JAKARTA – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mencatat realisasi produksi minyak, kondensat, dan Natural Gas Liquids (NGL) hingga 31 Mei 2026 mencapai 576,2 ribu barel minyak per hari (BOPD). Produksi tersebut terdiri dari minyak sebesar 491,3 ribu BOPD, kondensat 55,8 ribu BOPD, dan NGL 29,1 ribu BOPD.
Djoko Siswanto, Kepala SKK Migas menjelaskan fluktuasi produksi migas sepanjang lima bulan pertama tahun ini dipengaruhi sejumlah gangguan operasional pada beberapa aset utama yang menjadi tulang punggung produksi nasional.
“Untuk realisasi produksi, kalau kita lihat di grafik ini, Januari sangat rendah karena terjadi pipa putus (TGI) sehingga tujuh KKKS produksinya sempat berhenti,” kata Djoko di rapat dengan Komisi XII DPR RI beberapa hari lalu.
Sebenarnya masalah pada pipa TGI dengan cepat bisa teratasi sehingga produksi kembali meningkat di bulan Februari. Namun lagi-lagi masalah ditemui. Kali ini adalah masalah kelistrikan di pembangkit listrik blok Rokan, serta kondisi reservoir di Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu.
“Ada problem kelistrikan di PHR, dilanjutkan dengan penurunan produksi di Banyu Urip Blok Cepu, dimana dua blok migas ini yang merupakan penopang terbesar produksi nasional kita,” kata Djoko.
Berdasarkan data operasional SKK Migas, produksi gabungan minyak, kondensat, dan NGL pada Januari 2026 tercatat sebesar 528.099 BOPD. Setelah gangguan pipa berhasil diatasi, produksi meningkat menjadi 590.315 BOPD pada Februari dan mencapai puncaknya pada Maret sebesar 599.422 BOPD.
Memasuki kuartal kedua, produksi kembali mengalami penurunan menjadi 586.665 BOPD pada April dan 577.874 BOPD pada Mei.
Meski menghadapi berbagai tantangan operasional, SKK Migas tetap optimistis mampu mencapai outlook produksi 2026 sebesar 610 ribu BOPD. Berbagai upaya terus dilakukan bersama Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), mulai dari optimalisasi produksi sumur eksisting, percepatan pengeboran sumur pengembangan, hingga peningkatan keandalan fasilitas produksi.
Djoko menegaskan SKK Migas akan terus mengawal pelaksanaan program-program peningkatan produksi agar target lifting dan produksi migas nasional dapat tercapai serta mendukung ketahanan energi nasional.
“Kami terus melakukan berbagai upaya percepatan dan perbaikan operasi bersama KKKS agar produksi dapat terus ditingkatkan dan target tahun 2026 sebesar 610 ribu BOPD dapat dicapai,” ujar Djoko. (RI)



Komentar Terbaru