BAGI masyarakat awam, sampah itu aib. Barang “busuk” yang harus disingkirkan. Berton-ton sampah berakhir di tempat pembuangan, tidak sedikit juga yang  mencemari sungai bahkan laut hingga mengancam daya dukung lingkungan.  Di balik gunungan sampah tersimpan ironi besar, peradaban modern namun sangat masif menghasilkan limbah, beban bukan hanya bagi generasi sekarang tapi generasi mendatang.

Berdasarkan data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), sampah yang terkelola baru sekitar 35.697 ton per hari atau 24,73%. Sedangkan 108.652 ton per hari atau sekitar 75% belum terkelola. Artinya semakin besar ancaman yang ditimbulkan nantinya karena justru sebagian besar limbah tersebut belum tersentuh.

Padahal di tangan-tangan yang tepat sampah justru jadi berkah. Dengan sentuhan teknologi, inovasi, dan tata kelola yang tepat, sampah dapat menjelma menjadi sumber energi, bahan baku industri, bahkan bisa jadi ladang ekonomi baru.

Bidayat (57 tahun) adalah salah satu bukti tangan tepat tersebut. Sedari tengah hari hingga menjelang matahari terbenam setiap senin hingga sabtu jadi garda terdepan pemilah sampah dari Desa Guwosari, Kecamatan Pajangan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Bidayat bersama 26 warga lainnya bertugas mengumpulkan, memilah dan mengolah sampah dari Guwosari di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) GO-SARI. Ada yang bertugas mengambil sampah di rumah warga, ada yang memilah atau membagi sampah berdasarkan jenisnya organik atau anorganik, ada yang mengolah sampah lebih lanjut setelah diolah hingga ada tim manajemen yang mengelola operasional TPS secara profesional.

Di usia yang sudah melampaui setengah abad, Bidayat memang terlihat tidak lagi bugar. Umur sudah menggrogoti keperkasaan tubuhnya. Wajahnya juga makin sayu. Tapi untuk urusan memilah sampah tangannya tetap cekatan. Jemarinya seperti punya sensor khusus yang langsung mengetahui mana sampah Bosok mana yang termasuk Rosok. Dari kakek yang sedang bersantai di teras rumah, Bidayat berubah jadi seperti robot saat sudah masuk ke area kerja tempat pemilahan sampah. Di GO-SARI sampah dibagi dua golongan, Bosok dan Rosok. Bosok merupakan sampah organik sementara Rosok sampah-sampah anorganik seperti limbah plastik yang masih punya nilai ekonomi.

Setiap hari Bidayat dapat bayaran Rp65 Ribu dari TPS-GO SARI untuk memilah sampah. “Per hari Rp65 ribu maunya dibayar per minggu saja biar terasa uangnya,” kata Bidayat seraya memisahkan botol plastik dan tutupnya saat Dunia Energi berkunjung ke TPS GO-SARI September lalu.

Sementara Ardian Sajidanto, yang telah bekerja hampir 2,5 tahun di TPS GO-SARI, mengaku memilah sampah jadi salah satu sumber penghasilan utama bagi keluarganya. “Dari segi pendapatan, Alhamdulillah bisa membantu ekonomi saya dan keluarga. Bisa untuk membeli susu anak juga,” ujar Ardian.

Desa Guwosari berjarak sekitar 15 kilometer dari pusat kota Yogyakarta atau bisa ditempuh selama kurang lebih sekitar 40 menit menggunakan kendaraan bermotor. Wilayahnya seluas 830        hektar didominasi perbukitan karst kering yang dipenuhi semak belukar. Ditengah perbukitan area persawahan dan perkebunan warga menghampar luas. Dengan jumlah penduduk sektar 14 ribu jiwa rata-rata sampah yang dihasilkan masyarakat desa dan diolah di TPS GO-SARI mencapai 4,5 – 5 ton per hari.

