SEBAGAI negara penghasil nikel di dunia bahkan salah satu pemasok utama, wajar jika Indonesia punya asa untuk menjadi pemain utama industri masa depan berbasis nikel. Sebut saja kendaraan listirik beserta ekosistem baterainya. Dalam beberapa tahun terakhir wilayah sekitar tambang nikel disulap jadi kantung-kantung pengolahannya.

Industrialisasi di Indonesia berlangsung sangat cepat. Tidak bisa dipungkiri keberadaan cadangan berbagai komoditas mineral jadi salah satu faktor pendorongnya. Selama puluhan tahun narasi Indonesia sebagai penghasil berbagai komoditas utama tambang mineral di dunia sukses meninak bobokan rakyat sehingga nyaman hanya menjadi penghasil bahan baku tanpa melalui proses pengolahan.

Sulawesi jadi “rumah” produksi dan pengolahan nikel Indonesia. Struktur ekonomi di wilayah yang beririsan dengan penghasil sumber daya alam mulai bergeser, dari dominasi sektor primer menuju industri.

Mohammad Faisal adalah Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, menceritakan posisi Indonesia hanya sekedar penghasil bahan baku melesat sangat cepat dalam menjelma menjadi negara yang penuh ambisi untuk memproses semua komoditas mineral yang dimiliki.

Hal itu tercermin dari nilai investasi yang masuk ke tanah air. Data yang dihimpun oleh CORE Indonesia, pada tahun 2010 nilai investasi asing atau Penanaman Modal Asing  (PMA) untuk sektor Industri Logam Dasar, Barang Logam, Bukan Mesin dan Peralatannya kurang dari US$2 miliar. Tapi jumlahnya melesat mulai tahun 2019. Sebelumnya sektor lain mendominasi PMA seperti Pertambangan, Industri kertas dan percetakan serta Transportasi, Gudang dan Telekomunikasi.

Mulai Tahun 2019 semuanya berbalik. PMA yang masuk untuk sektor Industri Logam Dasar, Barang Logam, Bukan Mesin dan Peralatannya terus tumbuh dan meninggalkan sektor lain dan kini tembus US$14 miliar. Sementara ketiga sektor lainnya naik turun sejak 2010 dan kini tidak melebihi US$8 miliar.

Kecepatan industrialisasi berbasis tambang mineral ini juga membuat negara-negara lain iri, ingin mengikuti jejak Indonesia. Filipina misalnya, sebagai negara pemasok nikel terbesar di dunia setelah Indonesia mengakui belum bisa menandingi industrialisasi yang sedang terjadi di Indonesia, bahkan sekedar mengejar saja sulit.

“Filipina tuh sebetulnya ingin mengikuti langkah Indonesia, pathway industrialisasi, hilirisasi Indonesia. Tapi mereka enggak bisa. Dia (pelaku usaha Filipina) bilang bahwa Indonesia tuh terlalu besar dan sudah lebih duluan advanced membangun (ekosistem) industri ini,” kata Faisal disela sosialisasi MediaMIND 2026, Senin (14/9).

Hilirisasi di Indonesia kata Faisal telah menunjukkan sejumlah indikator positif. Selain tercermin dari peningkatan investasi, tanda-tanda pergeseran dari de-industrialisasi menuju re-industrialisasi juga mulai terlihat dari pertumbuhan industri manufaktur yang dalam beberapa kuartal terakhir lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB).

Meski demikian, proses tersebut masih berada pada tahap awal dan perlu diuji konsistensinya. Salah satu tantangan utama yang perlu diatasi adalah tingginya Incremental Capital Output Ratio (ICOR), sehingga peningkatan investasi harus mampu menghasilkan pertumbuhan output yang lebih besar sekaligus menciptakan lapangan kerja formal dan meningkatkan kualitas produk. ICOR menjadi salah satu indikator penting untuk melihat seberapa efektif investasi. “Once kita bisa mengatasi masalah itu, artinya investasi dikeluarkan, output-nya bisa lebih tinggi. Tapi bukan cuma output, selalu saya bilang kualitasnya juga,” kata Faisal.

