JAKARTA – PT Pertamina (Persero) melalui Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) menyiapkan sejumlah langkah untuk mendukung pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dalam mengejar target penambahan kapasitas energi surya hingga 100 gigawatt peak (GWp).

John Anis, Direktur Utama Pertamina NRE mengatakan, salah satu tantangan utama dalam pengembangan PLTS, khususnya pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) ground mounted, adalah ketersediaan lahan. Untuk itu Pertamina NRE mengkaji untuk memanfaatkan lahan-lahan di wilayah operasi Pertamina.

Menurut dia, kebutuhan lahan untuk PLTS harus menjadi perhatian karena penggunaan lahan di Indonesia juga bersaing dengan berbagai sektor lain, seperti properti dan perkebunan.

“Kalau kita kan negara yang kepulauan ya, lahan itu berebut-rebut nih antara properti, perkebunan dan lain sebagainya. Jadi kita harus juga jangan underestimate nih masalah lahan,” katanya.

Karena itu, Pertamina NRE akan mengidentifikasi dan menyiapkan lahan yang dimiliki Pertamina maupun membuka peluang kerja sama pemanfaatan lahan milik instansi lain.

“Jadi kita akan coba dengan lahan-lahan yang punya Pertamina dan juga dari instansi lain kita coba lihat untuk dikerjasamakan supaya nanti kalau memang ada kebutuhan lahan sudah bisa siap,” ujar John disela The 12th IndoEBTKE ConEx 2026, Rabu (2/9).

John menilai ketersediaan lahan menjadi faktor penting dalam pembangunan PLTS ground mounted. Jika lahan tidak tersedia, pengembang harus mencari alternatif seperti PLTS terapung atau floating solar. Namun mengandalkan PLTS terapung juga tidak tepat karena tantangannya juga tidak sedikit.

“Karena kalau ground mounted gak ada lahan ya memang agak susah, tentu saja kita nanti harus cari solusi lainnya yang floating misalkan. Tapi kadang-kadang juga terbatas, nggak ada danau atau jauh dari pantai,” jelasnya.

Selain ground mounted dan floating solar, Pertamina NRE juga akan mengembangkan PLTS rooftop. Namun, John menyebut pengembangan rooftop juga memiliki keterbatasan karena tidak semua wilayah memiliki bangunan dengan kapasitas atap yang memadai untuk pemasangan panel surya. Untuk itu penyiapan lahan menurut John jadi hal yang paling diperhatikan.

“Rooftop memang juga akan dilakukan tapi mungkin di daerah tertentu rooftopnya juga gak ada. Nah ini lahan kita menjadi fokus dari Pertamina kita akan siapkan dan selalu siap,” tegas John.

Dorong Industri Panel Surya

Selain tantangan lahan, Pertamina NRE juga melihat penguatan industri dalam negeri sebagai bagian penting dalam pengembangan ekosistem energi surya nasional.

John mengatakan, Indonesia perlu mendorong masuknya teknologi dan industri dari luar negeri sekaligus meningkatkan kemampuan penguasaan teknologi di dalam negeri. Pertamina sendiri mulai mengembangkan kemampuan di sektor panel surya dan secara bertahap akan memperluas penguasaan teknologi hingga ke sisi hulu.

“Mungkin tidak semua tapi sebagian. Jadi kita udah mulai untuk panelnya dan mungkin kita akan coba juga ini lagi berproses untuk terus ke upstream,” ujar John.

John juga menekankan pentingnya pengembangan teknologi baterai seiring dengan peningkatan kapasitas pembangkit energi surya.

Menurut dia, karakteristik energi surya yang bersifat intermittent atau tidak berproduksi secara konstan membuat sistem kelistrikan membutuhkan dukungan penyimpanan energi dan teknologi stabilisasi jaringan.

“Baterai tadi juga nggak kalah penting karena kalau ada solar panelnya tapi tanpa baterai, tadi Bu Dirjen menyampaikan terkait jaringan, nah ini kan repot nih kalau misalkan sangat intermittent karena kan matahari tiba-tiba redup ambles, langsung besar penurunannya dan ini untuk jaringannya akan repot,” jelas John.

Karena itu, baterai dinilai tidak hanya penting sebagai penyimpanan energi, tetapi juga untuk membantu menjaga stabilitas sistem kelistrikan.

“Jadi baterai untuk apakah stabilisasi atau untuk juga penyediaan storage tadi itu juga kita di IBC, kita punya saham di situ dan kita akan mendorong terus juga IBC berbasis nickel,” ujar John.

John menyebut Indonesia memiliki keunggulan dari sisi ketersediaan nikel yang dapat menjadi basis pengembangan industri baterai dalam negeri.

“Nah ini PR-nya bagaimana bisa kompetitif, tapi mungkin dengan skala besar kita bisa kompetitif,” tegas John. (RI)