NEW YORK – Setelah mencatatkan kenaikan pada pekan lalu, indeks di London Metal Exchange (LME) kembali tertekan akibat menguatnya nilai tukar dollar AS. Selain itu, penambahan pasokan akibat kebijakan pemerintah Indonesia yang merevisi regulasi pembatasan ekspor bijih nikel dan munculnya spekulasi  tambang di Filipina terhindari dari penutupan setelah audit yang dilakukan pemerintah setempat turut mempengaruhi perdagangan.

Menurut analis dari Commerzbank AG di Fankfurt, Daniel Briesemann, pemerintah Filipina tampaknya akan mengambil langkah yang lebih lunak dalam proses audit. “Pasokan nikel mungkin tidak akan berkurang banyak setelah itu. Pasokan nikel dari Indonesia kembali akan masuk ke pasar,” katanya dalam email kepada Bloomberg yang dipublikasikan hari ini.

Harga nikel untuk pengiriman tiga bulan mendatang tidak berubah di angka US$10.080 per metrik ton pada perdagangan di LME pagi ini. Harga komoditas ini pernah menyentuh angka terendah sebesar US$9.945 pada September.

nikel

Harga nikel bergerak sebesar 25% pada tahun ini akibat adanya pembatasan pasokan. LME mencatat cadangan nikel  mencapai angka terendah dalam dua tahun terakhir.

Perdagangan logal di bursa London pada Rabu juga terkoreksi setelah Bloomberg Dollar Spot Index mencatat selama hampir dua pekan ini  nilai tukar dollar AS menguat.  Akibatnya, harga logam yang diperdagangankan dengan dollar AS menjadi mahal. (LH)