BANDAR LAMPUNG — PT ESGIN Global Partners (ESGIN) mempercepat pengembangan proyek karbon dan investasi hijau berbasis sektor pertanian, agroindustri, dan peternakan di Provinsi Lampung. Salah satu strategi adalah dengan mengukuhkan kolaborasi kemitraan investasi proyek methane removal project pengolahan limbah cair antara ESGIN dengan 23 pabrik tepung tapioka di Lampung yang tergabung dalam Perhimpunan Pengusaha Tepung Tapioka Indonesia (PPTTI).

Pipeline awal proyek tersebut diperkirakan memiliki potensi pengurangan emisi secara akumulatif sekitar 500.000 ton CO₂e, terutama melalui pengurangan emisi metana dari pengolahan air limbah industri tapioka.

Brandon Keam, CEO PT ESGIN Global Partners, mengatakan Lampung memiliki basis pertanian dan agroindustri yang kuat untuk dikembangkan menjadi ekosistem proyek iklim dan investasi hijau. “Lampung memiliki potensi besar dari sektor pertanian, peternakan, dan agroindustri. ESGIN ingin menghubungkan potensi tersebut dengan teknologi rendah karbon, green investment, dan carbon markets sehingga pengurangan emisi tidak hanya memberikan dampak lingkungan, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi baru bagi industri, petani, dan daerah,” ujar Brandon disela ESGIN Business Gathering 2026 bertajuk “Transforming Agriculture & Agro-Industry in Lampung into Green Investment & Carbon Opportunities” pada Kamis (3/9).

Industri tapioka memiliki peluang pengembangan proyek karbon karena air limbah dengan kandungan bahan organik tinggi dapat menghasilkan gas metana (CH₄) dalam proses pengolahan anaerobik.

Melalui penerapan teknologi methane capture, destruction, dan utilization, emisi metana dapat dikurangi dan, bergantung pada konfigurasi proyek, dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan.

ESGIN akan mengintegrasikan pengembangan teknologi tersebut dengan Digital Monitoring, Reporting and Verification (Digital MRV), carbon accounting, pengembangan proyek karbon, serta akses terhadap pembiayaan hijau dan pasar karbon. Berdasarkan identifikasi awal, pipeline 23 pabrik anggota PPTTI tersebut diperkirakan memiliki potensi pengurangan emisi secara akumulatif sekitar 500.000 ton CO₂e.

Angka tersebut merupakan estimasi awal potensi pengurangan emisi. Volume pengurangan emisi terverifikasi dan kredit karbon yang dapat diterbitkan akan ditentukan setelah proyek melalui studi kelayakan, penetapan baseline, pemilihan metodologi, monitoring, validasi, verifikasi, registrasi, serta pemenuhan regulasi yang berlaku.

Dalam rangkaian kegiatan yang sama, ESGIN juga menandatangani MoA (Memorandum of Agreement) dengan PT Juang Jaya Abdi Alam, perusahaan peternakan sapi berskala besar di Lampung. Pokok kolaborasi tersebut difokuskan pada pengembangan dan pengolahan limbah kotoran sapi menjadi biochar dengan mengombinasikannya dengan biomassa jerami padi.

Dengan basis populasi sekitar 20.000 ekor sapi, kolaborasi tersebut menargetkan pengembangan kapasitas produksi biochar hingga sekitar 30.000 ton per tahun. Kapasitas dan realisasi akhir akan ditentukan berdasarkan hasil studi kelayakan, ketersediaan dan karakteristik bahan baku, konfigurasi teknologi, serta pengujian kualitas produk.

Biochar yang dihasilkan diarahkan untuk dimanfaatkan sebagai pembenah tanah (soil amendment) guna mendukung peningkatan kualitas tanah dan praktik pertanian berkelanjutan. Proyek tersebut juga akan dikaji potensinya sebagai carbon removal project, dengan memperhatikan metodologi carbon accounting, ketahanan penyimpanan karbon, Digital MRV, validasi, verifikasi, serta standar dan regulasi karbon yang berlaku.

Menurut Brandon Keam, kolaborasi tersebut menjadi contoh penerapan ekonomi sirkular yang menghubungkan sektor peternakan dan pertanian.

