TANGERANG – Proyek Vanda Solar and Battery di Kepulauan Riau, yang dikembangkan Vanda RE, perusahaan yang mayoritas sahamnya dikuasai Gurin Energy, saat ini masih menunggu regulasi ekspor listrik dari Pemerintah Indonesia. Listrik dari proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 2 gigawatt peak (GWp) dan sistem penyimpnan energi baterai berkapasitas 4,4 gigawatt hour (GWh) nantinya akan sepenuhnya diekspor ke Singapura.
Enda Ginting, Country Manager Indonesia Gurin Energy yang juga Direktur Vanda RE, mengatakan listrik yang dihasilkan seluruhnya akan diekspor. Untuk alokasi domestik, Vanda RE, masih menunggu kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) dari Pemerintah Indonesia.
“Aturannya, ada atau tidak ada DMO, kemungkinan nanti akan masuk di dalam regulasi ekspor listrik. Bentuknya kemungkinan Peraturan Pemerintah,” ujar Enda di Tangerang, Banten, Rabu (23/9).
Enda mengatakan Vanda telah siap untuk memulai proyek ini jika kebijakan ekspor listrik dari pemerintah Indonesia terbit. Jika kebijakan tersebut bisa terbit tahun ini atau 2027, maka Proyek Vanda Solar and Battery akan siap beroperasi pada 2029.
Vanda RE merupakan perusahaan patungan yang mayoritas sahamnya dimiliki Gurin Energy, pengembang energi terbarukan berbasis Singapura yang memiliki portofolio proyek tenaga surya, angin, dan sistem penyimpanan energi di sejumlah negara Asia.
Menurut Enda, proyek ini tidak hanya sekadar menyalurkan listrik ke Singapura, tetapi pihaknya percaya pada tujuan di balik dukungan pemerintah terhadap hal ini. Proyek ini disebut merupakan investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) yang nilainya setara hingga US$4,5 miliar. “Dari sisi nilai tambah selama masa konstruksi dan pengembangan, proyek ini diperkirakan mendatangkan hingga 10 miliar dolar AS,” katanya.
Tidak hanya itu, Enda menyebut hasil langsung dari proyek ini ke Indonesia akan berupa tambahan penerimaan pajak bernilai US$1,76 miliar.
Proyek yang dikembangkan Vanda RE ini juga diklaim mendukung visi pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai hub energi terbarukan di Asia Tenggara. “Kita biasa mengaitkan dengan program hilirisasi, tetapi ini juga sejalan dengan niat pemerintah Indonesia yang menginginkan adanya manufaktur panel surya Tier-1 di Indonesia untuk kepentingan program-program nasional,” ungkap Enda.
Dia menambahkan Proyek Vanda Solar and Battery berpotensi menciptakan 60 ribu lapangan kerja di berbagai rantai pasok Indonesia. Ini mencakup Kepulauan Riau, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan wilayah Indonesia lainnya.
Jerin Raj, SVP and Managing Director Asia Pasific and India, Black and Veatch, mengatakan Vanda Solar and Battery di Kepulauan Riau dengan kapasitas 2,2 GWp merupakan proyek yang sangat besar, sehingga tantangannya pun juga besar.
“Salah satu tantangannya adalah membawa bahan-bahan proyek ke Pulau Gurin. Tidk hanya itu, proyek ini memang sangat komplek,” kata Jerin.
Black & Veatch merupakan konsultan teknis Proyek Listrik Tenaga Surya dan Baterai yang dikembangkan Vanda RE. Proyek ini diklaim mendukung transisi energi Indonesia melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan investasi asing lansung dan penguatan ranta pasok energi bersih.
Jerin mengungkapkan selain tantangan teknis, tantangan yang lebih mendasar dari Proyek Listrik Tenaga Surya dan Baterai yang dikembangkan Vanda RE adalah masalah komunikasi dan koordinasi regional. Pasalnya, proyek ini melibatkan negara-negara di kawasan ASEAN, yakni Indonesia dan Singapura.
“Kami melihatnya ini perlu ada seperti Power Grid di Eropa. Jadi ini memang perlu komunikasi dan koordinasi antar negara,” kata Jerin.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, sebelumnya menegaskan Indonesia terbuka untuk melakukan ekspor listrik ke negara-negara Asia Tenggara (ASEAN). Namun, kerja sama tersebut harus memberikan keuntungan yang adil bagi seluruh negara yang terlibat.
Bahlil mengakui Indonesia menjadi salah satu negara yang belum menandatangani kesepakatan ASEAN Power Grid. Keputusan itu diambil karena skema yang ada saat ini belum memenuhi prinsip win-win.
“Saya belum tanda tangan karena hitungan saya belum win-win. Kalau sudah win-win, saya akan teken,” tegas Bahlil.(AT)




Komentar Terbaru