Sampah bukan barang baru bagi Bidayat dan warga desa yang bekerja di TPS GO-SARI, karena di Guwosari dulu sampah mengepung tempat tinggalnya. Jalanan, sungai, pekarangan rumah jadi tempat pembuangan. Mereka sebenarnya tentu tidak ingin melihat gunungan sampah di lingkungannya, tapi mau dikemanakan sampahnya ? Belum ada fasilitas pembuangan di sekitar desa.

Baru pada tahun 2019 TPS GO-SARI berawal dari inisiasi musyawarah desa untuk membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), salah satu unit dibentuk adalah unit pengolahan sampah, lantaran di desa Guwosari juga belum ada TPS memadai. Butuh waktu tiga tahun setelah terbentuk BUMDes menemukan skema tepat dalam pengolahan sampah.

Sekilas TPS GO-SARI tidak kentara seperti tempat pembuangan limbah tapi lebih ke laboratorium alam. Di bagian depan rumah bagi 500 ekor ayam petelur yang baru saja dibangun. Kemudian setelahnya ada lahan siap digarap untuk berbagai tanaman pendukung pangan warga seperti umbi-umbian dan tanaman obat-obatan. Berjalan ke atas sekitar 20 meter kita bisa melihat di sisi sebelah kiri jalan ada semacam pendopo seluas 50 meter yang biasa digunakan untuk menyambut berbagai pemangku kepentingan yang datang untuk melakukan study banding atau mengikuti penyuluhan pengolahan sampah.

Ayam petelur memproduksi telur omega. Disalurkan ke SPPG, BKKBN hingga ke warung-waung sekitar desa (Foto/Dok/Dunia Energi)

Dari pendopo kira-kira 30 meter sudah terlihat dua bangunan permanen menjulang tanpa pintu saling menghadap di dalamnya ada tumpukan sampah yang siap dipilah dan digolongkan Bosok dan Rosok. Ada juga mesin press hidrolik berwarna biru yang digunakan untuk press sampah-sampah plastik. Ada juga alat hotpress yang digunakan untuk membuat papan dari tutup botol plastik sebagai bahan baku ecofurniture. Di bagian belakang gedung ada kandang khusus rumah bagi Lalat magot atau Black Soldier Fly (BSF). Larvanya (Maggot) ini merupakan mesin sangat ampuh untuk mengurai sampah organik dan menjadi pakan ternak untuk ayam petelur. Tepat dibelakang kandang BSF ini ratusan telur menggelinding setiap harinya dari ratusan ekor ayam petelur, jadi bahan pangan bernilai gizi tinggi.

Tim TPS GO-SARI biasanya mulai melakuan pengumpulan sampah dari rumah -rumah warga pada pukul 8 hingga 11 pagi. Sementara proses pemilahannya mulai di jam 9 pagi hingga jam 5 sore. Istimewanya kegiatan pengumpulan sampah di Guwosari adalah pencatatan digital sampah yang diambil dan dipilah melalui aplikasi Go-Sari.

Sistem tersebut dirancang untuk memastikan sampah tidak berhenti di tempat pembuangan. Sampah yang terkumpul dipilah sesuai jenisnya agar dapat masuk ke jalur pengolahan yang tepat. Sampah organik, misalnya, dapat dimanfaatkan untuk mendukung budidaya maggot dan kegiatan produktif lainnya yang berpotensi mendukung kegiatan ekonomi masyarakat, termasuk peternakan ayam dan pemanfaatan hasilnya.

Skala pengelolaan yang dijalankan melalui program ini terbilang signifikan. Program tersebut menangani sekitar 4,5 ton sampah per hari. Dari jumlah itu, rata-rata sebanyak 2,8 ton merupakan sampah organik yang berpotensi diolah lebih lanjut. Pengelolaan dilakukan setiap hari melalui sistem terpadu, dengan capaian yang diklaim mencapai 100% dari total sampah yang masuk ke TPS Go-Sari.

