JAKARTA – PT Pertamina Hulu Energi (PHE) tengah menyiapkan pembentukan anak usaha yang akan secara khusus menangani bisnis penyimpanan karbon atau carbon storage. Manajemen menargetkan entitas tersebut mulai beroperasi dalam dua hingga tiga tahun ke depan.
Bayu Kusuma Dewanto, Direktur Keuangan PHE mengatakan persiapan pembentukan perusahaan tersebut saat ini masih dalam tahap pengurusan perizinan.
“Kita sedang urus perizinannya. Insya Allah mungkin di dua atau tiga tahun lagi, kita sudah bisa melihat perusahaan ini bekerja,” kata Bayu di temui di Jakarta, Selasa (6/10).
Sambil menunggu proses perizinan dan pembentukan PHE juga telah melakukan penjajakan awal dengan sejumlah perusahaan, terutama di Singapura yang dinilai memiliki pasar karbon yang cukup besar sehingga berpotensi menjadi sumber bisnis carbon storage bagi Indonesia.
“Penjajakan awal sudah kita lakukan dengan beberapa perusahaan, terutama di Singapura. Di sana pasar karbon cukup besar untuk bisa kita capture. Sedangkan di sini kita juga punya wilayah-wilayah yang menurut saya sangat potensial untuk ini (bisis karbon),” ujarnya.
Nantinya skema bisnis yang dijajaki adalah menangkap karbon dari perusahaan di Singapura untuk kemudian dikelola dan disimpan di wilayah Indonesia yang memiliki potensi penyimpanan karbon dan dikelola oleh PHE.
Menurut dia, model tersebut membuka peluang pengembangan bisnis CCS/CCUS lintas negara, terutama dengan memanfaatkan potensi lokasi penyimpanan karbon yang tersedia di Indonesia. PHE sendiri adalah pemilik wilayah kerja terbanyak di tanah air dengan jumlah reservoir juga banyak dan berpotensi dijadikan tempat penyimpanan karbon.
Namun, Bayu mengakui tantangan utama dalam pengembangan CCS/CCUS saat ini adalah aspek keekonomian. Biaya pengelolaan karbon masih menjadi pertimbangan bagi perusahaan yang memiliki kewajiban pengurangan emisi.
Dia menjelaskan perusahaan yang mengalami defisit karbon saat ini memiliki sejumlah pilihan, yakni membeli kredit karbon di bursa, membayar pajak karbon, atau membangun fasilitas CCS/CCUS sendiri.
“Kalau misalnya saya karbon defisit, saya mengelola sebuah perusahaan karbon defisit, pilihannya kan apakah saya akan beli karbon di bursa, atau saya bikin proyek CCS/CCUS sendiri. Nah hari ini secara akal memang lebih murah beli,” ujarnya.
Menurut dia, kondisi tersebut menjadi tantangan yang perlu diselesaikan agar bisnis CCS/CCUS memiliki keekonomian yang lebih menarik.
“Sekarang ini kan masih lebih murah kalau kita beli karbon saja. Atau ya sudah kita bayar carbon tax. Nah, itu yang masih perlu kita pecahkan bareng-bareng tentang keekonomian CCS/CCUS ini,” jelas Bayu.
Meski demikian, Bayu melihat potensi bisnis CCS/CCUS akan sangat besar apabila momentum keekonomian dan kebutuhan pasar sudah terbentuk. PHE pun menargetkan anak usaha yang tengah dipersiapkan tersebut dapat mulai terlihat menjalankan kegiatan bisnisnya sekitar 2028. “Semoga 2028 kita sudah bisa melihat mereka beroperasi,” pungkas Bayu.





Komentar Terbaru