JAKARTA – PT Dairi Prima Mineral (DPM) menegaskan kesiapannya mengembangkan proyek tambang bawah tanah di wilayah yang memiliki tingkat aktivitas seismik tinggi dengan menerapkan berbagai langkah mitigasi risiko, mulai dari sistem tanggap darurat, edukasi masyarakat, hingga pemantauan kondisi geologi dan lingkungan secara berkala.
Widianto, Technical Manager Dairi Prima Mineral, mengatakan perusahaan menyadari lokasi tambang berada di kawasan yang rawan gempa. Karena itu, aspek mitigasi bencana menjadi bagian penting dalam perencanaan dan operasional tambang bawah tanah.
“Seperti yang kami sampaikan, memang tidak bisa dibungkiri bahwa area kami berada di daerah rawan gempa. Karena itu kami menyiapkan berbagai langkah mitigasi, mulai dari rencana tanggap darurat, edukasi kepada karyawan dan masyarakat sekitar, hingga sistem pemantauan untuk mendeteksi indikasi awal sehingga informasi dapat segera dikomunikasikan kepada komunitas,” ujar Widianto dalam diskusi bertemakan Tambang Bawah Tanah Modern “Perspektif Sains, Hukum, Teknologi dan Perlindungan Lingkungan” yang digelar E2S, Senin (27/72026).
Ia menegaskan, aktivitas penambangan yang dilakukan perusahaan tidak akan memicu terjadinya gempa bumi. Menurutnya, hal tersebut juga telah dikonfirmasi oleh pakar kegempaan yang terlibat dalam kajian proyek.
“Kami juga menekankan bahwa kegiatan kami tidak akan menimbulkan gempa. Bahkan kami sudah mengonfirmasi dengan Pak Profesor Iyan bahwa kegiatan blasting yang dilakukan dalam operasi tambang bawah tanah tidak akan menyebabkan gempa,” katanya.
Selain mitigasi terhadap potensi kegempaan, DPM juga menyiapkan pengelolaan sumber daya air secara menyeluruh. Sebelum kegiatan penambangan dimulai, perusahaan melakukan pemetaan seluruh sumber air di sekitar wilayah operasi sekaligus menyusun data rona awal sebagai acuan pemantauan lingkungan.
Menurut Widianto, pemantauan kualitas dan kuantitas air akan dilakukan secara berkala selama operasional tambang berlangsung untuk memastikan tidak terjadi penurunan kondisi lingkungan.
“Sebelum melakukan kegiatan, kami melakukan pemetaan sumber-sumber air di lingkungan areal kerja, kemudian menyusun data rona awal sebagaimana dilakukan dalam AMDAL. Setelah operasi berjalan, kami melakukan pemantauan secara berkala untuk memastikan kualitas maupun kuantitas air tidak mengalami degradasi,” ujarnya.
Apabila hasil pemantauan menunjukkan adanya penurunan kualitas maupun kuantitas air yang dipengaruhi kegiatan operasional, perusahaan telah menyiapkan langkah-langkah pengendalian serta pemeliharaan sebagai bagian dari komitmen menjaga lingkungan.
Sementara itu, Ahli Kegempaan sekaligus Guru Besar Ilmu Geologi Struktur Universitas Padjadjaran (Unpad), Iyan Haryanto, menegaskan bahwa aspek kegempaan telah menjadi salah satu pertimbangan utama dalam perencanaan tambang bawah tanah. Menurutnya, setiap desain penambangan selalu didasarkan pada kajian geologi dan geologi teknik yang komprehensif sehingga mampu mengantisipasi berbagai potensi risiko.
“Perencanaan penambangan itu selalu diawali dengan berbagai studi, salah satunya studi geologi dan geologi teknik. Dilakukan pemetaan terhadap batuan penyusun, kemudian dianalisis bagaimana struktur retakan pada batuan tersebut. Semua itu diperhitungkan, sehingga nantinya ahli tambang maupun ahli geologi teknik dapat merancang konstruksi tambang yang kuat dan tahan terhadap getaran, baik getaran akibat gempa bumi maupun akibat peledakan,” ujar Iyan.
Ia menjelaskan, para ahli ilmu kebumian telah memiliki metode dan standar untuk menghitung berbagai potensi bahaya geologi sebelum tambang dibangun. Dengan pendekatan tersebut, desain tambang dapat disesuaikan untuk meminimalkan risiko kebencanaan selama masa operasi.
“Ahli-ahli ilmu kebumian, baik di bidang pertambangan maupun geologi, sudah menghitung berbagai kemungkinan secara cermat sehingga potensi kebencanaan dapat diantisipasi dan tingkat risikonya diminimalkan,” kata Iyan.
Potensi sumber daya alam yang digarap DPM terbilang besar. Ada dua wilayah yang bakal digarap yakni Anjing Hitam dan Lae Jehe. Dari hasil kajian konversi sumber daya menjadi cadangan, Prospek Anjing Hitam memiliki cadangan 7,7 juta ton dengan kadar seng 12,5 persen dan timah hitam 7,3 persen. Sementara Prospek Lae Jehe memiliki cadangan sekitar 10 juta ton dengan kadar seng 6,4 persen dan timah hitam 3,8 persen.
Pada tahap produksi, DPM merencanakan pabrik pengolahan dengan kapasitas 1 juta ton bijih kering per tahun dari deposit Anjing Hitam. Hasil akhirnya berupa konsentrat seng, konsentrat timah hitam dan konsentrat sulfur yang akan dijual ke perusahaan pemurnian atau smelter.
Berdasarkan rencana produksi perusahaan, selama masa operasi total konsentrat kering yang dihasilkan diperkirakan mencapai 2,43 juta ton, dengan kandungan logam sekitar 473.895 ton timah hitam dan 821.150 ton seng. (RI)


Komentar Terbaru