JAKARTA – Upaya peningkatan produksi minyak nasional terus digenjot di tengah tren penurunan produksi dari sejumlah lapangan utama. Hingga akhir 2026, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menargetkan pengeboran 617 sumur pengembangan yang berpotensi memberikan tambahan produksi rata-rata 100 hingga 200 barel minyak per hari (bopd) per sumur.

Djoko Siswanto, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), mengatakan program pengeboran dan intervensi sumur menjadi salah satu strategi utama untuk menjaga bahkan meningkatkan produksi migas nasional.

“Insya Allah kegiatan pengeboran dan workover selanjutnya juga bisa mendapatkan hasil yang lebih besar dari target,” ujar Djoko dalam keterangannya kepada Dunia Energi, Selasa (2/6).

Optimisme tersebut didukung oleh sejumlah hasil operasi yang melampaui target, salah satunya dari kegiatan well intervention pada sumur AKP-002 di Field Jatibarang, Jawa Barat.

Kegiatan tersebut dimulai pada 11 Mei 2026 menggunakan rig berkekuatan 550 HP. Lokasi sumur AKP-002 berada di Field Jatibarang dengan objektif utama melakukan re-perforasi lapisan GL pada interval 2.340–2.346 meter measured depth (mMD), perforasi lapisan CGL pada interval 2.334,5–2.340 mMD, serta pekerjaan CTU solvent dan unload menggunakan nitrogen (N2).

Secara operasional, pekerjaan sumur dilakukan menggunakan Rig ADI#12 dengan total durasi pengerjaan selama 17 hari. Pada 28 Mei 2026, rig dinyatakan selesai bekerja (release) dan dilanjutkan dengan uji produksi.

Hasilnya, sumur AKP-002 mampu mencatatkan laju alir akhir sebesar 2.546 BOPD secara natural flow, jauh melampaui target awal sebesar 896 BOPD atau hampir tiga kali lebih tinggi dari target yang ditetapkan. Selain itu, sumur tersebut juga langsung dapat diproduksikan atau put on production (POP) setelah pekerjaan selesai dilaksanakan.

Keberhasilan tersebut menjadi sinyal positif bagi upaya peningkatan produksi nasional yang saat ini menghadapi tantangan penurunan produksi alamiah (natural decline) dari sejumlah lapangan besar.

Produksi minyak nasional dalam beberapa tahun terakhir tertekan akibat penurunan produksi di sejumlah aset utama, termasuk lapangan-lapangan di wilayah kerja PT Pertamina Hulu Rokan di Riau serta lapangan minyak yang dioperasikan ExxonMobil di Blok Cepu. Kondisi tersebut membuat pemerintah dan SKK Migas semakin agresif menjalankan program pengeboran baru, workover, serta perawatan sumur untuk menahan laju penurunan produksi nasional.

Selain 617 sumur pengembangan, hingga akhir 2026 SKK Migas juga menargetkan pengeboran 34 sumur eksplorasi, yang diharapkan menghasilkan sejumlah penemuan (discovery) baru baik minyak maupun gas, terutama di wilayah offshore Kalimantan Timur dan Papua.

Tidak hanya itu, industri hulu migas nasional juga akan melaksanakan 564 kegiatan workover yang ditargetkan mampu memberikan tambahan produksi rata-rata sekitar 20 BOPD per sumur, serta 25.265 kegiatan well service/perawatan sumur dengan potensi tambahan rata-rata sekitar 10 BOPD per sumur.

Kombinasi program eksplorasi, pengeboran pengembangan, workover, dan perawatan sumur menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan produksi migas nasional sekaligus mendukung target peningkatan lifting minyak dan gas bumi yang dicanangkan pemerintah.

Dengan sejumlah program tersebut, SKK Migas berharap kontribusi tambahan produksi dari berbagai lapangan migas di Indonesia dapat mengimbangi laju penurunan alamiah lapangan-lapangan tua dan memperkuat ketahanan energi nasional.