INDRAMAYU – PT Patra Drilling Contractor (PDC), anak usaha Pertamina yang bergerak di bidang jasa penunjang energi, terus mengembangkan diversifikasi bisnis di luar layanan utamanya.

Direktur Utama PDC, Hery Lesmana, menjelaskan salah satu fokus baru perusahaan adalah trading pipa OCTG (Oil Country Tubular Goods) atau casing tubing.

“Yang pipa tubing itu trading, OCTG namanya. Selama ini kami hanya supply ke PDSI saat drilling. Padahal kebutuhan OCTG cukup banyak, di Pertamina Group saja banyak. Kami sedang mencoba membangun kapabilitas ke sana,” ujar Hery di Indramayu, Kamis (25/9/2026).

Menurutnya, bisnis trading tidak membutuhkan aset besar karena modelnya adalah bekerja sama dengan manufaktur terpercaya untuk kemudian dibawa ke pasar Pertamina Group dan non-Pertamina.

Selain trading, PDC juga mengembangkan divisi EPC dan konstruksi, termasuk trading chemical production yang sebelumnya hanya menjadi support proyek internal.

Bisnis Inti Masih Tumbuh
Meski ekspansi, bisnis inti PDC tetap berjalan. Tahun ini fokus masih pada empat unit utama: Food and Lodging Services (FLS), manpower supply, heavy transport equipment, dan marine services.

Divisi marine mencatat pertumbuhan dengan penyediaan equipment oil boom untuk penanggulangan tumpahan minyak. Peralatan tersebut saat ini telah terpasang di beberapa wilayah operasi seperti Offshore Southeast Sumatra (OSES) dan Patra Niaga wilayah timur dan barat.

“Setiap perusahaan oil and gas wajib menyiapkan equipment yang ready jika terjadi insiden tumpahan minyak. Itu bentuk kesiapsiagaan,” jelasnya.

Saat ini komposisi pasar PDC masih didominasi Pertamina Group, dengan PDSI sekitar 50 persen, Pertamina Group 30 persen, dan 10-20 persen non-Pertamina. Hery menilai market non-Pertamina masih sangat luas untuk digarap.

Di bidang dekarbonisasi, PDC berhasil menerapkan teknologi Mikroalga di Subang dengan kapasitas 0,7 EPS yang mampu mengurangi kadar CO2 dari gas yang dihasilkan.

“Itu berhasil mengurangi CO2, capaiannya hampir 200 persen dari target. Teknologinya fit for purpose dan tidak makan kapital tinggi,” ungkap Hery.

Teknologi yang merupakan inovasi Pertamina dan ditugaskan pembangunannya kepada PDC ini sedang direview bersama PHE dan Pertamina Persero untuk direplikasi di lokasi lain. Contoh penerapannya bisa dilihat di lobi kantor PDC Matraman berupa akuarium berwarna hijau.

PDC juga akan memulai program dual fuel untuk rig dan heavy equipment sebagai bagian dari efisiensi energi.

Untuk mendukung bisnis, digitalisasi dan prinsip ESG terus diperkuat. Digitalisasi dimanfaatkan untuk pemasaran lewat website dan marketplace serta optimasi monitoring equipment. Sementara dari sisi ESG, PDC menjalankan program Malika, pengolahan minyak jelantah hasil catering FLS yang diolah kembali dan menjadi bagian dari program CSR.

“Setiap unit bisnis kami tidak akan buang limbah sembarangan. Limbah yang masih bisa dimanfaatkan seperti minyak jelantah justru kami jadikan CSR,” pungkasnya.(RA)