JAKARTA – Sejalan dengan upaya Pemerintah mengejar target besar pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 Gigawatt (GW), PT Trina Mas Agra Indonesia (TMAI) memperkuat infrastruktur dengan pabrik Solar Cell berkapasitas 1 GW dengan teknologi TOP-CON terkini dan pabrik solar module (panel surya) berkapasitas 1 GW, dengan ukuran 720 Wp per panel dan efisiensi mencapai 23,3%.
Melalui investasi senilai lebih dari US$ 100 juta, TMAI telah mengoperasikan fasilitas manufaktur terintegrasi yang memproduksi sel surya (solar cell) secara domestik. Langkah ini merupakan bukti hilirisasi nyata, di mana industri nasional tidak lagi terbatas pada perakitan bingkai (frame), melainkan telah menguasai teknologi inti sel surya melalui teknologi N-type i-TOPCon Advanced. Keberadaan pabrik panel surya terintegrasi dan termodern dengan tingkat TKDN hingga 60% merupakan yang pertama di Indonesia ini menjadi fondasi bagi pembangunan industri yang benar-benar mandiri dan berdaya saing global.
Wakil Direktur Utama PT Trina Mas Agra Indonesia, Lokita Prasetya, menyampaikam dukungan penuh pada target 100 GW PLTS sebagai pendorong utama industrialisasi hijau nasional.
“Kehadiran pabrik terintegrasi TMAI di Kendal merupakan langkah nyata kami agar nilai tambah ekonomi dari transisi energi ini sepenuhnya dibuat dan dinikmati di dalam negeri. Melalui penguasaan teknologi sel surya dari hulu, kita tidak hanya memperkuat pencapaian TKDN yang tinggi, tetapi juga membangun kemandirian teknologi yang memposisikan Indonesia sebagai pemain kunci dalam rantai pasok energi hijau global,” ujarnya dalam keterangan resmi yang dikutip Senin (11/5).
Lokita menyebut selain aspek ekonomi, manufaktur lokal berperan vital dalam memperpendek rantai logistik sehingga distribusi komponen menjadi lebih cepat dan responsif. “Dengan memangkas waktu tunggu pengiriman internasional menjadi distribusi domestik yang lebih singkat, keberadaan basis produksi di dalam negeri mempermudah jangkauan ke berbagai wilayah pelosok,” ujarnya.
Kehadiran basis produksi domestik ini sejalan dengan agenda Pemerintah untuk mengakselerasi pembangunan PLTS di berbagai wilayah, termasuk daerah terpencil, sehingga distribusi energi hijau menjadi lebih efisien. Dengan ketersediaan pasokan yang lebih dekat dan responsif, TMAI turut berkontribusi dalam mewujudkan keadilan energi agar manfaat teknologi surya dapat dirasakan secara merata dari Sabang hingga Merauke. Langkah strategis ini sekaligus memperkuat visi besar Indonesia untuk bertransformasi menjadi pusat industri hijau yang kompetitif di kawasan Asia Tenggara.
TMAI beroperasi melalui kolaborasi strategis antara sektor swasta, yakni PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan Trina Solar Co, bersama BUMN melalui PT PLN Indonesia Power Renewables. Sinergi ini menjamin pengembangan industri hijau nasional berjalan selaras dengan kepentingan publik, mematuhi regulasi secara ketat, serta memastikan tata kelola yang inklusif. Melalui industri yang berdaulat dan padat karya ini, Indonesia bertransformasi dari sekadar konsumen menjadi produsen utama sekaligus pusat inovasi energi surya di kawasan Asia Tenggara.
Didirikan pada tahun 2023, PT Trina Mas Agra Indonesia merupakan perintis pembuatan modul PV surya terintegrasi di Indonesia dan yang pertama mencapai produksi kapasitas puncak 1 GW untuk sel dan modul PV. Perusahaan kolaborasi antara Trina Solar Co, Ltd, PT Daya Sukses Makmur Selaras (anak usaha dari PT Dian Swastatika Sentosa Tbk), dan PT PLN Indonesia Power Renewables ini menargetkan mencapai kapasitas produksi puncak 3 GW dalam 2-3 tahun ke depan.(RA)



Komentar Terbaru