JAKARTA – Pemerintah mengklaim selesainya Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan pada awal tahun ini membawa berkah tersendiri ditengah gejolak sektor energi dunia. Kilang Balikpapan kini jadi andalan Indonesia untuk mengolah lebih banyak minyak mentah dari berbagai sumber untuk memproduksi BBM.
Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), mengungkapkan RDMP Balikpapan membuat strategi pengadaan energi Indonesia berubah dengan kini bakal lebih banyak melakukan impor crude ketimbang produk jadi atau BBM.
“Yang kita kedepan impor yang paling banyak itu crude oil (minyak mentah). Sementara yang untuk BBM yang RON 90, 95, 98 dan 93, sebagian kita produksi di dalam negeri, sebagian kita impor dari negara Asia Tenggara,” kata Bahlil dalam konferensi pers, Selasa malam (1/4).
Perang yang berkecamuk di timur tengah memang memberikan dampak tersendiri bagi pasokan minyak mentah dunia termasuk Indonesia. Namun Bahlil mengklaim Indonesia telah mengamankan sumber pasokan minyak mentah baru. Berdasarkan informasi daru Ditjen Migas, Indonesia memang telah mendapatkan kepastian sumber pasokan minyak mentah dari Amerika Serikat dan Afrika.
“InsyaAllah nggak perlu ada keraguan lagi untuk mengganti dari Middle East, sudah kita dapat,” ujar Bahlil.
Dia menjelaskan kemampuan kilang Balikpapan setelah melalui fase RDMP sangat dibutuhkan untuk kondisi saat ini. Selain mampu mengolah berbagai jenis minyak mentah yang ada di belahan dunia, Pertamina juga meningkatkan kapasitas pengolahan kilang Balikpapan. “RDMP yang di balik papan itu menghasilkan 5,6 juta kiloliter bensin dan kurang lebih sekitar 4,5 juta kiloliter solarm” jelas Bahlil.
Pemerintah mengamini bahwa lebih dari 20% pasokan minyak mentah yang diimpor Indonesia berasal dari timur tengah. Gangguan pasokan dari sana akibat perang membuat Indonesia kini mencari alternatif lain pasokan minyak mentah.



Komentar Terbaru