BEBERAPA pria asyik dengan pekerjaan masing-masing di sebuah ruangan berukuran sekitar 10X20 meter di Centra Industri Kulit Sukaregang, Garut, Jawa Barat pada Jumat pagi, 30 Oktober 2020. Sebagian membuat pola dari kulit domba priangan dan sapi jawa. Beberapa lainnya memotong kulit tersebut sesuai pola. Tampak juga pekerja yang sibuk menjahit produk berbahan baku kulit menjadi beragam produk seperti tas, jaket, sepatu, ikat pinggang, dompet, sarung tangan, pouch, dan aksesoris lain berbahan kulit.

Begitulah keseharian ruang kerja (workshop) Gun’s Leather Gallery (GLG) yang dimiliki oleh pasangan suami istri, Gunawan dan Syarifah. Para pekerja GLG penuh aktivitas dan kreativitas menghasilkan kulit domba dan sapi menjadi produk bernilai tinggi yang menghasilkan rezeki. Saat banyak usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang tutup gara-gara pandemik COVID-19, GLG masih bisa bertahan. Padahal tidak sedikit perusahaan yang terpuruk karena pengaruh COVID-19 karena barang tidak laku, selain basis permodalan untuk UMKM ini kecil, termasuk terbatasnya pemasaran.

Suasana di workshop GLG di Sukaregang, Garut. (foto: ist)

 

Belum pula persaingan harga yang sangat jomplang seiring membludaknya produk impor sintetis–mayoritas dari China– yang barangnya sama persis menyerupai produk kulit Sukaregang. Padahal, dari segi kualitas produk kulit yang diproduksi perajin Sukaregang memiliki keunggulan bila dibandingkan dengan produk sintetis dari China yang harganya jauh lebih murah. Apalagi konsumen bisa mengajukan desain atau model sesuai permintaan. “Alhamdulillah, dalam kondisi tidak stabil seperti saat ini, kami berupaya tidak mengurangi atau merumahkan karyawan dengan membagi shift kerja,” ujar Gunawan (46), pemilik GLG, kepada Dunia Energi, Jumat, 30 Oktober 2020.

Kendati omzet turun drastis hingga 60% dari kondisi normal, menurut Gunawan, GLG mampu mempertahankan bisnis yang telah dirintis hampir dua dasawarsa tersebut. Agar bisnisnya tetap bisa survive dalam kondisi COVID-19, GLG mendapat dukungan dan motivasi baik dari PT Pertamina (Persero), badan usaha milik negara di sektor energi terintegrasi, maupun pemerintah seperti halnya untuk aspek pemasaran. Semua pelaku usaha yang tergabung dalam UMKM dan binaan Pertamina disarankan untuk menjual produk secara daring (online).

“Selama ini kami juga mendapatkan pelatihan agar usaha kami tetap bertahan, salah satunya dengan memasarkan produk secara daring. Dengan cara itu, sedikitnya cukup membantu dalam aspek pemasaran produk kami,” kata Gunawan .

GLG adalah salah satu ribuan UMKM yang menjadi mitra binaan Pertamina. Gunawan mengaku bisnisnya bisa bertahan seperti sekarang berkat dukungan Pertamina. Berawal dari bisnis penyamakan kulit, ayah tiga anak ini secara bertahap terjun ke bisnis produk kulit. “Saya ikut menjadi mitra binaan Pertamina sejak delapan tahun lalu. Saya yang mengajukan ke Pertamina. Dana itu digunakan untuk menambah alat jahit dan bahan baku,” katanya.

Keputusan menjadi mitra Pertamina itu rupanya yang membawa bisnis produk kulit Gunawan dan sang istri secara bertahap terus meningkat. Pekerja yang awalnya hanya tiga-lima orang, kini 25 orang. Jumlah gerai pun bertambah dari satu menjadi tiga. Bahkan, GLG juga memasok produk ke sejumlah pusat perbelanjaan terkemuka di Ibu kota.

“Alhamdulillah, delapan tahun menjadi mitra binaan Pertamina, banyak manfaat yang kami dapatkan. Ada pelatihan ekspor impor, digital marketing, pameran tarap nasional, dll,” ujarnya.

