BAGI sebagian masyarakat di wilayah kepulauan nan terpencil, mendapatkan layanan kesehatan bukan sekadar persoalan datang ke rumah sakit. Ada usaha tidak biasa seperti yang ditempuh orang kota hanya untuk memeriksakan ada yang tidak beres dengan kondisi tubuhnya.
Yoasap (47) jadi salah satu sebagian masyarakat itu. Badannya kurus, matanya satu, suaranya pun terdengar pelan. “Nafas hosa,” begitu kata Yoasap kepada Dunia Energi ketika menjawab tentang apa yang dikeluhkannya sampai rela berjalan jauh ke Rumah Sakit Kapal Nusa Waluya II di Pelabuhan Elat, Pulau Kei Besar, Maluku Tenggara dari tim Dunia Energi pada Selasa (3/11).
Bapa Yo sapaan akrab Yoasap akhirnya meluruskan punggungnya dibangku serta mulai mencoba berbicara lebih nyaring lagi. Nafas hosa artinya Nafas cepat atau sesak nafas. Bapa Yo sudah merasakan ya selama beberapa bulan ini yang sebabkan dia tidak lagi bekerja sebagai pekerja kasar seperti kuli bangunan atau pun nelayan.
Dia mengakui belum bisa memeriksakan kondisinya karena jarak rumah ke fasilitas kesehatan yang mampu periksa kondisinya secara menyeluruh sangat jauh dan biaya transportasi juga mahal.
“Kalau ke Rumah Sakit di Tual Rp100 ribu, kalau ke sini (Rumah Sakit Kapal) naik kapal cuma Rp50 ribu sampai,” kata Bapa Yo yang ditemani oleh istrinya.
Wajar jika Bapa Yo memilih ke Rumah Sakit Kapal karena jika dua orang ke Tual yang harus dikeluarkan untuk transportasi saja sudah Rp200 ribu. Angka yang sangat besar bagi Bapa Yo yang cuma kerja serabutan.
Sama dengan Bapa Yo dan istri, Naya Rahaleb juga memilih datang ke RSK karena jaraknya yang terbilang lebih dekat ketimbang harus ke Rumah Sakit di kota di Pulau Kai Besar. Remaja yang baru saja rayakan ulang tahun ke 17 pada April lalu ini mengeluhkan sakit perut akibat haid yang tidak lancar. ” Baru pertama sakit begini. Kalau ke sini ojek lebih murah,” cerita Naya malu-malu.
Jarak antarpulau, keterbatasan transportasi laut, hingga biaya perjalanan menjadi tantangan tersendiri. Bahkan, untuk sekadar melakukan pemeriksaan darah, seorang warga bisa mengeluarkan biaya transportasi hingga Rp1 juta sekali perjalanan.
Kondisi tersebut menjadi gambaran nyata tantangan akses kesehatan yang dihadapi masyarakat di Kei Besar bahkan Kei Kecil di Kabupaten Maluku Tenggara, Maluku. Wilayah dengan bentang geografis yang luas dan tersebar di sejumlah pulau ini masih menghadapi keterbatasan fasilitas kesehatan serta ketersediaan tenaga medis terutama dokter spesialis.
Tidak sedikit masyarakat yang harus menyeberang dari pulau satu ke Pulau lainnya untuk memperoleh layanan kesehatan yang lebih lengkap. Bagi warga yang tinggal jauh dari pusat pelayanan, perjalanan tersebut bukan hanya membutuhkan waktu, tetapi juga biaya yang tidak sedikit.
Rumah Sakit Kapal (RSK) Nusa Waluya II hadir dan berlabuh di Pelabuhan Elat sejak 8 September 2026. Kehadirannya menjadi lebih dari sekadar tambahan fasilitas medis. Rumah sakit kapal ini berupaya mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat yang selama ini harus menghadapi keterbatasan akses.
Wilayah Kepulauan Kei terbagi menjadi Kei Kecil dan Kei Besar. Meski memiliki jumlah penduduk yang cukup banyak dan wilayah geografis yang luas, Kei Besar masih memiliki keterbatasan sumber daya manusia kesehatan, khususnya dokter spesialis.
Akibatnya, masyarakat kerap harus menyeberang ke wilayah lain untuk mendapatkan penanganan medis tertentu. Persoalan biaya transportasi menjadi salah satu hambatan utama.
“Dalam penyeberangan ini kadang-kadang masyarakat terkendala, terutama masalah biaya. Itu juga menjadi salah satu pertimbangan kami memilih Kei Besar sebagai lokasi pelayanan,” cerita dr. Tasia Risma Lidya Direktur RS Kapal Nusa Waluya I
Fasilitas Bukan Kaleng-Kaleng Demi Kesehatan
Selama hampir dua bulan beroperasi, rumah sakit kapal Nusa Waluya II rata-rata melayani 80 hingga 90 pasien setiap hari. Kapasitas pelayanan rawat jalan mencapai 200 pasien per hari, sementara pelayanan rawat inap disediakan selama tempat tidur masih tersedia.
