BATAM – Pengembangan Lapangan Gas Mako di Wilayah Kerja (WK) Duyung, lepas pantai Natuna, ditargetkan mulai tahapan konstruksi bulan depan atau Desember dimana pipanya sendiri dibuat atau diproduksikan di Batam. Total pipa dibutuhkan sepanjang 80 kilometer (km).

Djoko Siswanto, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengatakan produksi pipa sudah dimulai dan konstruksi proyek Mako ditargetkan bisa dieksekusi pada bulan depan.

“Produksi pipa dalam negeri sepanjang 80 km untuk proyek pengembangan lapangan gas offshore WK Duyung Lapangan Mako Natuna, hari ini mulai diproduksi di Batam. Insya Allah bulan depan groundbreaking oleh Bapak Menko/Menteri ESDM,” ujar Djoko dalam keterangannya, Minggu (1/11).

Proyek Gas Mako digarap oleh konsorsium Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) West Natuna Exploration Ltd (WNEL), yang terdiri atas Conrad dengan kepemilikan 25% dan PT Nation Natuna Barat sebesar 75%.

Selain pembangunan pipa, pengembangan Lapangan Mako juga mencakup pembangunan fasilitas produksi yang dikerjakan di dalam negeri, yakni di fasilitas PT PAL Indonesia di Surabaya dan yard di Batam.

Menurut Djoko, keseluruhan pekerjaan pengembangan proyek meliputi pemboran sumur lepas pantai Natuna, pembangunan fasilitas produksi, serta penggelaran pipa bawah laut sepanjang 80 km. Seluruh rangkaian pekerjaan tersebut dijadwalkan rampung dalam dua tahun ke depan. Setelah beroperasi, Lapangan Mako ditargetkan mampu menghasilkan gas sebesar 111 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD).

Djoko menjelaskan, sebelumnya gas dari Lapangan Mako direncanakan untuk dialirkan ke Singapura. Hal ini tidak terlepas dari keterbatasan infrastruktur pipa gas dari Natuna yang selama ini hanya memiliki jalur transmisi menuju Singapura.

Namun, penyelesaian pembangunan pipa West Natuna Transmission System (WNTS) menuju Pulau Pemping, Batam, membuka peluang bagi gas Natuna untuk dimanfaatkan di dalam negeri.

Dengan tersedianya infrastruktur tersebut dan setelah memperoleh persetujuan Menteri ESDM, seluruh produksi gas Lapangan Mako akhirnya diputuskan untuk dialirkan ke pasar domestik.

“Gas yang awalnya akan dialirkan ke Singapura karena hanya ada satu pipa dari Natuna ke Singapura, namun dengan selesainya pembangunan pipa WNTS (West Natuna Transmission System)-Pulau Pemping-Batam dan atas persetujuan Bapak Menteri ESDM, akhirnya gas seluruhnya 100% dialirkan ke domestik, khususnya untuk kelistrikan di Batam dan sekitarnya,” jelas Djoko.

Dia mengakui, secara komersial harga gas ke Singapura lebih tinggi. Meski demikian, pemerintah memutuskan untuk memprioritaskan pemenuhan kebutuhan energi dalam negeri. (RI)