GLG pun dipercaya oleh Pertamina untuk ikut sejumlah pameran. Salah satunya membuka booth dalam Festival Terampil yang diadakan Kementerian Badan Usaha Milik Negara pada 2019. Hal ini karena kualitas produk yang dihasilkan GLG tergolong bagus. Pada festival yang diperuntukkan bagi kaum milenials Indonesia ini, GLG mengenalkan produk yang menggunakan bahan-bahan berkualitas dan tidak kalah dengan lainnya.

Omzet GLG pun meningkat. Pada awalnya hanya Rp 50 juta per bulan, secara bertahap meroket seiring kualitas produk kulit yang dihasilkan GLG. Sayang, pandemik COVID-19 yang menerjang Indonesia pada awal Maret 2020 memorakporandakan semua sektor kehidupan, termasuk bisnis UMKM berbahan baku kulit.

Dukungan Pertamina

Pertamina pun sadar bahwa banyak mitra binaannya terdampak pandemik COVID 19. Namun, Pertamina sebagai BUMN memiliki Program Kemitraan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat sejalan dengan tujuan Pertamina mendukung kebangkitan usaha kecil dan menengah. Juga menjadi tumpuan bagi upaya pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs utamanya pada tujuan ke-delapan, yakni Pekerjaan yang Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.

Rudi Arifianto, Manajer Program Small Medium Enterprise Partnership Program (SMEPP) Pertamina, mengatakan pada masa pandemik COVID-19 saat usaha UMKM mengalami kemunduran, Pertamina melakukan berbagai upaya agar UMKM binaannya dapat survive selama masa pandemik untuk dapat menghasilkan UMKM Binaan Pertamina yang berdaya saing tinggi, tangguh, dan mandiri. Selain bantuan permodalan, terdapat berbagai agenda pembinaan yang juga adaptif di tengah kondisi sulit.

Beberapa program yang dilakukan Pertamina untuk mitra binaan antara lain pelatihan UMKM secara digital. Pertamina menyelenggarakan 131 online training hingga kuartal III 2020 (social media / webinar) secara berkala yang diikuti oleh seluruh mitra binaan Pertamina dan Rumah BUMN (RB) untuk dapat survive di tengah Pandemik. Pertamina juga mendesain WA Group MB (Mitra Binaan) Per Sektor. Menurut Rudi, WA Group per sektor ini sebagai media komunikasi antar-mitra binaan Pertamina dan juga memperluas potensi dan peluang pasar tanpa pertemuan langsung secara fisik.

“Kami juga melibatkan mitra binaan dalam kegiatan sosial. Pertamina telah menyerap produk mitra binaan untuk bantuan program Pertamina Peduli di masa pandemi. Total pembelian produk mitra binaan Pertamina mencapai lebih dari Rp12,68 miliar,”ujar Rudi kepada Dunia Energi, Jumat, 30 Oktober 2020.

Rudi menyebutkan, tidak kurang dari 7.000 UMKM mitra Pertamina terdaftar dalam platform procurement berbasis digital sinergi sembilan BUMN: PaDi BUMN. Dengan demikian, proses edukasi mitra binaan untuk adaptif dengan COVID-19 relatif lebih mudah. Edukasi dilakukan tidak hanya melalui sosialisasi secara digital, namun juga melalui kompetisi yang dilakukan sepenuhnya secara daring. “Salah satunya program COVIDEA yang menchallenge instruktur RB  dalam menjalankan program pembinaan yang dapat diimplementasikan di masa pandemik COVID-19,” katanya.

Program lain yang diberikan Pertamina bagi mitranya adalah E-Learning Platform. Menurut Rudi, Pertamina menyediakan aplikasi e-learning dengan panduan kurikulum yang memungkinkan usaha kecil dapat mengikuti pelatihan sambil tetap beraktivitas bisnis. “Kami juga berupaya mengoptimalkan Rumah BUMN sebagai wadah Pertamina untuk membentuk UMKM yang go modern, go digital, go online dan go global dan insentif bagi UMKM agar lebih familiar dengan transaksi digital dan pengembangan pasar e-commerce dan pemanfaatan media sosial untuk promosi produk dan UMKM Binaan Pertamina. Kami menyediakan kanal media sosial yang dipergunakan adalah youtube dan instagram @gen_umkm dan @pertamina,” ujarnya.