Selain sampah Bosok (organik), golongan sampah Rosok (anorganik) diolah sedemikian rupa hingga memiliki nilai ekonomi yang tidak kecil. Rerata per hari sampah Rosok yang diolah bisa mencapai 1,5 ton per hari. Ketika sampah selesai dipillah antara Bosok dan Rosok, selanjutnya ada lagi pemilahan botol plastik bening dengan tutupnya. Untuk botolnya dipress menggunakan alat pres hidrolik dan dijual lagi ke pengepul. Sementara tutup botol plastik dicacah dengan mesin kemudian dibentuk menjadi papan menggunakan alat hotpress sehingga menghasilkan papan plastik bahan ecofurniture.

Berdasarkan catatan BUMDes sampah Rosok botol plastik bening yang dipress hasil penjualannya rata-rata Rp15 juta per bulan. Kemudian penjualan papan plastik mencapai Rp6,25 juta setiap bulan , sedangkan penjualan produk eco-furniture dan aksesori hasil dari kreatifitas warga bisa mencapai Rp7,5 juta per bulan. Program yang melibatkan 30 warga binaan aktif mampu menghasilkan tambahan pemasukan bagi warga sekitar Rp550.000 per orang setiap bulan.

Sampah Jadi “Bahan Baku” Ketahanan Pangan

Sumber : Pertamina Patra Niaga, Diolah Dunia Energi

Kegiatan pengolahan sampah adalah contoh nyata penerapan ekonomi sirkular. Golongan sampah Bosok atau organik sebagai sampah rumah tangga terutama sisa makanan dijadikan salah satu mesin utama penghasilan TPS GO-SARI

Sampah yang terkumpul tidak ada yang dibuang dengan cuma-cuma alias pasti memberikan manfaat. program GO-SARI menghubungkan pengelolaan sampah dengan kegiatan budidaya maggot, produksi pakan ternak, dan budidaya ayam petelur. Telur yang dihasilkan juga telur omega yang dihasilkan disalurkan kepada masyarakat melalui kolaborasi dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Amrul Sukma Hidayat (26), merupakan salah satu sosok yang sedari awal membangun ekosistem pengolahan sampah di TPS GO-SARI mulai dari hanya sekedar memindahkan sampah ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS) hingga kini mampu mendulang berkah dari sampah yang dikumpulkan.

Dia menceritakan salah satu capaian penting TPS GO-SARI adalah mampu menghasilkan telur yang didukung oleh keberadaan budidaya maggot sebagai bagian dari pengolahan sampah Bosok. Jadi, maggot dijadikan pakan ternak bergizi tinggi untuk ayam petelur yang menghasilkan telur omega berkualitas tinggi juga. “Per hari rata-rata 30 kg dari 600 ekor ayam. Dijual juga ke SPPG ada, terus di masyarakat juga ke warung-warung,” cerita Amrul kepada Dunia Energi.

Budidaya maggot sendiri bergantung pada sampah Bosok yang dikumpulkan. Sinergi dengan SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) cukup mengalir baik. TPS GO-SARI memasok kebutuhan telur, sementara sebaliknya SPPG juga memasok sisa masakan (Waste Food) yang termasuk dalam golongan Bosok. Dalam sepakan biasanya bisa 140kg telur atau lebih dari 2.000 butir dikirim ke SPPG. Selain itu ada juga telur yang dikirim ke perwakilan BKKBN Yogyakarta rata-rata 108 butir per minggu yang dimanfaatkan untuk program peningkatan gizi bagi 18 anak kurang pertumbuhan. Produksi telur TPS GO-SARI ditargetkan akan melejit karena adaya tambahan 500 ekor ayam petelur.

