PAGI hari di 17 Agustus 2026 bukan pagi yang biasa bagi tim Dunia Energi karena selain ikut dalam upacara kenaikan bendera Merah Putih di tanah Banggai juga bisa menyaksikan langsung proses pemuatan LNG ke kapal di dermaga Donggi Senoro LNG (DSLNG). Tidak jauh dari dermaga kesempatan langka lain hadir yaitu melihat langsung hewan endemik di Sulawesi Tengah yang keberadaanya menurut klasifikasi IUCN Red List berstatus Endangered (EN) atau Terancam Punah, burung Maleo.

Boleh dibilang DSLNG jadi inisiator konservasi burung Maleo di Indonesia dengan membangun area konservasi khusus burung Maleo tidak jauh dari lokasi kilang LNG. Keberadaan burung Maleo di sekitar wilayah operasi jadi bukti terjaganya lingkungan di sekitar area pengolahan LNG.

Awal program bukan dengan mengambil indukan maleo dari alam melainkan menetaskan telur-telur maleo hasil sitaan BKSDA. Setelah menetas, anak maleo dipelihara sementara sampai cukup kuat untuk dikembalikan ke alam. Dalam konservasi maleo, DSLNG juga memiliki inkubator khusus untuk menetaskan telur burung Maleo.

Maleo tidak seperti burung pada umumnya yang kita ketahui, punya sayap dan bisa terbang. Mereka tidak membuat sarang di dahan. Satwa endemik Sulawesi ini justru mengandalkan panas alami tanah untuk menetaskan telurnya. Karena itu, keberadaan habitat menjadi bagian tak terpisahkan dari keberlangsungan spesies yang kini menghadapi tekanan populasi dan perubahan lingkungan. Makanan utamanya adalah biji kemiri serta biji-biji lainnya. Untuk itu dia sangat bergantung akan kelestarian hutan.

Bagi DSLNG, menjaga Maleo bukan sekadar menjaga satu jenis burung. Ada sejarah, kebiasaan masyarakat, hingga tradisi adat yang ikut bersinggungan dengan keberadaan telur Maleo.

Berkatdo Saragih, CSR Supervisor DSLNG mengatakan berdasarkan data yang menjadi acuan program konservasi, populasi Maleo di dunia diperkirakan hanya sekitar 7.000 pasang pada 2021. Awal konservasi dimulai ada belasan Maleo yang masuk serta beberapa butir telur. Kini di area konservasi tersisa 22 individu Maleo yang umurnya cukup tua untuk jenis burung bahkan ada yang mencapai 15 tahun. Mereka sudah tidak bisa lagi dilepas liarkan sehingga dijadikan objek untuk sarana edukasi dan memperkenalkan Maleo kepada masyarakat, karena masih banyak yang belum tahu seperti apa Maleo padahal sudah menjadi maskot Kabupate Banggai.

Melepasliarkan Maleo ternyata bukan burung yang sudah dewasa melainkan yang masih berumur 4-10 minggu setelah menetas dari telur. Ini dilakukan agar individu tersebut bisa berbaur dengan habitatnya. Setelah menetas, anak maleo memang diketahui langsung mampu bergerak dan mencari makan sendiri. Ini berbeda dengan banyak jenis burung yang anaknya masih sangat bergantung pada induk. Sejak dimulai tahun 2013 konservasi Maleo DSLNG sudah melepasliarkan ratusan individu Maleo.

Pak Mustar, petugas area konservasi Maleo bersama telur burung Mareo di alat inkubator. (Foto/Dok/Dunia Energi – Rio Indrawan)

“Mulai konservasi 2013, awalnya belasan. Sekarang sudah 127 ekor yang kita lepasliarkan,” kata Berkatdo saat ditemui awak media, termasuk Dunia Energi di Area Konservasi Maleo, Senin (17/8).

Tantangan menjaga Maleo cukup beragam. Dari sifat aslinya tantangan sudah menanti. Dari sisi perilaku reproduksinya, Maleo tidak membangun sarang dan mengerami telur seperti ayam atau burung pada umumnya. Induk datang ke lokasi peneluran, menggali lubang, meletakkan telur, kemudian meninggalkannya.

Sifatnya seperti penyu, jadi kapanpun Maleo mau bertelur dia akan datang ke lubang atau lokasi yang sama. Ini tentu memudahkan bagi para predator hanya menanti di sekitar lokasi yang sama.

Maleo dikenal sebagai burung yang cenderung monogami dan hidup berpasangan. Dalam proses reproduksi, jantan dan betina datang bersama ke lokasi peneluran sebelum betina menggali lubang dan meletakkan telurnya.

