PRABUMULIH – PT Pertamina EP (PEP) Asset 2 Zona 4 Prabumulih di Sumatera Selatan, menuntaskan kegiatan well service (WS) reparasi pada sumur BEL-53 di Lapangan Limau, Kabupaten Muara Enim yang sudah dimulai sejak 8 Februari 2026 dan dinyatakan selesai pada 21 Februari 2026.
Berdasarkan hasil uji produksi, sumur BEL-53 mencatatkan laju alir awal (initial rate) sebesar 437 barel minyak per hari (bph), melampaui target yang ditetapkan sebesar 250 bph.
Sumur BEL-53 kini dinyatakan sebagai sumur produksi minyak dari lapisan “S” dan “W0” pada kedalaman 1.530–1.535 meter measured depth (mMD) dan 1.561,5–1.565 mMD. Target objektif kegiatan well service ini adalah additional perforation atau penambahan lubang perforasi pada lapisan “S” (1.530–1.535 mMD).
Secara operasional, pekerjaan dilakukan menggunakan Rig GBT-08 (350 HP) dengan total waktu pengerjaan selama 14 hari. Estimasi biaya berdasarkan field estimate tercatat sebesar US$69.449 atau sekitar 83 persen dari total Authorization for Expenditure (AFE) senilai US$84.108 yang telah disetujui oleh SKK Migas.
Djoko Siswanto, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) mengungkapkan optimalisasi sumur eksisting melalui kegiatan well service menjadi salah satu strategi utama menjaga tingkat produksi nasional.
“Pada tahun 2026 telah disetujui dan ditandatangani WP&B (Work Program & Budget) oleh Kepala SKK Migas untuk dilaksanakan oleh seluruh KKKS, di mana di dalamnya terdapat 38.317 pekerjaan well service,” ujar Djoko kepada Dunia Energi, Senin (23/2).
Realisasi produksi dari sumur BEL-53 menjadi contoh nyata kegiatan WS bisa efektir meningkatkan produksi minyak yang saat ini sangat dibutuhkan. Menurut Djoko, kontribusi kecil dari setiap kegiatan well service akan berdampak signifikan terhadap produksi nasional.
“Mohon dukungan dan doa Bapak Ibu semua supaya setiap kegiatan well service sedikitnya tiap satu kegiatan dapat menghasilkan tambahan satu BOPD saja, maka akan didapatkan tambahan produksi 38.317 bph,” kata Djoko.
Menurutnya, tambahan produksi tersebut diharapkan mampu menahan laju penurunan produksi alamiah (natural decline) yang selama ini menjadi tantangan utama industri hulu migas.
Dengan capaian sumur BEL-53 yang melampaui target, kegiatan well service dinilai tetap menjadi salah satu instrumen cepat dan efisien dalam mendongkrak produksi, sekaligus mengoptimalkan aset eksisting di tengah upaya menjaga ketahanan energi nasional. “Diharapkan penurunan produksi secara alamiah dapat diatasi dengan kegiatan Well Service ini,” ungkap Djoko. (RI)





Komentar Terbaru