Cerobong smelter boleh menjulang tinggi, nilai investasi boleh mencapai miliaran dolar, dan pertumbuhan ekonomi daerah bisa melesat. Tetapi bagi wilayah tambang, keberhasilan investasi akhirnya menghadapi pertanyaan yang jauh lebih sederhana. Seberapa besar perubahan itu terasa di kehidupan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

Hilirisasi dan industrialisasi nikel contohnya sudah terbuktu ambil bagian mengubah peta pertumbuhan ekonomi di sejumlah wilayah penghasil komoditas tersebut. Salah satu wilayah yang menunjukkan akselerasi pertumbuhan sangat pesat adalah Sulawesi, khususnya Sulawesi Tengah yang menjadi salah satu pusat pengembangan industri nikel dan kawasan hilirisasi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pertumbuhan ekonomi Sulawesi berada di kisaran 7,2% pada 2024, meningkat dibandingkan sekitar 6% pada 2014. Sementara itu, Kalimantan tumbuh sekitar 5,5% pada 2024, dibandingkan sekitar 3% pada 2014.

Sulawesi Tengah menjadi salah satu contoh daerah penghasil nikel yang mengalami pertumbuhan ekonomi tinggi di tengah ekspansi investasi dan hilirisasi. Pada 2024, pertumbuhan PDRB Sulawesi Tengah mencapai 8,66%, tertinggi dibandingkan provinsi lain di Sulawesi misalnlya di Sulawesi Utara sebesar 4,60%, Sulawesi Selatan 3,90%, Sulawesi Tenggara 3,73%, Sulawesi Barat 3,22%, dan Gorontalo 2,89%.

Sumber : BPS, Diolah : Dunia Energi

Hambar rasanya membicarakan hilirisasi tanpa memasukan Sulawesi beserta perusahan-perusahaan yang ada di dalamnya. Satu perusahaan yang jadi motor penggerak dalam upaya mengejar asa Indonesia untuk jadi salah satu pemain ekosistem energi masa depan yang disimpan dalam baterai adalah PT Vale Indonesia Tbk (INCO).

Perusahaan satu ini baru bergabung dua tahun lalu atau tepatnya Juni 2024 tapi entitas termuda di bawah holding perusahaan tambang MIND ID ini sudah jadi garda terdepan untuk urusan hilirisasi mineral nikel di tanah air. Vale jadi perusahaan paling getol yang mendorong hilirisasi nikel. Bukan hanya satu tapi ada tiga program raksasa hilirisasi nikel terintegrasi yang sedang digarap Vale.

Tiga proyek besar tersebut juga bukan sembarang proyek kemarin sore. Karena ketiganya bakal jadi fondasi utama dalam pengembangan ekosistem nikel untuk kendaraan listrik serta baterai di tanah air.

Pertama adalah proyek Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa, lalu  IGP Bahodopi, dan IGP Sorowako Limonite. PT Vale akan membangun fasilitas pengolahan berbasis teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL) untuk menghasilkan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), bahan baku penting dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik.

Secara keseluruhan, tiga proyek tersebut memiliki kapasitas produksi mencapai 240.000 ton MHP per tahun, menjadikan Vale sebagai salah satu pemain utama dalam pengembangan industri bahan baku baterai di Indonesia bahkan di regional. Proyek terbesar berada di IGP Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara dengan kapasitas produksi 120.000 ton MHP per tahun dan didukung tambang dengan kapasitas sekitar 28 juta ton bijih limonit dan saprolit per tahun. Proyek tersebut dikembangkan bersama Zhejiang Huayou Cobalt dan Ford Motor Company sebagai bagian dari upaya membangun rantai pasok baterai kendaraan listrik yang terintegrasi.

Selanjutnya IGP Bahodopi di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, dirancang memiliki kapasitas produksi 60.000 ton MHP per tahun. Fasilitas ini akan memperoleh pasokan dari tambang dengan kapasitas sekitar 16 juta ton bijih limonit dan saprolit per tahun. Proyek ini dikembangkan melalui kemitraan strategis dengan GEM Co., Ltd.

