JAKARTA – PT United Tractors Tbk (UT/UNTR) membukukan kinerja yang tertekan sepanjang semester I 2026. Pendapatan bersih turun 15% dan laba bersih anjlok 48% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dipicu oleh penurunan penjualan emas dari Tambang Martabe serta dampak alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara nasional 2026 yang lebih rendah.

Berdasarkan laporan keuangan, Perseroan mencatatkan pendapatan bersih sebesar Rp58,3 triliun pada semester I 2026. Angka ini turun 15% dari Rp68,5 triliun pada semester I 2025.

Penurunan terbesar berasal dari segmen Pertambangan Emas dan Mineral Lainnya serta Alat Berat dan Pertambangan Batu Bara Termal dan Metalurgi. Namun, pelemahan tersebut sebagian diimbangi oleh peningkatan pendapatan dari sektor Kontraktor Penambangan yang terdorong oleh penguatan kurs USD.

Laba bersih tidak termasuk non-recurring items tercatat Rp4,3 triliun, turun 48% secara tahunan.

Penurunan kinerja segmen emas menjadi faktor utama. PT Agincourt Resources mencatatkan penurunan penjualan emas sebesar 82%. Total penjualan setara emas dari PT Agincourt Resources dan PT Sumbawa Jutaraya hanya 32 ribu ons hingga Juli 2026, jauh di bawah 143 ribu ons pada periode sama tahun lalu.

Penyebabnya adalah penghentian sementara operasional Tambang Emas Martabe. “Tambang Emas Martabe telah kembali melanjutkan operasinya pada periode pelaporan kuartal kedua,” sebut Direktur United Tractors Andreas, dalam Public Expose Live, Senin(7/9).

Selain itu, Perseroan juga mencatat non-recurring items senilai Rp3,3 triliun selama semester I 2026. Pos ini terutama terdiri dari penurunan nilai atas Supreme Geothermal Energy dan pembayaran terkait kegiatan sebelumnya di kawasan hutan sehubungan dengan Persetujuan Pemanfaatan Kawasan Hutan (PPKH) di Tambang Nikel Stargate.

Alat Berat dan Batu Bara Tertekan RKAB 2026
Segmen Alat Berat ikut terdampak kebijakan pemerintah. Penjualan alat berat Komatsu turun 23% menjadi 2.393 unit hingga Juli 2026. Penurunan tajam terjadi pada penjualan big machine di sektor pertambangan yang anjlok 49% menjadi 405 unit, seiring alokasi RKAB batu bara nasional yang lebih rendah.

Dampaknya, total pendapatan bersih segmen alat berat turun 28% menjadi Rp15,0 triliun. Pendapatan dari suku cadang dan jasa pemeliharaan justru naik tipis 1% menjadi Rp5,5 triliun.

Kondisi serupa terjadi di segmen Pertambangan Batu Bara Termal dan Metalurgi yang dijalankan PT Tuah Turangga Agung. Volume penjualan batu bara turun 18% menjadi 6,5 juta ton, termasuk 1,8 juta ton batu bara metalurgi. Pendapatan segmen ini turun 4% menjadi Rp12,9 triliun.

Di tengah tekanan, segmen Kontraktor Penambangan yang dioperasikan PT Pamapersada Nusantara (PAMA) dan PT Kalimantan Prima Persada (KPP Mining) mampu tumbuh.

Pendapatan bersih segmen ini naik 4% menjadi Rp27,2 triliun, didukung penguatan kurs USD. Namun volume pekerjaan pemindahan tanah turun 10% menjadi 573 juta bcm dan produksi batu bara klien turun 3% menjadi 80 juta ton hingga Juli 2026, mengikuti penyesuaian target produksi klien sesuai RKAB.

Untuk diversifikasi, PAMA dan KPP Mining mulai memperkuat ekspansi ke sektor emas dan nikel.

Sementara itu, bisnis Nikel melalui PT Stargate Pasific Resources mencatatkan penjualan bijih nikel sebesar 973 ribu wmt. Perseroan juga membukukan kontribusi dari Nickel Industries Limited (NIC) dengan kepemilikan 20,13%, yang melaporkan penjualan _nickel metal_ sebesar 61.622 ton pada Q4 2025 dan Q1 2026.

Dari sisi neraca, per 30 Juni 2026 Perseroan mencatat utang bersih sebesar Rp9,4 triliun dengan rasio gearing 8,5%. Posisi ini berbalik dari posisi kas bersih Rp7,7 triliun per 31 Desember 2025.

Perubahan tersebut terutama dipengaruhi oleh akuisisi perusahaan pertambangan emas dan program pembelian kembali saham.

Untuk memperkuat layanan purna jual, Perseroan juga terus mengembangkan bisnis pendukung melalui anak usaha yang bergerak di bidang engineering, manufaktur komponen alat berat, serta layanan logistik maritim dan pembuatan kapal.(RA)