JAKARTA — Guru Besar Institut Teknologi PLN (ITPLN), Prof. Syamsir Abduh, menilai program pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp) harus ditempatkan sebagai transformasi sistem ketenagalistrikan nasional, bukan sekadar penambahan kapasitas pembangkit.

Menurutnya, keberhasilan program PLTS 100 GWp membutuhkan strategi yang mencakup seluruh ekosistem energi, mulai dari sumber daya, jaringan listrik, pasar, pembiayaan, industri, perizinan, teknologi hingga sumber daya manusia (SDM).

“100 GWp PLTS bukan proyek pembangkitan semata, tetapi transformasi ekosistem energi nasional,” ujar Syamsir dalam keterangannya, Senin(14/9/2026).

Menurut dia, pemerintah perlu memiliki peta jalan nasional yang jelas dengan membagi target 100 GWp ke dalam tahapan realistis, misalnya 2027-2030, 2031-2035, dan 2036-2040. Target kapasitas tahunan dan regional juga perlu ditetapkan berdasarkan potensi surya, kesiapan jaringan, pertumbuhan permintaan listrik, serta dampak ekonomi.

“Pengembangan proyek, harus terintegrasi agar tidak berjalan secara terfragmentasi. Kualitas sumber daya energi dan kapasitas jaringan menjadi pertimbangan utama dalam menentukan lokasi proyek,” katanya.

Syamsir menilai jaringan listrik harus menjadi prioritas sebelum pembangunan klaster PLTS berskala besar. Dia juga menegaskan, studi dampak terhadap sistem kelistrikan perlu dilakukan sebelum proyek disetujui.

Pemerintah juga, ucapnya, perlu menetapkan zona energi terbarukan dan kapasitas tampung jaringan, mempercepat pembangunan transmisi dari wilayah dengan potensi surya tinggi ke pusat beban, serta memperkuat interkoneksi antar-pulau.

“Untuk menjaga keandalan sistem, pengembangan PLTS perlu didukung baterai penyimpanan energi atau Battery Energy Storage System (BESS), pumped storage, pembangkit fleksibel, serta sistem kendali jaringan yang lebih canggih,” tuturnya.

Syamsir juga mendorong pendekatan portofolio. Kapasitas 100 GWp tidak hanya mengandalkan satu model pembangkit, tetapi dapat dikembangkan melalui PLTS skala utilitas, PLTS atap, PLTS terapung, PLTS dengan BESS, serta sistem hibrida surya-hidro dan surya-angin-penyimpanan energi.

“PLTS juga dapat diarahkan untuk kawasan industri, wilayah terpencil dan kepulauan,” imbuhnya.

Besarnya kebutuhan modal membuat aspek pembiayaan menjadi faktor penting dalam program tersebut. Menurut Syamsir, pemerintah harus menciptakan mekanisme pengadaan yang layak secara finansial atau bankable agar menarik bagi investor.

Kepastian itu mencakup struktur perjanjian jual beli listrik (PPA), tarif listrik, ketentuan take-or-pay, risiko mata uang, kompensasi atas pembatasan pasokan (curtailment), hak atas tanah, koneksi jaringan, jaminan pemerintah, serta perlindungan terhadap perubahan regulasi.

Sumber pembiayaan pun perlu diperluas dengan menggabungkan perbankan domestik, bank internasional, obligasi hijau, pembiayaan berkelanjutan, bank pembangunan multilateral, dana iklim, pembiayaan campuran (blended finance), serta investor negara dan institusional.

Jadi Penggerak Industri

Syamsir menilai pengembangan PLTS juga perlu dikaitkan dengan kebijakan industrialisasi. Energi surya dapat diarahkan untuk memenuhi kebutuhan kawasan industri, smelter, pusat data, hidrogen hijau, ekosistem kendaraan listrik, pelabuhan, bandara, dan bangunan komersial.

Pendekatan tersebut akan membuat pembangunan PLTS tidak berhenti pada penambahan kapasitas listrik, tetapi ikut menciptakan aktivitas ekonomi baru dan memperkuat rantai industri energi bersih.

Di sisi lain, kesiapan SDM harus menjadi bagian dari peta jalan 100 GWp. Universitas dan lembaga pendidikan vokasi perlu dilibatkan untuk menyiapkan tenaga profesional yang mendukung pengembangan industri PLTS.

Kebutuhan tersebut meliputi insinyur tenaga surya, insinyur sistem kelistrikan, perencana jaringan, spesialis pembiayaan proyek, profesional konstruksi, teknisi operasi dan pemeliharaan (O&M), spesialis energi digital, serta tenaga ahli lingkungan dan sosial.

Dengan demikian, menurut Syamsir, target PLTS 100 GWp harus dibangun sebagai ekosistem yang terintegrasi. Keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh berapa besar kapasitas pembangkit yang terpasang, tetapi juga oleh kesiapan jaringan, pembiayaan, industri, teknologi, regulasi, dan manusia yang menopangnya.