Terakhir ada IGP Sorowako Limonite di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan yang juga ditargetkan menghasilkan 60.000 ton MHP per tahun. Berbeda dengan dua proyek lainnya, fasilitas ini memanfaatkan sekitar 11,5 juta ton bijih limonit per tahun yang berasal dari lapisan overburden di wilayah operasi Sorowako. Pengembangan proyek ini sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya mineral yang sebelumnya belum dimanfaatkan dalam proses produksi nikel matte.

Momentum hilirisasi di Indonesia semakin deras bergulir setelah tiga proyek besar Vale bergulir. Pemerintah sendiri mengakui tiga proyek tersebut menjadi bagian dari agenda hilirisasi mineral nasional yang didukung penuh sebagai investasi strategis prioritas untuk memperkuat rantai pasok global kendaraan listrik dan industri baterai.

Penguasaan akan barang-barang tambang seperti nikel serta produk turunannya kelak diyakini mampu mendukung target pemerintah untuk bisa memastikan posisi Indonesia di dunia dalam mengatur pasokan serta harga komoditas mineral utama yang ujungnya tentu bisa memastikan penerimaan ke negara.

Apalagi perkembangan teknologi di berbagai sektor ke depan juga membutuhkan bahan baku mineral yang semuanya tersedia di Indonesia. “Dan semestinya kalau industri high-tech-nya yang punya value added lebih tinggi seperti baterai itu bisa bisa berjalan dengan mulus nantinya, mestinya sih value added-nya bisa lebih tinggi lagi. Karena selama ini yang dorong ini tuh yang dorongnya baru dari smelter di hilir,” jelas Faisal.

Selain peningkatan output, indikator hilirisasi berikan dampak positif juga perlu dilihat dari kemampuan industri menciptakan lapangan pekerjaan formal serta menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi. Lahirnya industri-industri baru yang lebih hilir dan memiliki nilai tambah lebih tinggi, kemudian penguatan pasar, khususnya pasar domestik menjadi salah satu faktor penting untuk memastikan industri tersebut dapat berkembang.

Penguatan pasar domestik juga relevan dalam pengembangan industri baterai, termasuk teknologi berbasis nikel mangan kobalt (NMC). Industri NMC menghadapi tantangan di pasar global, termasuk ketika diarahkan ke pasar Eropa. Karena itu, pasar dalam negeri perlu dimanfaatkan secara maksimal.

Mateus Sigit Harisulistya Head of Strategy and Business Development PT Vale Indonesia Tbk (INCO), mengungkapkan tiga proyek HPAL yang diusung Vale merupakan proyek jangka panjang meskipun dari sisi modal dibutuhkan sangat besar, namun Vale meyakini perkembangan industri turunan dari nikel juga bakal berkembang. “Tentunya kalau misalnya industri dalam negeri utamanya untuk yang baterai kemudian downstream itu berkembang, ini akan memberikan keuntungan yang lebih bagi HPAL kedepannya,” jelas Sigit.

Optimisme Vale tergambarkan dari perkembangan industri turunan nikel yang sedang berlangsung sekarang. Sigit menuturkan bahwa sebelumnya limonit ore boleh dibilang menjadi material yang tidak terpakai. Kemudian dengan adanya teknologi HPAL ternyata barang tidak terpakai itu justru membawa keuntungan yang jauh lebih besar.

“kami meng-unlock value dari limonit ore. PT Vale dulu cuman beroperasi mengolah saprolit menjadi nikel matte di Sorowako, tapi sekarang kita membuka nih revenue stream baru. Kita menambang bijih limonit, kemudian bijih limonit ini diproses menggunakan HPAL,” kata Sigit belum lama ini di Jakarta.

Keseriusan Vale dalam menggarap hilirisasi nikel makin terlihat karena progress nyata dalam pengerjaan proyek berskala besar. Vale mencatatkan tonggak penting melalui kedatangan autoclave untuk proyek HPAL Sambalagi dalam Indonesia Growth Project (IGP) Morowali. Kedatangan fasilitas utama tersebut menjadi bagian dari upaya perseroan membangun rantai nilai bahan baku baterai kendaraan listrik terintegrasi di Indonesia.

“Kedatangan autoclave tersebut merupakan langkah maju yang signifikan dalam pengembangan rantai nilai bahan baku baterai terintegrasi di Indonesia serta memperkuat komitmen PT Vale untuk mendukung agenda hilirisasi nasional,” kata Presiden Direktur dan Chief Executive Officer PT Vale Indonesia Tbk, Bernardus Irmanto dalam keterangan resmi, Rabu (29/7/2026).