Sejauh ini pelanggan TPS 3R GO-SARI sudah tembus 1.500 pelanggan sehingga bisa menghasilkan dana sebesar Rp55 juta sebagai modal awal operasional. Tidak mudah untuk mencapai jumlah itu. Amrul menceritakan awalnya masyarakat cuek urusan sampah. Pikirannya sama, “untuk apa bayar cuma buat sampah?”. Pola pikir tanpa solusi, alhasil sampah dibiarkan tercecer dipinggir jalan begitu saja. Sosialisasi tidak kenal lelah akhirnya membuahkan hasil. Dimana masyarakat akhirnya menyadari masalah yang timbul dari buang sampah sembarangan tidak langsung hadir melainkan bisa terjadi dalam jangka panjang.

Masduki Rahmat (34), Lurah Desa Guwosari, menceritakan setiap minggunya setiap kepala keluarga desa Guwosari yang jadi pelanggan TPS GO-SARI membayar iuran Rp40 ribu per bulan. Namun untuk meningkatkan pemahaman serta gairah untuk ikut mengelola sampah, bagi masyarakat yang ambil bagian memilah antara sampah organik dan anorganik rumahnya maka iurannya diskon menjadi Rp20 ribu per bulan.

“Kita ingin mengubah mindset bahwa ketika mereka (masyarakat) sudah membayar, itu tidak memindahkan tanggung jawab. Tapi bagaimana kami hanya membantu mereka mengelola. Jadi emang dulunya itu mereka adalah produsen sampah. Ketika mereka bisa memilah, kita berikan reward dengan harganya lebih murah,” cerita Duki kepada Dunia Energi saat kunjungan bersama PT Pertamina Patra Niaga (PPN) Agustus 2026 lalu.

Duki menjelaskan proses pembuatan TPS GO-SARI juga awalnya memang bentuk dari kesadaran warga melalui musyawarah desa yang sepakat membentuk BUMDes tahun 2016 dimana salah satu satu unit yang dibentuk adalah pengolahan sampah. Sampai akhirnya pada tahun 2019 lahir peraturan desa tentang pengolahan sampah rumah tangga dan sejenisnya. Regulasi di tingkat desa itu yang jadi cikal bakal ekosistem dari pengolahan sampah TPS GO-SARI. “Jadi masyarakat punya kewajiban apa, punya hak apa. Ketika mau mengelola sampah, standarnya seperti apa, mekanismenya seperti apa, rewardnya seperti apa, punishment-nya seperti apa,” ungkap Duki.

Fondasi awal yang kuat inilah yang jadi pembeda antara TPS GO-SARI dengan TPS level desa lainnya yang rata-rata sifatnya Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) sehingga untuk menambahkan infrastruktur dan sebagainya itu, mengandalkan sumbangan masyarakat.

Desa Guwosari melihat sampah sebagai komoditi yang bisa menghasilkan bukan sebagai barang sisa yang harus dibuang begitu saja untuk itu posisi unit pengolahan sampah juga bukan sebagai “tempat sampah” tapi Badan Layanan Umum (BLU) – nya desa, bagaimana desa punya tanggung jawab, menjaga lingkungan. BUMDES itu prinsipnya memberikan profit, keuntungan melalui Pendatapatan Asli Daerah (PAD), dan juga memberikan benefit kebermanfaatan seperti pembukaan lapangan pekerjaan, merawat lingkungan dan menjaga kebersihan.

“Atas dasar itu kita berproses, ada penyertaan modal, kemudian kita menjalin MoU dengan banyak pihak, sampai endingnya kemudian, banyak mitra yang berkolaborasi dengan kami. Dari mulai dunia usaha, sampai kemudian akademisi,” cerita Duki.

