JAKARTA – Proses negosiasi penjualan LNG dari proyek Abadi Blok Masela semakin mengerucut. Dari puluhan calon pembeli internasional, kini tersisa lima perusahaan pemain kelas kakap bisnis gas yang menjadi kandidat kuat pembeli gas alam cair atau LNG Masela.
Djoko Siswanto, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), mengungkapkan proses negosiasi telah berlangsung panjang dan melibatkan berbagai calon pembeli dari sejumlah negara. Negosiasi lanjutan penjualan LNG Masela ke international buyer dari 66 calon buyer mengerucut jadi 40, kemudian 9 buyer dan terakhir tinggal 5 buyer.
“Kelima calon pembeli tersebut adalah Osaka Gas, Kyushu Electric Power, Shell trading, bp Trading, serta Chevron Trading,”ujar Djoko dalam keterangannya kepada Dunia Energi, Sabtu (14/3).
Djoko menjelaskan, proses negosiasi terakhir dilakukan di kantor bp dan Shell di Singapura serta di Tokyo, Jepang. Dalam pertemuan tersebut, tim teknis dari Inpex Corporation, Petronas, dan Pertamina bersama para calon pembeli membahas sejumlah ketentuan utama atau key terms kontrak LNG.
“Pihak penjual dan pembeli secara resmi telah mengajukan proposal final harga LNG masing-masing, yang perbedaannya tinggal sekitar ±0,2 % dari harga minyak Brent,” jelasnya.
Menurut Djoko, rata-rata penawaran harga dari para calon pembeli berada di kurang lebih sekitar 12% dari harga Brent. Sementara pihak penjual tetap menawarkan harga di atas asumsi harga yang tercantum dalam Plan of Development (POD).
Dalam negosiasi kali ini, para calon pembeli juga memberikan apresiasi karena untuk pertama kalinya Kepala SKK Migas memimpin langsung proses negosiasi bersama Inpex, Pertamina, dan Presiden Direktur Petronas dengan para buyer di Singapura.
Dalam POD proyek Masela disebutkan bahwa sekitar 60 persen produksi LNG akan dialokasikan untuk ekspor, sementara 40 persen lainnya diserap pasar domestik.
Djoko mengatakan, posisi tawar pemerintah saat ini cukup kuat karena Indonesia juga memiliki opsi untuk mengalihkan seluruh pasokan LNG ke pasar dalam negeri apabila kesepakatan harga dengan pembeli internasional tidak tercapai.
“Apabila pihak international buyer tidak dapat menerima tawaran harga dari pihak penjual maka seluruh LNG akan diserap untuk kepentingan domestik melalui PGN demi ketahanan dan kemandirian energi Indonesia di masa datang,” ujarnya.
Ia menambahkan, dalam skenario tersebut Perusahaan Gas Negara (PGN) berpotensi menjadi pembeli utama LNG Masela di dalam negeri.
“PGN kali ini bisa menjadi pahlawan bagi negeri dan naik tingkat setara dengan traditional buyer kelas dunia seperti JERA Jepang, bp Trading, dan Chevron Trading,” kata Djoko.
SKK Migas juga telah menetapkan tenggat waktu bagi para calon pembeli untuk memutuskan kesepakatan harga paling lambat bulan depan. Targetnya, dokumen kesepakatan awal berupa Head of Agreement (HOA) atau Gas Sales Agreement (GSA) dapat ditandatangani pada ajang IPA Convention & Exhibition 2026 pada Mei 2026 di hadapan Menteri ESDM dan Presiden RI.
Pada ajang IPA tahun lalu, pemerintah telah menandatangani HOA non-binding antara pembeli domestik, yakni Perusahaan Listrik Negara, PGN, dan Pupuk Indonesia dengan Inpex Masela.
Setelah penandatanganan HOA atau GSA yang bersifat binding, tahap berikutnya adalah negosiasi dengan lembaga keuangan untuk pembiayaan proyek Abadi Masela. Pemerintah menargetkan keputusan investasi final (Final Investment Decision/FID) proyek tersebut dapat ditandatangani pada Desember 2026.



Komentar Terbaru