JAKARTA – PT Patra Drilling Contractor (PDC) tengah menyiapkan langkah efisiensi di tengah lonjakan harga BBM industri. Anak usaha Pertamina yang ditunjuk sebagai champion heavy equipment ini akan menguji coba dual fuel system pada alat berat miliknya mulai tahun ini.
“PDC ini kan ditunjuk Pertamina sebagai champion untuk heavy equipment. Jadi kalau cari heavy equipment paling lengkap ya ada di PDC,” ungkap Agam Munawar, Direktur Operasi & Marketing PDC, saat ditemui Dunia Energi di kantornya, Jakarta Selasa (26/5/2026).
Namun, di tengah kondisi pasar yang belum terlalu besar, PDC memilih tidak menambah unit baru. Strategi yang diambil adalah mengefisienkan konsumsi BBM alat berat eksisting. Pasalnya, biaya operasional satu unit bisa mencapai Rp 7 juta per hari, sementara kenaikan harga solar industri sangat signifikan. Di sisi lain, kontrak PDC rata-rata bersifat fix sehingga tekanan biaya makin terasa.
Agam menjelaskan bahwa PDC akan menerapkan dual fuel system dengan menginjeksikan gas CNG ke ruang bakar bersama solar. Sistem ini menggunakan converter kit sehingga solar dan gas terbakar bersamaan. Hasilnya, konsumsi solar bisa ditekan signifikan.
“Bisa ngurangi sampai 40% per unit. Karena solar tetap diperlukan untuk menghasilkan torque besar, sementara CNG belum bisa seperti itu. Karburatornya memang didesain untuk solar, ini cuma dimodif,” jelasnya.
Untuk tahap awal, PDC akan memasang di 2 unit pilot yaitu trailer dan excavator. Pemilihan unit didasarkan pada aspek keamanan. Unit yang tidak digunakan untuk pengangkatan dipilih lebih dulu untuk menghindari risiko jika terjadi masalah pada sistem bakar. “Kalau bermasalah dia berhenti, artinya aman buat lingkungan. Nanti kalau sudah oke baru naik ke unit angkat,” kata Agam.
Pengujian akan dilakukan selama 1 bulan untuk memastikan keandalan sistem. “Bisa jadi dua-tiga hari oke, tapi minggu ketiga masalah. Jadi kita uji sebulan. Kalau tidak ada masalah kita replikasi jadi 20 unit,” ujar Agam.
Investasi US$ 20.000 Per Unit
Agam menyebut total heavy equipment yang dimiliki PDC sekitat 50 unit. Investasi converter kit mencapai US$ 20.000 per unit. Jika pilot project sukses tanpa masalah operasi signifikan, PDC menargetkan seperempat armada atau sekitar 20 unit dipasang dual fuel hingga akhir 2026.
“Kenapa nggak langsung 100%? Karena ada keterbatasan penyiapan converter kit. Kalau kit-nya tersedia sesuai jumlah unit, kenapa nggak 100%. Tapi sekarang kita konservatif dulu,” kata Agam.
PDC akan melakukan pengadaan CNG sendiri. Ke depan, manajemen melihat peluang sinergi dengan program pemerintah terkait monetisasi sumur idle. Pasalnya, dengan pasar CNG ritel, gas dari sumur idle bisa langsung disedot pakai kompresor mobile tanpa perlu fasilitas mahal.
“Pemerintah punya program untuk sumur idle. Banyak sumur yang fasilitasnya sudah di-dismantel. Kalau ada market CNG ritel, tinggal bawa mobil kecil, sedot gasnya, masukin tabung, jual. Jadi peluang juga ke depannya,” ujarnya.
Agam mengatakan 70% portofolio bisnis perusahaan berasal dari manpower supply, sementara heavy equipment menyumbang sekitar 20%. Dari bisnis alat berat, komponen BBM berkontribusi sekitar 15% dari total biaya unit. Dengan harga solar industri yang kini hampir dua kali lipat, efisiensi bahan bakar menjadi krusial.
“Pukulannya sangat berat, sementara kontrak kita rata-rata fix. Jadi sekarang kita berpikir apa yang bisa kita lakukan untuk mengefisienkan fuel,” pungkas Agam.(RA)



Komentar Terbaru