JAKARTA – Realisasi lifting minyak dan gas bumi hingga kuartal I 2021 masih belum mencapai target yang dicanangkan pemerintah. Data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyebutkan realisasi produksi siap jual (lifting) migas nasional hingga Maret 2021 tercatat 676,2 ribu barel per hari (bph) atau 95,9% dari target APBN sebesar 705 ribu bph. Sementara realisasi lifting gas baru sebesar 5.539 juta kaki kubik per hari (million standard cubic feet per dat/MMscfd) atau 98,3% dari target 5.638 MMscfd.

Secara keseluruhan, lifting migas sebesar 1,67 juta barel setara minyak per hari (boepd) atau 97,3% dari target 1,68 juta boepd.

Dwi Soetjipto, Kepala SKK Migas mengatakan, belum tercapainya lifting migas pada kuartal I cukup besar faktornya akibat pandemi Covid-19 sejak tahun lalu yang berhubungan dengan investasi migas, sehingga dampaknya dirasakan pada awal tahun ini. Hal itu mengakibatkan realisasi produksi minyak yang rendah di pengujung 2020.

“Beberapa sebab salah satunya entry point yang rendah, yakni 699 ribu bph pada Desember 2020,” kata Dwi dalam konferensi pers secara virtual, Senin (26/4).

Selain itu, kinerja operasional beberapa kontraktor pada tiga bulan pertama tahun ini juga dinilai belum optimal. Hal itu disebabkan oleh beberapa faktor teknis maupun non teknis. Seperti yang terjadi di Lapangan Banyu Urip dan Sukowati yang mengalami kenaikan kandungan air.

Kemudian terdapat isu integritas fasilitas di Blok Offshore South East Sumatera (OSES), Lapangan X-Ray, serta terjadi kebocoran di Blok Offshore North West Java (ONWJ). SKK Migas juga mencatat adanya kemunduran jadwal beberapa rencana kerja misalnya di proyek Tangguh serta beberapa di blok lainnya.

“Penyebab lainnya yakni mundurnya pengeboran sumur ke kuartal kedua dan ketiga. Serta kejadian unplanned shutdown di Proyek Tangguh, Lapangan Suban, dan Petrochina Jabung,” ungkap Dwi.

Untuk lifting gas, kinerja produksi beberapa lapangan tidak sesuai target. Misalnya di Blok OSES, dan mundurnya pengeboran sumur diantaranya di Blok East Kalimantan dan Brantas. Terjadinya penghentian operasi tak terencana (unplanned shutdown) di Proyek Tangguh, Blok Sebuku, Lapangan Suban, dan Blok Jabung.

Selain itu realisasi pengeboran sumur pengembangan di kuartal pertama kemarin memang cukup rendah, yakni baru mencapai 76 sumur atau 13% dari target 616 sumur. Kemudian realisasi kerja ulang (workover) juga baru sebanyak 143 sumur atau 23% dari target 615 sumur dan perawatan sumur (well services) baru 5.531 kegiatan atau 21% dari target 26.431 kegiatan.

“Sumur pengembangan memang di awal tahun untuk izin investasi atau FID (final investment decision) maupun proses pengadaan menjadi telat karena baru mulai di tahun berjalan, ke depan akan diperbaiki,” kata Dwi.

Untuk kegiatan eksplorasi, pengeboran sumur eksplorasi juga baru terealisasi enam sumur dari target 48 sumur, survei seismik 2D 1.349 kilometer (km) dari target 4.569 km, seismik 3D 263 kilometer persegi (km2) dari target 1.549 km2, serta studi G&G 62 kegiatan dari target 116 kegiatan.

SKK Migas akan bergerak cepat pada kuartal II ini dengan mendorong kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) untuk mempercepat realisasi pengeboran pada sisa waktu tahun ini. Terutama untuk kuartal II dan III.

“Kami akan membantu berbagai macam termasuk persetujuan FID, pembebasan lahan, dan izin lingkungan. Kami kerja keras untuk bisa percepat,” kata Dwi.(RI)