JAKARTA – Target pertumbuhan ekonomi 8% membuat pemerintah mencari sumber pertumbuhan baru di luar mesin ekonomi konvensional. Salah satu yang mulai diarahkan menjadi penggerak utama adalah sektor energi, dengan potensi energi baru terbarukan (EBT) lebih dari 3.000 gigawatt (GW).
Besarnya potensi tersebut kini tidak lagi semata dilihat sebagai cadangan energi bersih untuk mendukung transisi energi. Pemerintah berencana menjadikannya sebagai fondasi industrialisasi baru yang mampu menarik investasi, menciptakan nilai tambah, memperkuat manufaktur, hingga membuka lapangan kerja.
Elen Setiadi, Deputi Bidang Koordinasi Energi dan Sumber Daya Mineral Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengatakan Indonesia membutuhkan sumber pertumbuhan baru untuk mencapai target ekonomi yang lebih tinggi. “Pertumbuhan 8% itu kita butuh engine baru, kita butuh engine pertumbuhan baru,” ujar Elen dalam gelaran Accelerating Growth Through Clean Energy & Industrial Transformation di Jakarta, Selasa (8/9).
Menurut Elen, sektor energi memiliki peluang besar untuk menjadi penggerak ekonomi baru karena Indonesia memiliki sumber daya energi terbarukan yang sangat besar. “Potensi energi terbarukan kita lebih dari 3.000 gigawatt, ini adalah potensi yang luar biasa,” katanya.
Namun, tantangannya bukan sekadar bagaimana mengubah ribuan gigawatt potensi EBT menjadi kapasitas pembangkit. Pemerintah ingin memastikan energi tersebut menjadi bagian dari ekosistem industri yang menghasilkan nilai ekonomi lebih besar.
Energi bersih kini boleh dibilang ada pada persimpangan antara agenda transisi energi dan strategi pertumbuhan ekonomi. Jika selama ini EBT lebih banyak dikaitkan dengan pengurangan emisi dan perubahan bauran energi, ke depan pengembangannya diarahkan untuk menopang sektor-sektor industri baru. Sebut saja industri baterai kendaraan listrik, manufaktur berbasis energi bersih, pembangkit tenaga surya, hingga kawasan industri hijau, seluruhnya membutuhkan pasokan energi yang kompetitif sekaligus rendah karbon. Kondisi tentu bisa menjadi peluang untuk menarik modal baru sekaligus memperkuat rantai nilai domestik.
Dendy Apriandi, Direktur Deregulasi Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mengatakan pengembangan investasi hijau harus dibangun melalui kolaborasi pemerintah dan dunia usaha.
“Investasi hijau tidak hanya bicara energi, tetapi juga bagaimana menciptakan ekosistem industri yang memberikan nilai tambah bagi perekonomian,” ujar Dendy.
Menurutnya, arah investasi ke depan semakin mempertimbangkan faktor keberlanjutan, termasuk penggunaan energi bersih dalam proses produksi. “Kita melihat investor global mulai memperhatikan aspek ESG dan kebutuhan energi rendah karbon dalam menentukan arah investasi,” katanya.
Salah satu sektor yang paling jelas memperlihatkan keterkaitan antara energi dan industrialisasi adalah ekosistem baterai kendaraan listrik. Indonesia memiliki modal berupa sumber daya mineral strategis yang menjadi bahan baku industri baterai. Namun, tantangan terbesar adalah memastikan komoditas tersebut tidak berhenti pada tahap ekstraksi atau pengolahan awal.
Aditya Farhan Arif, Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC) mengatakan pembangunan industri baterai harus dilakukan secara terintegrasi. “Kalau kita bicara baterai, kita tidak bisa melihat hanya dari sisi produk akhirnya. Kita harus membangun ekosistem dari hulu sampai hilir,” ungkap Aditya.
Menurutnya, komponen seperti nikel, aluminium, dan tembaga menjadi bagian penting dalam rantai industri baterai. “Kita memiliki sumber daya yang menjadi fondasi utama untuk membangun industri baterai, tetapi tantangannya adalah bagaimana menciptakan nilai tambah di dalam negeri,” sambungnya.
Sementara itu, Emmanuel Jefferson, Chief Executive Officer SUN Energy mengatakan permintaan energi surya terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan perusahaan terhadap energi rendah karbon.
“Energi terbarukan sekarang bukan lagi hanya pilihan, tetapi mulai menjadi kebutuhan bagi industri yang ingin menjaga daya saing,” ujar Emmanuel.
Menurut Emmanuel, penggunaan energi surya dapat membantu industri memenuhi kebutuhan energi sekaligus mendukung target keberlanjutan perusahaan.
Perubahan tersebut juga memaksa kawasan industri beradaptasi. Kawasan industri tidak lagi cukup hanya menawarkan lahan, infrastruktur, dan konektivitas. Ketersediaan energi bersih mulai menjadi bagian dari daya tarik investasi.
Haris Arianto, Division Head of Smart-Eco Industrial Park Development, Kawasan Industri KIIC mengatakan kawasan industri kini tidak hanya bersaing dari sisi lokasi dan infrastruktur, tetapi juga keberlanjutan. “Kawasan industri ke depan harus mampu menyediakan ekosistem yang mendukung kebutuhan investor, termasuk dari sisi energi bersih dan keberlanjutan,” ujar Haris.
Menurutnya, konsep smart eco industrial park menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan daya saing kawasan industri Indonesia. “Kami melihat investor semakin mempertimbangkan bagaimana kawasan industri dapat mendukung operasional yang lebih efisien dan ramah lingkungan,” katanya.
3.000 GW EBT Jangan Hanya Jadi Potensi
Besarnya potensi EBT Indonesia harus bisa dimonetisasi. Kebutuhan investasi, teknologi, infrastruktur, kemampuan industri domestik, hingga penguasaan rantai pasok global akan menentukan apakah energi hijau benar-benar mampu menjadi mesin pertumbuhan baru.
Imaduddin Abdullah, Direktur Kolaborasi Internasional INDEF mengatakan Indonesia perlu memastikan transisi energi mampu menghasilkan manfaat ekonomi yang lebih luas.
“Yang menjadi tantangan adalah bagaimana potensi besar tersebut dapat diterjemahkan menjadi aktivitas ekonomi yang memberikan nilai tambah,” ujar Imaduddin.
Menurutnya, keberhasilan transisi energi tidak hanya diukur dari kapasitas energi bersih yang dibangun, tetapi juga dari kemampuan menciptakan industri domestik yang kompetitif. “Indonesia perlu memastikan bahwa transformasi energi ini tidak hanya menjadi perubahan sumber energi, tetapi juga menjadi transformasi ekonomi,” katanya. (RI)





Komentar Terbaru