Bernardus menambahkan perseroan akan terus memperkuat fondasi produksi melalui disiplin operasional dan peningkatan kapasitas tambang.

“Ke depan, Perseroan akan terus mempercepat pengembangan proyek-proyek HPAL untuk mengolah bijih limonit menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), yaitu produk antara yang sangat penting dalam rantai pasok global baterai kendaraan listrik,” ujarnya.

Secara operasional, produksi nikel matte pada semester I-2026 mencapai 29.773 ton, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 35.584 ton. Namun, produksi pada kuartal II-2026 meningkat 19 persen secara kuartalan menjadi 16.153 ton dari 13.620 ton pada kuartal I-2026.

Peningkatan produksi tersebut mencerminkan perbaikan kinerja operasional setelah rampungnya proyek pembangunan kembali Tanur Listrik 3, sekaligus menjaga keandalan operasi di tengah dinamika pasar nikel global.

Selain bisnis nikel matte, PT Vale juga mencatat pertumbuhan signifikan pada penjualan bijih nikel melalui tiga hub pertambangan, yakni Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa.

Blok Bahodopi mencatat penjualan bijih nikel saprolit sebesar 1,96 juta wet metric ton (wmt) sepanjang semester I-2026. Sementara itu, Blok Pomalaa membukukan penjualan bijih nikel sebesar 1,35 juta wmt pada periode yang sama.

Ketiga proyek yang tengah digarap Vale seolah menjadi pintu yang dibaliknya menunggu industri baterai. Jika semuanya saling terhubung dan terintegrasi maka cita-cita untuk memiliki ekosistem industri baterai akhirnya terwujud.

Aditya F Arif, Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC) mengungkapkan saat Indonesia makin serius untuk masuk ke industri baterai dunia dengan membentuk IBC tahun 2021 cerita tentang industri baterai akan terus membaik. Tapi pada kenyataannya realisasi yang ada kondisinya jauh lebih baik dari perkiraan awal. “Kita lihat key drivers dari perkembangan baterai itu sekarang ada dua. Dulu mungkin kita hanya bicara transisi energi, tapi sekarang ada digital economy,” kata Arif masih di acara MEDIAMIND 2026.

Jika dulu baterai difokuskan untuk memperiapkan era transisi energi dengan kehadiran kendaraan listrik tapi kondisinya saat ini ternyata kehadiran baterai dibutuhkan untuk data center yang membutuhkan Battery Energy Storage System (BESS). Berdasarkan proyeksi IBC permintaan baterai global akan naik 10x lipat dimana sebagian besar didominasi BESS. “Volumenya itu kira kurang lebih nanti akan 30 kali lipat (BESS) dibandingkan tahun 2023 pada tahun 2035. Jadi yang pertumbuhannya pesat justru ada di BESS,” kata Aditya.

Tidak bisa dipungkiri saat ini dominasi baterai LFP atau Lithium Iron Phosphate memang masih cukup besar, sementara yang diproduksi oleh Indonesia atau yang selalu menjadi semangat hilirisasi nikel adalah NMC atau Nickel Manganese Cobalt.

Namun berdasarkan kajian IBC dalam memproyeksi pola konsumsi pasar serta perkembangan teknologi yang ada di dunia, teknologi baterai jenis LFP diyakini sudah mencapai puncaknya saat ini, sementara NMC masih terbuka ruang untuk bisa terus dikembangkan. Ke depan NMC akan mengarah ke high voltage yang kadar nikelnya lebih tinggi agar bisa rapid charge dengan lebih cepat lagi, power density-nya bisa meningkat.

Kemudian ada juga pengembangan ke arah single crystal NMC untuk meningkatkan stabilitasnya. Baterai jenis NMC memiliki energy density yang sangat tinggi sehingga dengan volume yang sama menyimpan energi lebih banyak.

