JAKARTA – PT Pertamina (Persero) melalui PT Pertamina Hulu Rokan akan segera mengelola salah satu kontributor produksi minyak terbesar di Indonesia, Blok Rokan. Benny Lubiantara, Deputi Perencanaan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), mengatakan di wilayah kerja manapun isu yang kritikal menjelang kontrak berakhir adalah bagaimana supaya kegiatan pengembangan lapangan melalui pengeboran tetap berlangsung menjelang kontrak berakhir. Tanpa ada aktivitas tersebut, produksi akan cenderung “terjun bebas”.

“Tentunya tidak mudah bagi operator berikutnya untuk mengembalikan tingkat produksi yang keburu anjlok tersebut,” kata Benny kepada Dunia Energi, Jumat (6/8).

Menurut Benny, untuk Blok Rokan yang merupakan salah satu kontributor utama lifting minyak nasional, penurunan produksi karena tidak ada investasi jelang kontrak berakhir perlu dihindari. Dengan adanya Head of Agreement (HoA) dalam proses alih kelola, program pengeboran dapat terus berjalan, bahkan hingga menjelang hari H. Ini menjadi salah satu alih kelola yang positif dan bisa juga menjadi role model alih kelola blok migas di tanah air.

Dengan adanya kegiatan pada masa transisi oleh kontraktor eksisting, kontraktor baru diharapkan bisa langsung bekerja secara optimal tanpa harus mengejar jauh target produksi yang sudah terlanjur anjlok, jika tidak ada kegiatan sama sekali. “Dengan demikian kesinambungan produksi relatif terjaga, dan begitu masuk pada 9 Agustus, PHR juga bisa langsung tancap gas, karena semua persiapan sudah dilakukan bersama di depan. Kami berharap melalui pengeboran sumur yang lebih masif nantinya, target produksi Rokan dapat dicapai bahkan mungkin bisa melampaui,” ungkap Benny.

Benny mengatakan tim alih kelola yakni SKK Migas – Chevron Pacific Indonesia dan PHR telah bekerja luar biasa keras, bukan pekerjaan mudah apalagi dengan segala keterbatasan di masa pandemi Covid-19. “Semoga alih kelola berjalan mulus dan dapat menjadi model alih kelola ke depan,” kata Benny.

Pada 8 Agustus nanti merupakan akhir masa kontrak Chevron Pacific Indonesia di Blok Rokan setelah mengelola selama 97 tahun lamanya. Rokan telah menjelma jadi salah satu pionir dan menjadi blok minyak paling produktif pada masa keemasannya pada tahun 70 hingga 80-an. Produksi di sana pada dekade itu sekitar satu juta barel per hari (bph) Saat ini produksi Blok Rokan hanya sekitar 160 ribuan bph. Sangat jauh dari produksi saat masa terbaiknya. Meskipun demikian Blok Rokan tetap menjadi salah satu kontributor utama produksi minyak nasional yang rata-rata saat ini sekitar 700 ribuan bph.(RI)