Rumah Sakit Kapal terbilang cukup lengkap karena setara dengan Rumah Sakit tingkat I di Kabupaten/Kota. Total ada 26 tempat tidur yang disiapkan di RSK, terdiri atas 15 tempat tidur untuk pasien dewasa pria, delapan untuk pasien dewasa wanita, dan sisanya untuk pelayanan kebidanan.
Fasilitas yang tersedia juga bukan kaleng-kaleng dan cukup lengkap. Mulai dari poliklinik dokter spesialis dan dokter umum, instalasi gawat darurat (IGD) 24 jam, ruang rawat inap, hingga dua ruang operasi mayor. Fasilitas penunjang lainnya meliputi radiologi, pemeriksaan X-ray, USG, laboratorium, farmasi, serta bank darah untuk mendukung kebutuhan transfusi pasien.
Laboratorium rumah sakit kapal juga dilengkapi sejumlah layanan pemeriksaan, seperti hematologi, imunoserologi, pemeriksaan tuberkulosis menggunakan metode Tes Cepat Molekuler (TCM), serta pemeriksaan malaria dan demam berdarah. Seluruh pelayanan diberikan secara gratis dengan pendanaan yang berasal dari para donatur Pertamina International Shipping (PIS).
dr. Tasia menceritakan penyakit yang paling banyak kami temukan sebenarnya adalah penyakit tidak menular (PTM), seperti hipertensi dan diabetes. Salah satu penyebabnya adalah masyarakat mengalami kesulitan mengakses fasilitas kesehatan untuk melakukan pemeriksaan. “Akibatnya, penyakit sering terlambat diketahui dan mendapatkan penanganan,” kata dia.
Selain itu, ditemukan juga cukup banyak kasus hernia, penyakit infeksi, terutama infeksi paru-paru, infeksi menular seksual, penyakit kulit serta masalah kesehatan gigi dan mulut.
Selama hampir dua bulan pelayanan, kasus yang paling banyak kami tangani adalah kasus bedah atau pasien yang membutuhkan tindakan pembedahan. “Selain itu, ada pula beberapa kasus penyakit dalam, termasuk gangguan hati dan penyakit ginjal kronis atau chronic kidney disease (CKD),” kata dr. Tasia.
Kehadiran fasilitas tersebut membuat masyarakat memiliki alternatif pelayanan kesehatan tanpa harus langsung menyeberang ke wilayah lain. Terlebih, rumah sakit kapal juga menyediakan layanan bedah, termasuk penanganan hernia dan tumor, serta pelayanan kesehatan ibu dan anak.
Salah satu layanan yang cukup penting adalah operasi caesar bagi ibu hamil yang membutuhkan tindakan persalinan darurat. Tidak sedikit ibu hamil yang mengalami kendala ketika proses persalinan berlangsung. Dalam beberapa kasus, bayi sudah berada di jalan lahir, tetapi tidak dapat dilahirkan secara normal sehingga membutuhkan tindakan medis segera.
Persoalan jarak dan transportasi laut kerap memperumit keadaan. Keluarga terkadang khawatir melakukan perjalanan laut pada malam hari, sementara menunda penanganan hingga keesokan harinya berisiko bagi keselamatan ibu dan bayi.
Dengan keberadaan dokter spesialis obstetri dan ginekologi (obgyn), pasien dapat langsung dibawa ke IGD dan ruang operasi untuk mendapatkan tindakan yang dibutuhkan. Selama periode pelayanan selama 45 hari, rumah sakit kapal telah menangani sekitar sembilan persalinan melalui operasi caesar. Selain itu, tim medis juga pernah menangani seorang anak berusia 12 tahun yang mengalami kecelakaan lalu lintas. Pasien tersebut mengalami cedera di bagian wajah dan dahi.
Setelah menjalani pemeriksaan lanjutan oleh dokter spesialis bedah, pasien dinilai masih dapat ditangani di rumah sakit kapal. Penanganan yang diberikan membuahkan hasil positif dan pasien kini telah pulih.
Bagi tim medis, kasus tersebut memperlihatkan pentingnya kehadiran fasilitas kesehatan yang lebih dekat dengan masyarakat. Tanpa rumah sakit kapal, pasien kemungkinan harus menunggu transportasi laut dan menempuh perjalanan lebih jauh untuk mendapatkan penanganan.
Namun, pelayanan kesehatan di wilayah kepulauan tidak hanya menghadapi persoalan jarak dan fasilitas. Edukasi kesehatan kepada masyarakat juga menjadi tantangan tersendiri.