TPS GO-SARI tidak langsung beroperasi seperti sekarang. Jatuh bangun sudah dirasakan sedari dibentuk sejak 2016. Selama hampir lebih dari tiga tahun operasi tidak berjalan optimal bongkar pasang personil, otak-atik formula yang pas dalam mengelola sampah dilakukan selama masa awal operasi itu. Baru pada sekitar tahun 2023 formula yang dirasa paling efektif dalam proses kerja memilah dan mengolah sampah didapatkan. Pelanggan atau biasa disebut nasabah itu cerita lain. Mulai dari sosialisasi, bujukan hingga rayuan ditempuh untuk setidaknya memberikan pandangan yang berbeda kepada warga desa dalam mengolah sampah. Dari sekitar 4 ribuan kepala keluarga yang tercatat tinggal di wilayah Guwosari, hanya 120 kepala keluarga yang mendaftar sebagai nasabah pada awal TPS GO-SARI beroperasi. Lalu bertambah setiap tahunnya menjadi 500 kepala keluarga, 700, lalu jadi 1.100 hingga dalam data terakhir lebih dari 1.500 kepala keluarga.

Praktik ekonomi sirkular dari sampah di Guwosari kini seakan jadi kiblat pengolahan sampah. Setiap bulan bahkan minggu Duki dan para jajaran manajemen TPS GO-SARI harus bergantian membagikan pengetahuan tentang operasional TPS. Bagi Duki ini bukan beban melainkan salah satu tujuan dari pembentukan unit pengolahan sampah BUMDes. Mulai dari pemerintah desa yang turut serta memboyong warganya, kalangan dunia usaha bersama para mitranya, akademisi silih berganti datang untuk sekedar menyaksikan langsung bagaimana sampah di Guwosari dianggap sebagai “tambang emas”.

Sampai akhirnya pada 2026, pengelolaan TPS GO-SARI diperkuat dengan pemanfaatan energi bersih melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 6,6 kWp dengan baterai 10 kWh. Energi yang dihasilkan dimanfaatkan untuk mendukung operasional berbagai peralatan pengolahan sampah.

Hendry, Local Hero Program Desa Energi Berdikari (DEB) GO-SARI Rehabcycle sekaligus pengelola TPS GO-SARI, mengatakan pemanfaatan PLTS mampu mengurangi biaya listrik operasional hingga sekitar 60 persen. Biaya listrik yang sebelumnya mencapai Rp3,5 juta–Rp4 juta per bulan kini menjadi sekitar Rp1,5 juta–Rp2 juta per bulan.

“Dengan dibantu PLTS, kebutuhan listrik kami bisa dihemat sampai sekitar 60%. Teman-teman juga tetap bisa bekerja ketika terjadi pemadaman listrik,” ungkap Hendry.

Manfaat ekonomi GO-SARI juga dirasakan langsung para pekerja. Ardian Sajidanto, yang telah bekerja hampir 2,5 tahun di TPS 3R GO-SARI, mengatakan pekerjaan tersebut menjadi salah satu sumber penghasilan bagi keluarganya.

“Dari segi pendapatan, Alhamdulillah bisa membantu ekonomi saya dan keluarga. Bisa untuk membeli susu anak juga,” ujar Ardian.

Manfaat program terus diperluas. Pengolahan sampah turut melibatkan kelompok lansia serta warga binaan Rutan Kelas IIB Bantul dalam pengolahan plastik menjadi eco furniture. Layanan GO-SARI juga diperkuat melalui aplikasi Gosari Lestari yang mendukung pembayaran layanan persampahan, tabungan sampah anorganik, hingga pemasaran produk hasil pengolahan.

Sebagai bagian dari penguatan ekosistem tersebut, pada Agustus 2026 lalu Pertamina menyerahkan secara simbolis dukungan PLTS Program Desa Energi Berdikari serta perlindungan BPJS Ketenagakerjaan bagi pekerja TPS GO-SARI. Pada kesempatan yang sama, sebanyak 771 paket sembako disalurkan kepada masyarakat prasejahtera di sekitar wilayah program.

Dari persoalan sampah, masyarakat Guwosari kini membangun kegiatan produktif yang memberikan manfaat berlapis. Sampah yang berakhir di pembuangan dapat ditekan, lapangan kerja terbuka, sumber penghasilan tumbuh, sementara energi bersih membantu membuat kegiatan pengolahan semakin efisien.

Keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya diukur dari seberapa banyak sampah yang berhasil dikumpulkan, tetapi juga dari seberapa jauh sampah tersebut dapat diolah, dimanfaatkan, dan memberikan manfaat nyata. Melalui pendekatan hulu hingga hilir, Go-Sari memperlihatkan bahwa perubahan besar dalam pengelolaan sampah dapat dimulai dari langkah sederhana di rumah: memilah sebelum membuang.

Keberhasilan pengelolaan sampah tidak semata-mata diukur dari berapa ton limbah yang berhasil diproses setiap hari. Lebih jauh, program tersebut harus mampu mengubah cara pandang dan menciptakan kemandirian masyarakat hingga pembukaan lapangan kerja.

Dian Hapsari Firasati, VP Community, Involvement, & Development Pertamina Patra Niaga (PPN), menjelaskan pengembangan TPS GO-SARI dirancang untuk membangun ekosistem yang memberikan manfaat secara berkelanjutan selain itu kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan sudah seyogyanya tidak berhenti pada pemberian bantuan fasilitas semata.

“GO SARI menjadi salah satu contoh bagaimana pengelolaan lingkungan dapat membuka green jobs, meningkatkan kapasitas masyarakat, sekaligus menjadi tempat belajar bagi lebih banyak orang,” kata Dian menjelaskan.

Sementara itu, Mars Ega Legowo, Direktur Utama PPN yang turut melihat proses pengolahan sampah di TPS GO-SARI menilai program di TPS membuktikan keberlanjutan dapat dibangun dari hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Keberlanjutan dinilai tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga bagaimana upaya tersebut memberikan manfaat nyata bagi warga sekitar wilayah operasi.

Menurutnya keberlanjutan bukan hanya tentang menjaga lingkungan, tetapi bagaimana upaya tersebut bisa memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Di Guwosari, kita melihat bagaimana sampah yang sebelumnya dianggap sebagai persoalan dapat dikelola menjadi peluang, membuka ruang usaha, sekaligus membangun kesadaran masyarakat akan kepedulian terhadap lingkungan,” ujar Mars Ega.

Model Pengolahan Sampah dan Duplikasi

Kementerian Lingkungan Hidup melalui Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) mencatat sebanyak 75% sampah, atau kurang lebih 100 ribu ton per hari, dari 514 kabupaten/kota belum terkelola. Sementara itu, baru 25%, atau sekitar 35 ribu ton per hari, sampah yang sudah terkelola. Jumlah tersebut meningkat cukup signifikan jika dibandingkan data pada tahun 2025 dimana tercatat sekitar 91 ribu ton timbulan sampah per hari yang dikumpulkan dari 304 kabupaten/kota dari jumlah tersebut sebanyak 31% sampah, atau sekitar 28 ribu ton per hari, telah dikelola, sedangkan 59% sisanya belum terkelola dengan baik.

Seperti diketahui sebagian besar sampah di Indonesia diproses melalui open dumping, yaitu pengolahan sampah di tempat terbuka tanpa dilapisi tanah atau ditutupi. Besarnya sampah yang belum dikelola atau hanya menggunakan open dumping ini tentu menimbulkan persoalan tersendiri kerap muncul tidak hanya lingkungan tentu saja tapi juga bisa sampai ke sosial dan ekonomi.

Data Kementerian Lingkungan Hidup hingga awal tahun 2026 ini sebanyak 324 dari 480 atau 69% tempat pembuangan akhir (TPA) beroperasi menggunakan sistem open dumping. Padahal, open dumping kurang memenuhi syarat sebagai tempat pengolahan akhir sampah karena hanya menumpuk sampah di area cekungan tanpa diolah lebih lanjut.

