JAKARTA – Di tengah ekonomi global yang tidak pasti, Indonesia masih tumbuh 5,45% di Semester I-2026. Tapi pemerintah tidak mau berpuas diri. Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto mengingatkan satu hal penting: hilirisasi saja tidak cukup.
“Hilirisasi tidak sama dengan industrialisasi. Hilirisasi salah satu daripada industri,” tegas Airlangga di Jakarta, Selasa (6/10).
Saat ini industri pengolahan memang masih jadi tulang punggung, kontribusinya 18,50% terhadap PDB. Industri nonmigas tumbuh 5,32%. PMI Manufaktur pun kembali ekspansi ke 52,4 pada September 2026, tertinggi sejak Februari.
Namun, menurut Airlangga, agar tidak jalan di tempat, kontribusi industri harus didorong kembali di atas 20%. Caranya dengan menggenjot sektor di luar hilirisasi tambang.
Sektor yang dimaksud antara lain otomotif, tekstil dan produk tekstil, fast moving consumer goods (FMCG), hingga sektor strategis lain.
Hilirisasi sendiri tetap jadi senjata utama. Tidak hanya nikel yang ekspornya sudah melonjak dari US$ 1,3 miliar di 2016 menjadi US$ 34 miliar di 2025, tapi juga komoditas pertanian seperti sawit, karet, kelapa, hingga perikanan.
Dalam peta jalan 28 komoditas, hilirisasi diproyeksi mendatangkan investasi US$ 618,1 miliar, ekspor US$ 857,6 miliar, dan nilai tambah US$ 235,9 miliar. Dampak pemerataannya nyata, 75,7% investasi hilirisasi di Semester I-2026 sudah berada di luar Jawa.
Untuk naik kelas, pemerintah menyiapkan lompatan berikutnya: agroindustri bernilai tinggi, semikonduktor, AI, dan data center. Indonesia punya modal lahan, energi hijau, dan air yang kompetitif.
Apalagi ekonomi digital ASEAN lewat kesepakatan DEFA diprediksi naik dari US$1 triliun menjadi US$2 triliun, dan Indonesia menguasai 40% di antaranya.
“Transformasi ekonomi Indonesia perlu dilanjutkan dari pertanian menuju industri, kemudian menuju digitalisasi dan jasa bernilai tambah tinggi,” pungkas Airlangga. Ini kunci untuk membuka peluang pertumbuhan ekonomi 8%.(RA)




Komentar Terbaru