“Melalui kolaborasi ini, kami ingin mentransformasikan kotoran ternak dan jerami padi menjadi biochar yang memiliki nilai bagi pertanian sekaligus berpotensi memberikan manfaat iklim. Model ini menghubungkan waste management, soil improvement, carbon removal, dan green investment dalam satu ekosistem ekonomi sirkular,” kata Brandon.

Selain proyek industri tapioka dan biochar, ESGIN juga membuka diskusi lanjutan bersama Pemerintah Provinsi Lampung mengenai potensi pengembangan proyek karbon pada sektor persawahan melalui penerapan metode Alternate Wetting and Drying (AWD).

AWD merupakan pendekatan pengelolaan irigasi dengan mengatur periode penggenangan dan pengeringan sawah secara terkontrol. Penerapannya berpotensi meningkatkan efisiensi penggunaan air sekaligus mengurangi emisi metana dari lahan persawahan.

Pengurangan emisi tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai proyek karbon apabila memenuhi metodologi, baseline, additionality, monitoring, reporting and verification, serta ketentuan regulasi yang berlaku.

Pengembangan AWD juga membuka peluang untuk melibatkan petani secara langsung dalam transformasi menuju pertanian rendah karbon sekaligus menciptakan potensi sumber nilai ekonomi baru dari aktivitas pengurangan emisi.

Penandatanganan MoA dalam ESGIN Business Gathering tersebut disaksikan oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Provinsi Lampung Elvira Umihanni, S.P., M.T., yang hadir mewakili Gubernur Lampung, didampingi Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung Ir. Lili Mawarti, M.Si., IPU.

ESGIN juga memperkuat kolaborasi dengan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi Lampung, yang diwakili Ketua Harian Umar Ahmad, untuk mengidentifikasi peluang proyek karbon dan investasi hijau yang dapat melibatkan petani dan komunitas pertanian Lampung.

Potensi kolaborasi tersebut mencakup pemanfaatan biomassa dan residu pertanian, pengembangan biochar, pertanian regeneratif, praktik pertanian rendah emisi, serta berbagai inisiatif carbon removal.

 

Dorong Lampung Menjadi Hub Proyek Karbon dan Investasi Hijau

Melalui berbagai kolaborasi tersebut, ESGIN mendorong terbentuknya ekosistem ekonomi hijau dan sirkular yang terintegrasi di Lampung dengan mempertemukan pemerintah, petani, pelaku agroindustri dan peternakan, penyedia teknologi, lembaga keuangan, investor, serta pelaku pasar karbon.

Model tersebut diharapkan mampu mengubah tantangan lingkungan menjadi peluang ekonomi. Air limbah industri dapat dikelola untuk mengurangi emisi metana, kotoran ternak dan jerami padi dapat dimanfaatkan menjadi biochar, sementara penerapan AWD dapat mendorong produksi padi yang lebih efisien dalam penggunaan air dan rendah emisi.

Dengan demikian, pengembangan proyek karbon tidak hanya diarahkan pada penciptaan kredit karbon, tetapi juga pada peningkatan efisiensi industri, pengelolaan limbah, perbaikan kualitas tanah, pemanfaatan energi terbarukan, peningkatan nilai tambah sektor pertanian, serta penciptaan peluang investasi baru bagi daerah.

Setelah penandatanganan MoA, ESGIN akan melanjutkan pengembangan proyek melalui studi kelayakan, validasi data, kajian teknologi, penetapan baseline, pemilihan metodologi karbon, pengembangan Digital MRV, carbon accounting, serta penyusunan struktur investasi sebelum memasuki tahap implementasi dan komersialisasi.

Dengan pipeline 23 pabrik tapioka dengan estimasi awal potensi pengurangan emisi sekitar 500.000 ton CO₂e, kolaborasi biochar bersama PT Juang Jaya Abdi Alam dengan target pengembangan kapasitas hingga 30.000 ton biochar per tahun, serta penjajakan proyek karbon padi berbasis AWD, ESGIN melihat Lampung memiliki fondasi kuat untuk berkembang sebagai salah satu hub strategis proyek karbon, circular agriculture, dan green investment di Indonesia.