Perawat Josepha mengungkapkan, kendala yang sering ditemui bukan hanya persoalan bahasa, tetapi juga proses pengambilan keputusan dalam keluarga. Dalam sejumlah kasus, keputusan medis harus menunggu persetujuan anggota keluarga lain yang dianggap memiliki kewenangan. “Situasi tersebut terkadang memperlambat penanganan pasien, terutama ketika kondisi membutuhkan tindakan segera,” ujar Josep.
Untuk memastikan pelayanan berjalan efektif, pengelola rumah sakit kapal menjalin koordinasi dengan puskesmas dan fasilitas kesehatan setempat. Sistem rujukan disusun agar pasien yang membutuhkan pelayanan spesialis dapat memperoleh penanganan sesuai kebutuhan. Koordinasi tersebut juga penting untuk mengatur jumlah pasien yang datang setiap hari, mengingat kapasitas pelayanan rawat jalan telah ditentukan.
Gustidha Budiartie, Pjs Manager CSR Pertamina International Shipping (PIS) mengungkapkan operasi RSK di Pulau Kei Besar ini merupakan ketiga kalinya kerja sama dengan DoctorShare terjalin dan memang seluruh lokasi di wilayah Indonesia Timur yang memiliki keterbatasan akses. Sebelumnya RSK berlabuh dan melayani masyarakat di distrik Seget, dan Waigeo Utara di Papua Barat Daya. Kedua wilayah tersebut banhkan harus di tempuh dengan speedboat selama lebih dari 4 jam.
Menurut Gusti, semua orang, tidak hanya Indonesia tapi orang luar juga sepakat bahwa Indonesia bagian timur memiliki bentang alam yang sangat indah dengan potensi wisata yang sangat besar namun menurutnya apakah artinya jika masyarakatnya belum sejahtera terutama dari sisi kesehatan. “Disitulah kami mencoba hadir dan berkolaborasi dengan DoctorShare menghadirkan pelayanan kesehatan di pulau-pulau terdepan, pulau-pulau kecil di Indonesia dan di sini kita menyadari pentingnya arti konektivitas,” ungkap Gustidha ditemui di RSK Nusa Waluya II, Selasa (3/11).
Secara skema operasional DoctoShare memiliki kesamaan dengan operasi PIS melalui laut. Apalagi Indonesia itu wilayahnya 70% lautan, jadi memang ada beberapa wilayah yang sulit diakses kalau tidak diakses dengan kapal. kebetulan bisnisnya Pertamina International Shipping juga kapal Bagi sebagian masyarakat di wilayah kepulauan, mendapatkan layanan kesehatan bukan sekadar persoalan datang ke rumah sakit. Jarak antarpulau, keterbatasan transportasi laut, hingga biaya perjalanan menjadi tantangan tersendiri. Bahkan, untuk sekadar melakukan pemeriksaan darah, seorang warga bisa mengeluarkan biaya transportasi hingga Rp1 juta sekali perjalanan.
Kondisi tersebut menjadi gambaran nyata tantangan akses kesehatan yang dihadapi masyarakat di Kei Besar, Kabupaten Maluku Tenggara, Maluku. Wilayah dengan bentang geografis yang luas dan tersebar di sejumlah pulau ini masih menghadapi keterbatasan fasilitas kesehatan, terutama ketersediaan dokter spesialis.
Tidak sedikit masyarakat yang harus menyeberang ke Kei Kecil atau Langgur untuk memperoleh layanan kesehatan yang lebih lengkap. Bagi warga yang tinggal jauh dari pusat pelayanan, perjalanan tersebut bukan hanya membutuhkan waktu, tetapi juga biaya yang tidak sedikit.
Di tengah kondisi itulah RSK Nusa Waluya II hadir. Sejak 8 September 2026, kapal rumah sakit tersebut bersandar di wilayah Kei Besar dan membuka pelayanan kesehatan gratis bagi masyarakat.
Kehadirannya menjadi lebih dari sekadar tambahan fasilitas medis. Rumah sakit kapal ini berupaya mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat yang selama ini harus menghadapi keterbatasan akses.
Dari operasi hingga layanan dokter spesialis, setiap pelayanan menjadi bukti bahwa keterbatasan geografis semestinya tidak menjadi penghalang bagi siapa pun untuk memperoleh hak atas kesehatan.
Sebab, di negeri yang dipersatukan oleh laut ini, kesehatan tidak seharusnya menjadi sesuatu yang jauh dan sulit dijangkau. Ketika akses belum sepenuhnya mampu menjangkau masyarakat di pulau-pulau terluar, RSK Nusa Waluya II hadir mengingatkan bahwa pelayanan kesehatanlah yang harus mendekat, bukan masyarakat yang terus dipaksa menempuh jauhnya perjalanan untuk sembuh.





Komentar Terbaru