Antara Warisan Banggai dan Konservasi

Persoalan maleo di Banggai tidak berhenti pada habitat. Telurnya juga memiliki hubungan spesial dengan tradisi masyarakat Banggai turun temurun. Kehadiran Maleo bagi masyarakat adat Banggai dimaknai dengan momentum sakral yang sudah berlangsung selama ratusan tahun.

Berkatdo menceritakan, di wilayah Banggai Laut dan Banggai Daratan terdapat tradisi Tumpe yang telah berlangsung selama ratusan tahun dan melibatkan telur Maleo. Dalam tradisi tersebut, telur Maleo menjadi bagian dari prosesi adat dan telur pertama dibawa ke Keraton Banggai Laut.  Telur Maleo tersebut secara adat diserahkan kepada masyarakat adat sebagai bagian dari penghormatan terhadap leluhur dan alam. “Setiap tahun telur Maleo dibawa ke Keraton Banggai Laut,” katanya.

Tradisi yang diwariskan lintas generasi itu membuat konservasi Maleo memiliki tantangan tersendiri. Di satu sisi, masyarakat memiliki ikatan budaya dengan Maleo. Di sisi lain, populasi satwa tersebut harus terus dijaga agar tidak semakin berkurang.

“Tahun lalu ada 100 butir telur untuk perayaan adat. Jadi bagaimana mempertahankan yang ada, terutama di habitat asli Maleo,” cerita Berkatdo.

DSLNG melakukan pendekatan konservasi tidak biasa dan atau yang hanya mengandalkan larangan. Ada kebutuhan untuk memahami tradisi serta tentu saja melibatkan masyarakat.

Anak-anak juga harus mengenal Maleo dan sekolah menjadi bagian lain dari upaya memperkenalkan Maleo kepada generasi muda. Sebab, konservasi dalam jangka panjang tidak hanya membutuhkan fasilitas, tetapi juga pengetahuan dan kepedulian masyarakat yang hidup berdampingan dengan habitat satwa. Tercatat ratusan siswa – siswa datang setiap tahun ke area konservasi untuk mengenal Maleo maupun mengetahui bisnis operasi industri migas.

DSLNG juga melakukan studi selama dua tahun bersama Profesor Mobius Tanari yang dikenal lama meneliti konservasi burung Maleo. Disertasinya di IPB membahas karakterisasi habitat, morfologi dan genetik serta pengembangan teknologi penetasan ex-situ burung maleo untuk meningkatkan efektivitas konservasi.

Tujuan kerja sama ini jelas untuk memperkuat pengetahuan mengenai Maleo sehingga pendekatanmya nanti diarahkan pada satu tujuan: Maleo tidak selamanya bergantung pada fasilitas konservasi.

Konservasi Maleo yang digagas DSLNG mencatatkan capaian penting dalam dunia konservasi yakni pada Pada 2019, DSLNG berhasil menetaskan maleo generasi F1 (filial 1) dari hasil perkawinan indukan maleo yang sebelumnya dipelihara dalam konservasi ex-situ. Konservasi ex-situ merupakan program pelestarian hewan di luar habitat alaminya. Menurut Berkatdo pencapaian tersebut sebagai yang pertama dalam sejarah program konservasinya. Jadi telur tidak hanya disimpan di inkubator menetas jadi anak Maleo dan dilepasliarkan

“Tetapi berkembang menjadi penyelamatan telur, penelitian, penetasan, pemeliharaan indukan, perkawinan menetaskan F1 pelepasliaran Maleo. Jadi seperti ternak ayam lah secara gampangnya,” kata Berkatdo.

Pada akhirnya, melepasliarkan Maleo hanyalah satu bagian dari pekerjaan besar konservasi. Yang lebih penting adalah memastikan satwa tersebut memiliki tempat untuk kembali. Karena itu, DSLNG tidak hanya membangun pusat konservasi Maleo. Program biodiversitas perusahaan juga mencakup perlindungan kawasan.

Data perusahaan menunjukkan pada 2025 terdapat 334 hektare kawasan konservasi yang dilindungi. Sebanyak 7.278 flora dan fauna tercatat dalam kegiatan pemantauan.

Upaya tersebut mendapat pengakuan melalui Silver Award kategori Ecosystem Protection dalam program Controlled Breeding and Feeding Environment: Rekayasa Habitat Buatan Pada Spesies Endemik Burung Maleo (Macrocephalon maleo). Penghargaan diberikan pada 20 Agustus 2025 dalam The 7th Pioneer and Sustainability Award 2025 yang diselenggarakan Departemen Teknik Lingkungan Universitas Diponegoro.

Penghargaan bukanlah akhir dari pekerjaan. Maleo tetap harus memiliki habitat. Telurnya harus tetap ada. Anak-anak maleo harus tumbuh sehat. Masyarakat harus memahami mengapa satwa itu penting. Dan pada waktunya, Maleo yang tumbuh di kawasan konservasi harus kembali ke alam.