Jika terus dibiarkan maka sampah di lahan terbuka ini dapat memperburuk kualitas udara, mencemari lingkungan, dan mengancam kesehatan masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Berdasarkan penelusuran Dunia Energi sepanjang tahun 2025 hingga pertengahan tahun 2026 sudah ada 10 insiden di delapan TPA yang mengalami kebakaran dan itu semua beroperasi menggunakan sistem open dumping  diantaranya di TPA Alak, Kupang; TPA Ncolang, Manggarai; TPA Suwung, Bali; TPA Bakung, Lampung; serta sejumlah fasilitas pengolahan sampah lainnya. Pada 2026, kebakaran juga dilaporkan terjadi di TPA Suwung, Bali, TPA Putri Cempo, Solo, TPA Jatiwaringin, Tangerang, dan TPA Pakusari, Jember.

Pola kejadiannya hampir sama yakni gas metana (CH₄) yang terperangkap dalam gunungan sampah imbas open dumping tersulut sumber panas, dan menjalar cepat karena minim pula penanganan struktural.

Dalam Perpres Nomor 12 Tahun 2025 yang mengatur RPJMN tahun 2025—2029, target pengelolaan sampah telah ditetapkan harus mencapai 100% pada tahun 2029. Melalui pengoptimalan seluruh fasilitas yang ada, diharapkan pengelolaan sampah dapat meningkat hingga 57% atau 44.950 per hari. Pemerintah juga sebenarnya menargetkan penghentian penggunaan sistem open dumping.

Secara langsung program Pertamina yang melibatkan limbah sampah turut mendukung program dan target pemerintah. Secara nasional, hingga tahun 2026 Pertamina Group telah menjalankan 151 program lingkungan berbasis pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular. Program-program tersebut berhasil mengolah sekitar 951.023 ton sampah per tahun, memberikan manfaat kepada 68.788 penerima manfaat, serta menciptakan dampak ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat.

Model pengelolaan sampah yang diusung TPS GO-SARI yang disinergikan dengan konsep DEB Pertamina tentu bisa menjadi model pengelolaan sampah modern dan berbasis energi bersih di tempat pengolahan sampah lainnya.

Arya Dwi Paramita, Sekretaris Perusahaan PT Pertamina (Persero) menegaskan inovasi lingkungan tidak hanya dilakukan melalui program pemberdayaan masyarakat, tetapi juga diterapkan dalam operasional perusahaan melalui pemanfaatan teknologi dan praktik bisnis yang semakin ramah lingkungan.

“Keberlanjutan menjadi bagian penting dari strategi bisnis Pertamina. Karena itu, berbagai inovasi terus kami dorong, baik di lingkungan masyarakat maupun di dalam proses operasional perusahaan, untuk mengurangi dampak lingkungan sekaligus mendukung target transisi energi dan pembangunan berkelanjutan Indonesia,” ungkap Arya.

Dulu, sampah kerap kali menjadi sumber keresahan. Menumpuk, membusuk, menimbulkan bau tidak sedap, mencemari lingkungan. Siapa yang bisa membayangkan bahwa dari sana justru kehidupan baru bisa lahir.

Dari tangan-tangan warga, sampah jadi sumber penghasilan, maggot menjadi pakan ternak, telur menjadi sumber gizi warga bahkan untuk menopang pertumbuhan warga yang kurang gizi.Sementara sinar matahari dikonversi menjadi energi untuk menggerakkan roda pengolahan di TPS.

Sampah yang jadi beban desa perlahan berubah menjadi kekuatan yang menghidupi masyarakatnya. Inilah semangat kemandirian yang tercermin dalam konsep Desa Energi Berdikari (DEB) ketika energi bersih tidak hanya menerangi, tetapi juga menggerakkan ekonomi dan membuka jalan bagi kesejahteraan. Di Guwosari, berkah ternyata tidak selalu datang dari tanah yang subur atau sumber daya alam yang melimpah. Terkadang, ia tersembunyi di balik gunungan sampah, menunggu untuk ditemukan dan diolah. Masyarakat dan Guwosari dan TPS-nya tidak hanya menyelamatkan lingkungan, tetapi juga sedang membangun masa depannya sendiri.