BALI — Aroma kopi tidak selalu berakhir di dasar cangkir. Di tangan para penyintas skizofrenia yang beraktivitas di Rumah Berdaya, Denpasar, ampas kopi yang biasanya dibuang justru diolah menjadi dupa bernilai ekonomi. Dari proses sederhana ini, mereka tak hanya menghasilkan produk, tetapi juga membangun kembali kepercayaan diri dan kesempatan untuk berkarya.

Di tengah penyelenggaraan The 9th ASEAN Council on Petroleum (ASCOPE) Conference and Exhibition 2026 di Bali, kisah ini menjadi salah satu gambaran bagaimana pemberdayaan masyarakat dapat tumbuh melalui kegiatan produktif. Dupa berbahan ampas kopi yang dihasilkan Rumah Berdaya memperlihatkan bahwa potensi ekonomi bisa ditemukan dari bahan sederhana, sekaligus membuka ruang partisipasi bagi kelompok yang kerap menghadapi stigma sosial.

Proses pembuatannya dimulai dari pengumpulan ampas kopi yang diperoleh dari mitra, kemudian dijemur hingga kering selama kurang lebih satu hari. Ampas tersebut selanjutnya diayak agar lebih halus sebelum dicampur dengan serbuk kayu sebagai bahan perekat. Setelah diberi air dan tambahan aroma kopi, adonan dicetak menjadi dupa dan dikeringkan kembali di bawah sinar matahari.

Bahan yang semula dianggap tidak bernilai itu kini menjadi bagian dari produk yang dipasarkan seharga Rp15 ribu per bungkus. Setiap bungkus berisi sekitar 60 batang dupa. Penggunaan ampas kopi juga menjadi upaya memanfaatkan kembali sisa konsumsi, sehingga bahan yang sebelumnya terbuang dapat memiliki nilai guna baru.

I Nyoman Sudiasa menjelaskan, pemanfaatan ampas kopi untuk pembuatan dupa mulai dicoba pada 2023. Sebelumnya, Rumah Berdaya menggunakan serbuk yang tersedia di pasaran. Inovasi ini berkembang setelah kelompok tersebut mendapatkan dukungan peralatan dan pelatihan dari Pertamina sejak 2022.

“Awalnya kami menggunakan serbuk yang ada di pasaran. Kemudian, kami mencoba memanfaatkan ampas kopi untuk bahan dupa dan ternyata berhasil,” ujar Sudiasa dalam keterangannya, Minggu (31/10).

Rumah Berdaya saat ini memiliki 27 anggota, tetapi sekitar 10–12 orang terlibat dalam kegiatan produksi. Tidak semua anggota dapat langsung mengikuti setiap tahapan pekerjaan karena kemampuan konsentrasi dan kondisi masing-masing berbeda. Karena itu, proses produksi disesuaikan dengan kemampuan mereka, mulai dari mencetak dupa, menjemur, membuat kemasan, hingga memasukkan produk ke dalam bungkus.

Pola kerja tersebut sengaja dibuat secara kolektif. Pekerjaan yang dapat dilakukan bersama dikerjakan beramai-ramai agar semakin banyak anggota mendapat kesempatan berpartisipasi. Sebagian anggota juga memiliki keterampilan berbeda, sehingga pembagian tugas dilakukan sesuai kemampuan masing-masing.

Dalam kondisi produksi yang optimal, kelompok ini dapat mengolah sekitar delapan kilogram bahan dalam sehari. Dari satu kilogram bahan, hasilnya diperkirakan mencapai sekitar 12 bungkus dupa. Namun, jumlah produksi tetap dipengaruhi kondisi cuaca, terutama ketika musim hujan tiba dan proses pengeringan membutuhkan waktu lebih lama.

Bagi Rumah Berdaya, kegiatan ini tidak semata-mata mengejar keuntungan usaha. Biaya penjualan digunakan untuk menutup kebutuhan produksi, sementara kelebihan hasilnya dibagikan kepada anggota yang terlibat. Anggota yang membantu membuat kemasan, misalnya, mendapatkan upah Rp500 per lembar. Ada pula anggota yang memperoleh bayaran berdasarkan jumlah bahan yang berhasil dicetak.

“Konsep kami bukan berorientasi pada keuntungan. Biaya produksi tetap harus tertutup, tetapi kelebihan hasilnya kami kembalikan kepada teman-teman,” kata Sudiasa.

Lebih dari sekadar menghasilkan produk, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi anggota untuk melatih konsentrasi, membangun rutinitas, dan berinteraksi dengan orang lain. Sudiasa menilai aktivitas produktif dapat membantu anggota tetap fokus pada pekerjaan. Meski manfaat terapeutiknya belum pernah diteliti secara khusus oleh kelompok tersebut, kegiatan ini memberi kesempatan bagi mereka untuk menjalani aktivitas bersama dan mengembangkan keterampilan.

Sudiasa juga merupakan penyintas skizofrenia yang telah menjalani pengobatan selama bertahun-tahun. Pengalamannya membuat ia memahami bahwa proses pemulihan membutuhkan pendampingan, kepatuhan menjalani pengobatan, serta lingkungan yang mendukung. Menurut dia, kondisi penyintas dapat menjadi lebih stabil ketika mereka memperoleh kesempatan beraktivitas dan menjadi bagian dari komunitas.

Ia berharap kegiatan seperti ini dapat mengubah pandangan masyarakat terhadap penyandang disabilitas mental. Kesempatan bekerja, menurut Sudiasa, bukan hanya soal pendapatan, melainkan juga pengakuan bahwa mereka tetap memiliki kemampuan untuk berkarya dan berkontribusi.

“Yang terutama adalah mengurangi stigma negatif. Kami juga ingin menunjukkan bahwa penyandang disabilitas mental tetap punya harga diri dan masih bisa berkarya,” ujarnya.

Dukungan terhadap kegiatan Rumah Berdaya, termasuk bantuan peralatan dan pelatihan dari Pertamina, menjadi bagian dari upaya membuka kesempatan bagi kelompok rentan untuk lebih mandiri. Melalui produk sederhana seperti dupa ampas kopi, pemberdayaan dijalankan bukan dengan menuntut semua orang memiliki kemampuan yang sama, melainkan dengan menyediakan ruang agar setiap orang dapat berkontribusi sesuai kapasitasnya.