JAKARTA – Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) memperkuat komitmennya terhadap ekonomi sirkular melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) di Kantor Danantara, Jakarta, terkait pengembangan proyek percontohan Decentralized Waste Management (DWM) Kota Bandung pada Senin, (14/9). Proyek ini menjadi langkah awal untuk mengembangkan pengelolaan sampah terintegrasi yang dapat mengubah sampah menjadi sumber daya dan energi bernilai tambah.
Penandatanganan tersebut dihadiri oleh Chief Technology Officer Danantara Sigit Puji Santosa, Managing Director Technology Advancement Danantara Dwi Susanto, Managing Director Development Investment PT Danantara Development Management Fund M. Rachmat Kaimuddin, serta Managing Director Legal & Corporate Affairs PT Danantara Development Management Fund Irawady Azwar. Turut hadir juga Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Dr. M. Fauzan, Direktur Proyek & Operasi Pertamina NRE Norman Ginting, Direktur Biomassa PT PLN Energi Primer Indonesia Hokkop Situngkir, serta Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung Darto A.P., M.M.
Melalui konsep DWM, sampah perkotaan tidak hanya dipandang sebagai limbah yang harus dibuang, tetapi sebagai sumber daya yang dapat dipulihkan dan dimanfaatkan kembali. Dalam konsep awal, fasilitas ini dirancang untuk mengolah sekitar 300 ton municipal solid waste (MSW) per hari melalui rangkaian proses mechanical sorting dan material recovery, antara lain bag opening, screening, magnetic separation, ballistic separation, dan eddy current separation. Proses tersebut akan memisahkan material yang masih memiliki nilai daur ulang, fraksi organik atau fines, serta fraksi combustible yang dapat diproses lebih lanjut.
Director Proyek & Operasi Pertamina NRE, Norman Ginting menyampaikan bahwa pengembangan DWM membawa paradigma baru dalam pengelolaan sampah dengan mengedepankan pendekatan waste-to-value. “Sampah tidak seharusnya hanya dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi sebagai sumber daya yang masih memiliki nilai. Melalui proyek ini, kita ingin mendorong transformasi dari waste menjadi resource, dan selanjutnya dari waste menjadi value. Material yang masih bernilai dapat dipulihkan, sementara fraksi yang memiliki nilai energi dapat dikembangkan menjadi bahan bakar alternatif dengan kualitas yang lebih terkontrol,” ujar Norman pada Senin, (14/9).
Dari sisi teknologi, DWM mengintegrasikan proses mechanical sorting, material recovery, dan fuel preparation. Fraksi combustible yang telah dipisahkan dapat melalui proses pencacahan, pengeringan, pencampuran, dan pengendalian kualitas untuk menghasilkan Solid Recovered Fuel (SRF) dengan karakteristik yang lebih konsisten. SRF tersebut berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif untuk menggantikan sebagian penggunaan bahan bakar fosil, baik melalui co-firing pada pembangkit listrik maupun untuk kebutuhan energi di sektor industri. Dalam konsep yang sedang dikaji, fraksi combustible dari MSW juga dapat dikombinasikan dengan sekam untuk menghasilkan blended SRF, yang selanjutnya akan diverifikasi berdasarkan karakteristik bahan baku, kualitas produk, keberlanjutan supply chain, serta kebutuhan calon offtaker.
“Nilai teknologi proyek ini bukan hanya terletak pada mesin pengolah sampah. Yang lebih penting adalah bagaimana kita membangun sistem yang mampu mengubah sampah yang sangat heterogen menjadi material dan bahan bakar yang lebih konsisten, terukur, dan memiliki nilai ekonomi. Inilah yang membedakan pendekatan waste-to-value dengan pengelolaan sampah konvensional,” lanjut Norman.
Keberhasilan proyek ini akan membutuhkan integrasi di sepanjang rantai nilai, mulai dari kepastian pasokan dan karakteristik sampah, kesiapan lahan dan infrastruktur, ketersediaan bahan pendukung, kualitas produk, hingga kepastian offtaker. Dalam struktur awal proyek, PNRE direncanakan berperan sebagai developer sekaligus operator dengan dukungan pemerintah daerah serta mitra engineering, procurement and construction (EPC), technology provider, supplier, dan offtaker. Setelah penandatanganan MoU, para pihak akan melanjutkan kajian melalui feasibility study yang mencakup karakteristik dan supply chain sampah, spesifikasi produk akhir, supply chain sekam, pemilihan technology provider, konfigurasi teknologi, utilitas, pekerjaan sipil, serta kebutuhan perizinan.
Pertamina NRE berharap proyek percontohan DWM di Bandung dapat menjadi model pengelolaan sampah yang technically proven, commercially viable, environmentally sustainable, dan replicable untuk dikembangkan di berbagai kota di Indonesia. “Ambisi kita tidak berhenti pada pembangunan satu fasilitas. Yang ingin kita bangun adalah sebuah model. Jika Bandung dapat menunjukkan bahwa pengelolaan sampah terintegrasi dapat berjalan secara teknis, ekonomis, dan berkelanjutan, maka model ini berpotensi direplikasi di berbagai wilayah Indonesia. Dengan demikian, persoalan sampah dapat kita transformasikan menjadi bagian dari solusi energi sekaligus ekonomi sirkular,” tutup Norman.(RA)




Komentar Terbaru