“Sehingga nanti dampaknya kalau dipakai di mobil, mobilnya lebih ringan dibandingkan dengan LFP. Nah dengan pengembangan-pengembangan seperti single crystal NMC, itu nanti akan jadi kompak lagi. Jadi masih terbuka ruang untuk pengembangan NMC ke depan,” jelas Aditya

Lalu akan disusul oleh Sodium-ion battery dan juga Solid State Battery yang ke depan diyakini juga bakal berbasis nikel yang tentu saja membutuhkan inovasi dari sisi teknologi sehingga unsur nikel ke depan akan banyak ditemui di teknologi baterai.

Tingginya pertumbuhan ekonomi menjadi tolak ukur suksesnya industrialisasi berbasis mineral tapi yang harus disadari pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak otomatis berarti kenaikan kesejahteraan masyarakat dalam skala yang sama.

Inisiatif Tingkatkan Daya Saing

Ada sejumlah tantangan yang dihadapi daerah-daerah yang menjadi kantung hilirisasi dan industrialisasi. Utamanya untuk kesiapan tenaga kerja. Beberapa tantangan utama yang dihadapi masyarakat lokal meliputi kesenjangan kualifikasi sertifikasi, hambatan adaptasi budaya kerja, serta kendala biaya akomodasi untuk mengikuti pelatihan.

Vale sebenarnya jadi salah satu perusahaan yang memperhatikan masalah ini dengan sangat serius dengan membuka program pelatihan teknis, masyarakat berharap industri nikel dapat memperluas skema pelatihan gratis yang menanggung seluruh biaya operasional peserta agar dapat mendongkrak porsi keterlibatan warga lokal.

Bersama Pemerintah Kabupaten Luwu Timur dan Politeknik Sorowako (Poliwako), Vale secara berkelanjutan menggelar Vocational Short-Term Training (VST) guna memperkuat daya saing tenaga kerja lokal yang berfokus pada tiga bidang relevan: Pengelasan, Kelistrikan, dan Administrasi Bisnis.

Vale kerap menggelar Program Pelatihan Vokasi dan Sertifikasi Operator Alat Berat. Program yang terbaru dijalankan pada Agustus 2026 lalu ini menjadi bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan keterampilan, tetapi juga membuka akses yang lebih luas terhadap peluang kerja di sektor industri.

Para peserta dari empat wilayah pemberdayaan Blok Sorowako, yakni Kecamatan Nuha, Towuti, Wasuponda, dan Malili, mengikuti program yang dibuka di Hotel Duta Inn, Sorowako, Kabupaten Luwu Timur ini. Selama satu bulan, para peserta akan menjalani pembelajaran intensif di Palopo Skill Centre dengan fokus pada penguasaan keterampilan pengoperasian alat berat, khususnya Excavator dan Dump Truck.

Setelah menyelesaikan pelatihan dan dinyatakan kompeten, peserta akan mengikuti uji sertifikasi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) yang menjadi pengakuan resmi atas kompetensi peserta sekaligus meningkatkan daya saing mereka di dunia kerja.

Yusri Yunus, Head of External Relations Sorowako & Outer Area PT Vale Indonesia, mengatakan bahwa program ini dirancang untuk memperluas akses masyarakat lokal terhadap pekerjaan yang membutuhkan keterampilan teknis dan sertifikasi profesi. Pelatihan ini tidak hanya memberikan manfaat bagi individu, tetapi juga mendorong kemajuan komunitas dan daerah.

“Kami percaya bahwa peningkatan kompetensi masyarakat lokal merupakan investasi jangka panjang yang memberikan manfaat bagi individu, komunitas, maupun daerah,” kata Yusri.

Vale juga membuka lebih banyak peluang bagi perempuan, talenta lokal, dan masyarakat berkebutuhan khusus untuk bergabung dalam tenaga kerja PT Vale. Berdasarkan data perrusahaan di dalam laporan keuangan 2025, perseroan memiliki 2.985 karyawan, dengan 83% di antaranya berasal dari wilayah operasional. Dari total tersebut, 361 orang atau 12,1% merupakan karyawan perempuan, termasuk 21 orang yang menempati posisi manajerial.

Sementara itu, Faisal dari CORE Indonesia mengungkapkan UMKM di wilayah industri seyogyanya sudah terintegrasi dengan industri besar. inilah yang disebut dengan benefit sharing. “Sebetulnya industri itu butuh ada ada supplier, cuma kemampuan dari UMKM lokal itu mau mohon maaf ya kalau melihat memang sangat jauh,” ujar Faisal.

