JAKARTA – Upaya mengoptimalkan kembali sumur minyak yang sebelumnya tidak ekonomis membuahkan hasil di Lapangan Sukowati, Bojonegoro, Jawa Timur. PT Pertamina EP Asset 4 (Zona 11) berhasil mengaktifkan kembali Sumur SKW-17ST melalui kegiatan well intervention dengan capaian produksi mencapai 1.025% dari target.
Sumur SKW-17ST yang berada di Pad B, Desa Ngampel, Bojonegoro, Jawa Timur, sebelumnya mengalami kondisi shut-in sejak November 2022 akibat water cut atau kandungan air mencapai 100%.
Setelah dilakukan intervensi, sumur tersebut kembali menghasilkan minyak dengan laju alir awal (initial rate) mencapai 810 barel minyak per hari (BOPD), jauh di atas target 79 BOPD.
Djoko Siswanto, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) mengatakan keberhasilan reaktivasi sumur shut-in menjadi salah satu upaya penting dalam mengoptimalkan produksi dari lapangan eksisting.
“Sumur-sumur yang sebelumnya shut-in perlu terus diupayakan untuk diaktifkan kembali dengan teknologi dan metode yang tepat. Ini bagian dari upaya meningkatkan produksi dari lapangan eksisting,” ujar Djoko dalam keterangannya, Jumat (2/10).
Selain minyak, Sumur SKW-17ST juga menghasilkan laju alir awal gas sebesar 0,425 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) dari Lapisan Tuban Reef pada interval 7.739–7.749 kaki measured depth (ftMD).
Keberhasilan tersebut diperoleh setelah Pertamina EP melakukan serangkaian pekerjaan well intervention. Pekerjaan meliputi penutupan interval produksi eksisting, perbaikan bonding cement, perforasi interval produksi baru pada Lapisan Tuban Reef yang merupakan lapisan batu gamping (limestone), stimulasi matrix acidizing, hingga pemasangan electric submersible pump (ESP).
Kegiatan operasional menggunakan Rig NYT#24 berkapasitas 550 HP dan berhasil diselesaikan dalam waktu 31 hari operasi. Pekerjaan dinyatakan selesai pada 30 September 2026 dan sumur dapat langsung diproduksikan atau put on production (PoP).
Dari sisi biaya, pekerjaan tersebut juga mencatatkan efisiensi. Berdasarkan estimasi biaya lapangan, biaya yang telah dikeluarkan mencapai sekitar US$790.650, atau 86% dari rencana anggaran sebesar US$916.946.
“Yang juga penting adalah pekerjaan dilakukan dengan memperhatikan aspek keselamatan, efisiensi waktu dan biaya, serta memberikan tambahan produksi yang nyata,” kata Djoko.
Setelah dilakukan well intervention, kondisi water cut Sumur SKW-17ST berhasil diturunkan menjadi 66,38%. Penurunan tersebut membuat sumur yang sebelumnya tidak ekonomis untuk diproduksikan kembali dapat menghasilkan minyak dan gas.
Djoko menilai optimalisasi sumur-sumur eksisting menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga produksi migas nasional di tengah tantangan penurunan alamiah produksi lapangan.
“Optimalisasi sumur eksisting, termasuk reaktivasi sumur shut-in, harus terus dilakukan untuk menjaga dan meningkatkan produksi migas nasional,” ujarnya.
Keberhasilan Sumur SKW-17ST sekaligus menunjukkan bahwa intervensi terhadap sumur yang sebelumnya tidak ekonomis masih memiliki peluang memberikan tambahan produksi apabila dilakukan dengan evaluasi teknis dan metode yang tepat.
Dengan tambahan produksi sebesar 810 BOPD, reaktivasi Sumur SKW-17ST diharapkan memberikan kontribusi terhadap peningkatan produksi minyak Lapangan Sukowati sekaligus mendukung upaya pemerintah menjaga ketahanan energi nasional.





Komentar Terbaru