Di luar itu, Pertamin ajuga mengikutsertakan UMKM mitra binaan dalam New Normal Exhibition berbasis virtual. Hal ini terealisasi pada 9-11 September 2020, saat Pertamina menyelenggarakan Pertamina SMEXPO 2020. Pertamina SMEXPO 2020 berhasil menyabet rekor MURI sebagai pameran digital terbesar dengan lebih dari 1.700 produk. Sebanyak 34.063 visitor selama tiga hari pergelaran dengan target 10 ribu visitor dan 28 mitra binaan terpilih mengikuti Business Forum setelah melewati proses kurasi yang ketat dari 100 mitra binaan peserta Pertamina SMEXPO 2020.

“Pencapaian transaksi dari potential buyer SMECPO 2020 adalah Rp 9,3 miliar (dari Arab Saudi, Australia, Jerman, Perancis, Qatar, USA, Singapura, Tiongkok) dari target awal Rp 7,5 miliar. Dikunjungi 38 negara dari lima benua,” katanya.

Rudi mengakui bahwa sejatinya Program Kemitraan Pertamina ditujukan untuk meningkatkan kemampuan usaha kecil mitra binaan Pertamina agar menjadi tangguh dan mandiri sekaligus memberikan dampak berantai (multiplier effect) bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar wilayah operasi Pertamina. Pola pendampingan, pembinaan, pelatihan yang terarah serta pemberian fasilitas promosi dan pengembangan pasar dalam ajang pameran, merupakan salah satu cara dalam mendampingi mitra binaan Pertamina untuk tumbuh dan berkembang.

“Sektor yang menjadi sasaran Program Kemitraan Pertamina adalah Sektor industri, perdagangan, perkebunan, perikanan, pertanian, peternakan, jasa, lainnya,” ujarnya.

Pemberian bantuan pinjaman permodalan lunak bersifat dana bergulir untuk UMKM hingga Rp 200 juta dengan jasa administrasi sebesar 3% per tahun saldo menurun dari saldo pinjaman awal tahun. Untuk penyaluran bantuan permodalan Program Kemitraan dari 1993 hingga Oktober 2020, tersalur lebih dari Rp3,5 triliun.

Selain dana modal usaha, lanjut Rudi, Pertamina memberikan pembinaan dengan menerapkan peta jalan (roadmap) pembinaan kepada seluruh mitra binaan. Pertamina saat ini memiliki delapan program unggulan UMKM Naik Kelas. Pertama, UMKM academy SME : fast track, yakni program akselerasi bagi UMKM berprestasi

Kedua, sertifikasi dan perizinan, pertamina akan mendampingi para mitra binaan untuk memperolehan izin usaha dapat berupa PIRT, Izin Edar BPOM, NIB, IUMK, Sertifikat Halal maupun izin usaha dan sertifikasi lainnya untuk mendukung usaha mitra binaan Pertamina.

Rudi Arifianto, Manajer Program SMEPP/Kemitraan Pertamina (foto: ist)

Ketiga, display product UMKM. Pertamina bekerjasama dengan BUMN maupun instansi lain untuk dapat mempromosikan produk UMKM di wilayah strategis. Para mitra binaan akan diberikan tempat khusus untuk memajang produk UMKM di area publik, di antaranya berada di kawasan bandar udara dan hotel sebagai salah satu destinasi turis domestik maupun mancanegara. Selain itu juga memanfaatkan rumah bumn pertamina yang terletak di 29 titik di seluruh indonesia sebagai jaringan pesebaran dan penjualan produk UMKM. Dengan begitu hasil penjualan UMKM bisa meningkat dan cakupan pemasaran pun juga lebih luas.

Ke empat, E-learning. Pertamina menyediakan sarana berupa e-platform UMKM yang dikhususkan untuk mitra binaan pertamina dan dapat diakses melalui situs www.belajarUMKM-pertamina.com. “Seluruhnya akan dimulai dari tingkat dasar yakni basic. Selanjutnya tingkat menengah atau intermediate. Dan tingkat paling atas yakni advance,” kata Rudi.

Kelima, Publikasi UMKM. Publikasi dijalankan secara konsisten, hingga kuartal III 2020, total terdapat 475 konten pemberitaan terkait UMKM yang sudah di publikasikan. Baik di media cetak, online, maupun elektronik. “Publikasi yang dilakukan program kemitraan meliputi promosi produk mitra binaan, selain itu juga beberapa program dan penyaluran program kemitraan,” katanya.

