasio operator terhadap peralatan turun 3% YoY. Biaya bahan bakar per BCM naik 3% YoY, sepenuhnya disebabkan oleh kenaikan harga bahan bakar, sementara konsumsi per BCM tetap stabil, mencerminkan efisiensi armada yang konsisten. Biaya perbaikan dan pemeliharaan per BCM naik 13% YoY, seiring langkah terencana untuk percepatan aktivitas pemeliharaan guna memaksimalkan kesiapan peralatan menghadapi periode operasional yang lebih kering pada kuartal kedua dan ketiga.
Volume bulanan pengupasan lapisan tanah penutup gabungan Indonesia dan Australia meningkat dari 26,4 juta bank cubic meter (MBCM) pada Februari menjadi 30,4 MBCM pada Maret dan 34,3 MBCM pada April. Sementara itu, produksi batu bara mencapai 5,9 juta ton (MT) pada April, masing-masing sekitar 16% dan 22% di atas rata-rata bulanan 1Q26.
Hasil 1Q26 Mencerminkan Portofolio yang Lebih Terfokus dan Perbaikan Struktur Biaya Volume overburden removal turun 12% YoY menjadi 89 juta bank cubic meters (MBCM), sementara produksi batu bara turun 20% YoY menjadi 15 juta ton (MT). Penurunan volume terutama mencerminkan berakhirnya kontrak di site Binungan di Indonesia dan site Burton di Australia, serta ramp-down di dua site Indonesia pada 2025. Site yang beroperasi normal tetap stabil.
Belanja modal tercatat sebesar US$20 juta, yang dialokasikan untuk menjaga keandalan armada dan keberlanjutan operasional. Arus kas bebas (free cash flow) berbalik positif menjadi US$2 juta, dibandingkan dengan negatif US$19 juta pada 1Q25. Perbaikan ini terutama didorong oleh penerimaan sebesar US$17 juta dari penjualan lahan dalam kerangka optimisasi portofolio ACG, serta didukung oleh pemulihan EBITDA dan belanja modal yang jauh lebih rendah.
“Periode kuartal I 2026 menunjukkan bahwa pemulihan yang kami bangun sepanjang 2025 terus berlanjut di kuartal yang secara musiman penuh tantangan,” kata Iwan Fuad Salim, Direktur BUMA International Group, dalam keterangan tertulis Sabtu(30/5).
Iwan menyebut EBITDA meningkat hampir dua kali lipat secara tahunan meskipun pendapatan lebih rendah, didukung oleh disiplin biaya yang lebih kuat dan peningkatan produktivitas. Disiplin operasional dan perbaikan EBITDA tetap terjaga melewati puncak musim hujan pada Februari, memberikan kami landasan yang lebih kuat sepanjang tahun ini. Kami juga telah menyelesaikan transisi menuju tim subject-matter expert terpusat, yang membawa keahlian fungsional yang lebih mendalam ke setiap operasi.
Grup mencatatkan nihil fatalitas di seluruh operasi pada 1Q26, sementara pelaporan potensi bahaya secara proaktif juga meningkat di seluruh site, mencerminkan kemajuan berkesinambungan dalam budaya keselamatan Grup. Emisi Cakupan 1 dan 2 di Indonesia turun 13,3% YoY pada kapasitas produksi yang sebanding, didukung oleh peningkatan efisiensi operasional dan penurunan intensitas emisi di site-site utama di Indonesia. Pendapatan dari batu bara non-termal mencapai 21% dari total pendapatan Grup pada 1Q26.
“Fondasi telah terbentuk, dan fokus kami ke depan adalah eksekusi yang solid seiring memasuki kuartal operasional yang lebih kering,” ujar Iwan.(RA)


Komentar Terbaru