JAKARTA – Kerja sama regional dapat menekan biaya pemeliharaan cadangan minyak darurat sekaligus membantu pelaku usaha berinvestasi dalam produksi yang lebih ramah lingkungan. Hal ini terungkap dalam penelitian yang dipaparkan pada acara East Asia Media Caucus ke-2 yang diselenggarakan oleh ERIA.

Mengusung tema “Mendorong Ketahanan Energi ASEAN dan Memajukan Pertumbuhan Hijau”, forum ini mempertemukan para peneliti dan jurnalis untuk menggali berbagai peluang tersebut serta dampaknya bagi perekonomian di kawasan ini.

Dalam sambutan pembukanya, Dr. Takayuki Yamanaka, Chief Operating Officer ERIA, menyatakan bahwa gangguan pada pasokan energi global baru-baru ini menegaskan pentingnya kesiapsiagaan dan kerja sama regional. Ia juga menyoroti potensi pertumbuhan hijau serta transformasi digital dalam memperkuat daya saing dan integrasi regional ASEAN.

Berdasarkan pemodelan ERIA, biaya tahunan untuk penyediaan cadangan minyak tambahan di seluruh ASEAN diperkirakan mencapai US$2,19 miliar melalui pendekatan kerja sama, dibandingkan dengan US$2,80 miliar jika dilakukan melalui pendekatan yang dikelola secara nasional. Dengan volume cadangan tambahan yang sama, pendekatan kerja sama menawarkan penghematan biaya sekitar 22%.

Perbedaan biaya ini antara lain dipengaruhi oleh asumsi mengenai kepemilikan dan pendanaan. Dalam pendekatan kerja sama, stok tetap dimiliki oleh produsen atau mitra, sementara negara-negara peserta mendapatkan akses melalui kesepakatan.

Estimasi ini belum mencakup biaya tambahan terkait penyaluran darurat maupun pengisian kembali stok. Pengaturan ini merupakan rekomendasi hasil penelitian ERIA dan bukan merupakan komitmen resmi yang telah disepakati oleh ASEAN.

Dr. Han Phoumin, Ekonom Energi Senior di ERIA, menjelaskan, “Memiliki hak untuk mengakses cadangan darurat hanyalah langkah awal. Negara-negara memerlukan prosedur pelepasan stok yang jelas, jenis bahan bakar yang sesuai, serta kapasitas transportasi untuk menyalurkan pasokan ke lokasi yang membutuhkan. Uji coba sukarela dapat memungkinkan pemerintah dan operator untuk menguji mekanisme tersebut sebelum terjadi gangguan nyata.”

Selain kesiapsiagaan energi, diskusi juga membahas bagaimana pelaku usaha dapat tetap kompetitif di tengah transisi menuju proses produksi yang lebih bersih dan berbasis digital. “Singkatnya, keunggulan kompetitif ASEAN di masa depan akan lahir dari penggabungan pertumbuhan hijau, transformasi digital, dan integrasi regional ke dalam satu agenda ekonomi yang utuh,” ujar Dr. Intan Murnira Ramli, Senior Policy Fellow di ERIA.

Bukti survei yang dikutip oleh ERIA menggambarkan tantangan yang dihadapi oleh para pemasok. Di antara perusahaan Jepang yang disurvei di ASEAN, 53,3% telah menerapkan langkah-langkah dekarbonisasi, namun hanya 7,1% yang melaporkan telah beralih ke pemasok dengan tingkat emisi lebih rendah atau mendorong pemasok mereka untuk mengurangi emisi.

Survei terpisah terhadap perusahaan lokal di ASEAN menemukan bahwa pelaku usaha berskala lebih kecil cenderung lebih jarang mengambil tindakan, dengan kendala utama berupa keterbatasan pendanaan dan kapasitas teknis. Adopsi digital menghadapi hambatan serupa. Di kalangan perusahaan Jepang yang disurvei, 70,8% menyebutkan kurangnya talenta digital, sementara 64,7% menyoroti tingginya biaya implementasi.

Temuan ini menegaskan perlunya investasi terarah pada pengembangan keterampilan dan teknologi, serta peningkatan akses terhadap pendanaan.