Keenam, penjualan UMKM melalui e-commerce bekerja sama dengan market place.

Ketujuh, katalog Pertamina SME 1000. Pertamina SME 1.000 merupakan katalog daftar 1000 UMKM mitra binaan unggulan Pertamina yang telah melalui proses kurasi di masing-masing sektor usaha. Menurut Rudi, Pertamina SME 1.000 berisi profil usaha, pengenalan produk, alamat, nomor kontak, hingga akun media sosial UMKM tersebut.

“Selain itu, beberapa informasi UMKM dibuat dalam bentuk narasi, yang menceritakan tentang awal membangun usaha maupun kiat mempertahankan usaha tersebut hingga sukses. Pertamina bekerja sama dengan kadin menerbitkan buku berisikan daftar 1.000 UMKM mitra binaan unggulan dari Sabang hingga Merauke, mencantumkan pengenalan produk, merek produk, dan profil mitra binaan unggulan sebagai media promosi,” katanya.

Kedelapan, Exhibition/ virtual exhibition. Exhibition atau pameran merupakan salah satu wujud upaya pembinaan untuk memperluas akses pasar mitra binaan UMKM pertamina. Dalam kegiatan pameran, lanjut Rudi, disertakan business forum yang merupakan pertemuan bisnis antara mitra binaan dan potential buyer yang berasal dari berbagai negara agar menghantarkan mitra binaan untuk dapat go global.

Risna Resnawaty, pengamat CSR dari Universias Padjadjaran, mengatakan Program Kemitraan adalah bagian dari Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) yang merupakan program yang wajib dilakukan oleh BUMN. Pada beberapa tahun terakhir Program Kemitraan kalah populer dibanding program CSR lain. Namun pada masa pandemi COVID-19, Program Kemitraan merupakan program yang sangat tepat untuk dilakukan karena program ini dapat meningkatkan geliat wirausaha masyarakat sehingga roda perekonomian dapat kembali berjalan, terutama pada sektor UMKM.

“Indikator keberhasilan dari Program Kemitraan dapat diukur dari output dan outcomes. Output-nya adalah penyerapan dana yang berarti seberapa luas jangkauan dari program yang dilakukan sehingga banyak UMKM yang terbantu,” ujar Risna kepada Dunia Energi, Sabtu, 31 Oktober 2020.

Berkaca pada pelaksanaan Program Kemitraan di masa lalu yang seringkali tidak bergulir secara mulus (macet), lanjut Risna, indikator keberhasilan juga bisa diukur dari seberapa banyak dana kemitraan yang berhasil dikembalikan oleh mitra sesuai dengan kontrak yang ditandatangani. Artinya, dana yang berhasil dikembalikan merupakan gambaran bahwa usaha yang dilakukan oleh UMKM berjalan dan menghasilkan profit.

Risna menyebutkan, indikator outcomes dapat diukur dengan melihat pada efek positif dari peningkatan pendapatan UMKM. Misalnya dalam pemenuhan kebutuhan dan peningkatan kualitas hidup dari penerima manfaat, serta membuka lowongan kerja bagi masyarakat yang lain.

Risna menegaskan, secara ideal semua pihak berharap program CSR di masa pandemi tidak boleh surut meskipun muncul berbagai tantangan dan hambatan.

“Saya mengapresiasi kebijakan Pertamina yang menggenjot Program Kemitraan karena merupakan sebuah bentuk kepedulian luar biasa pada kondisi bangsa yang tengah prihatin. Kita semua sepakat bahwa sektor UMKM merupakan salah satu ujung tombak dari roda perekonomian masyarakat. Ketika perusahaan berupaya mengembangkan dan mendampingi UMKM pada masa pandemi, ini merupakan wujud dari kontribusi nyata dari sektor industri pada pembangunan,” ujar Ketua Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Unpad ini.

Di luar itu, Risna juga berharap, Program Kemitraan Pertamina ini dibarengi peningkatan kapasitas UMKM. Pasalnya, tantangan berwirausaha yang dihadapi oleh UMKM pada saat ini tentu berbeda dengan saat normal. “Tentu tidak cukup sebatas bantuan permodalan, perlu pendampingan dan peningkatan kapasitas UMKM untuk terus berinovasi dan menjadi tangguh merupakan hal yang wajib untuk dilakukan,” ujarnya. (yurika indah prasetianti)