Menurutnya meningkatkan kapasitas tidak langsung melalui skema business matching, karena perlu ada tahap penyiapan terlebih dulu yang bisa diinisiasi oleh kerja sama antara pemerintah daerah setempat juga industri itu sendiri. “Kalau saya lihat di beberapa di Morowali, Bappedanya cukup responsif. Bappedanya juga bahkan sekarang sudah mulai mendirikan semacam politeknik atau sekolah vokasi yang nanti bisa nanti di lulusannya tuh diserap ke industri smelter yang ada di sana,” jelas Faisal.

Ujungnya adalah kepentingan masyarakat yang diuntungkan dan image positif bagi industri juga akan terbangun. Dalam kajian yang dilakukan oleh CORE, Vale Indonesia misalnya sudah memberikan kesan positif bagi generasi atau angkatan kerja masa depan di daerah. “ Vale itu dianggap oleh masyarakat lokal memiliki standar dari sisi ketenagakerjaannya yang bagus ya. Jadi treatment-nya, perlindungan kerjanya. Jadi saya pikir kalau ini bisa direplikasi, bisa jadi best practice juga ya untuk yang apa investor-investor yang lain,” jelas Faisal.

Perlu ada instrumen nyata yang memastikan bahwa pertumbuhan juga menyentuh langsung masyarakat. Salah satu instrumen tersebut adalah dengan memastikan perusahaan menjalankan operasionalnya berlandaskan ESG.

Menurut Aditya dalam industri nikel dan baterai haram hukumnya tanpa diiringi dengan penerapan ESG. “ESG untuk baterai itu adalah sebuah keharusan. Jadi enggak usah disuruh pasti kita akan concern sama ESG. Karena kalau enggak, barangnya berpotensi tidak laku. Jadi ESG adalah sebuah keharusan,” ungkap dia.

Perjalanan hilirisasi Indonesia bukan sekadar cerita tentang bijih yang keluar dari perut bumi, masuk ke smelter, lalu berubah menjadi produk bernilai lebih tinggi yang bisa berikan dampak ke masyarakat terutama di sekitar area operasi tambang maupun pengolahan. Ini adalah pertaruhan tentang ke mana arah kekayaan alam Indonesia akan dibawa. Nikel yang dahulu dianggap sekadar komoditas mentah kini dipaksa menempuh perjalanan lebih panjang. Menjadi bahan baku baterai, menghidupkan kendaraan listrik, menopang sistem penyimpanan energi, bahkan membuka pintu menuju industri teknologi yang hari ini mungkin belum sepenuhnya terlihat.

Maroef Sjamjoeddin, Direktur Utama MIND ID mengungkapkan sedari awal dibentuk MIND ID memang langsung fokus pada program hilirisasi dari hulu ke hilir. Komoditas yang dikelola diolah menjadi produk bernilai tinggi sebagai bahan baku untuk mendukung tumbuhnya industri masa depan di dalam negeri.

“Kami ingin memastikan bahwa seluruh proyek hilirisasi berjalan terintegrasi, menghasilkan produk bernilai tinggi, serta memberikan dampak langsung bagi ekonomi dan memperkuat kedaulatan ekonomi nasional,” kata Maroef beberapa waktu lalu di Jakarta.

Cerobong smelter yang menjulang menyembulkan asap tanda pembakaran mineral hanyalah penanda awal bergeraknya roda industri. Ukuran keberhasilan sesungguhnya adalah ketika nilai tambah itu menjalar lebih jauh mulai dari menjadi industri yang kuat, teknologi yang dikuasai sendiri, pekerjaan yang layak, lingkungan yang terjaga, dan kesejahteraan yang benar-benar dirasakan masyarakat. Pada titik itulah inisiatif hilirisasi yang diambil Vale dan tidak hanya menjadi sekadar kebijakan ataupun aksi korporasi  melainkan berubah menjadi industrialisasi, sebuah perjalanan panjang untuk mengubah kekayaan yang terkubur di tanah Indonesia menjadi kekuatan ekonomi yang tumbuh di negeri sendiri.