JAKARTA – Indonesia bakal membeli minyak mentah asal Rusia mencapai 150 juta barel. Impor ini bagian dari kesepakatan yang dirampungkan oleh Prabowo Subianto saat berkunjung ke Rusia dan bertemu Vladimir Putin.

“Untuk ini, komitmen impor minyak dari Rusia ini kan baru negosiasi kemarin kan sudah disepakati total yang akan kita impor dari Rusia itu kan sekitar 150 juta barel untuk mencukupi kebutuhan kita sampai dengan akhir tahun,” kata Yuliot Tanjung, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) saat ditemui di kantornya, Jumat (24/4).

Yuliot mengatakan, impor minyak mentah dari Rusia bakal dilakukan secara bertahap. Proses impor menurutnya tidak bisa dilakukan sekaligus karena fasilitas storage yang ada di dalam negeri masih belum mencukupi.

Pemerintah, lanjutnya, terus mendorong percepatan impor minyak dari Rusia. Tapi di lain sisi, Kementerian ESDM juga tidak akan melupakan komitmen terhadap negara-negara lain, termasuk dengan Amerika Serikat.

“Tadi pagi saya juga rapat dengan Kementerian Luar Negeri dan juga dengan beberapa dubes itu juga kita atas komitmen itu. Tim dari Pertamina kan juga lagi ada di Amerika sekarang,” paparnya.

Dia menjelaskan, kebutuhan minyak mentah Indonesia ialah sebesar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi di dalam negeri hanya sekitar 600 ribu barel per harinya. Alhasil, 1 juta barel per hari didapatkan dari impor.

Jika dihitung sampai akhir tahun ini, maka minyak mentah dari Rusia sifatnya hanya melengkapi. Artinya, Indonesia akan tetap mengimpor dari negara lain dalam rangka memenuhi kebutuhan nasional.

“Ini bisa dikalkulasikan 150 juta barel itu juga kurang, kita juga mencari tambahan dari negara lain, termasuk dari yang Amerika Serikat,” ujar Yuliot.

Saat ini sedang dibahas skema impor yang pas untuk mendatangkan minyak Rusia. Pemerintah buka opsi untuk tidak mengandalkan Pertamina dalam membeli minyak Rusia. Pemerintah tengah menyiapkan regulasi untuk mengakomodir kedua opsi tersebut.

“Kalau ini lewat BUMN itu kan juga ada konsekuensi dan kalau BLU itu apa kemudahannya ya termasuk pembiayaan, itu juga lagi kita bahas antara kementerian/lembaga ya, kemudian juga dengan badan usaha, termasuk jalur mana yang akan digunakan,” ujar Yuliot.

Impor melalui perusahaan pelat merah sendiri kata Yuliot harus melalui mekanisme tender terlebih dahulu. Sementara saat ini, sudah ada kesepakatan antarnegara (G2G) antara Indonesia dan Rusia. Untuk itu berbagai opsi pengadaan dipertimbangkan termasuk mengikutsertakan swasta yang bisa lebih fleksibel.

“Kalau di BUMN kan harus melalui tender terlebih dulu ya, kalau ini kan skemanya adalah G2G. Jadi konsekuensi itu yang saya maksudkan,” ungkap Yuliot. (RI)