JAKARTA – PT Bukit Asam Tbk (PTBA) membukukan kinerja keuangan yang positif pada Semester I 2026. Hingga 30 Juni 2026, perusahaan mencatatkan pendapatan sebesar Rp22,03 triliun, meningkat 8% dibandingkan periode yang sama tahun 2025.
Kinerja tersebut ditopang oleh penguatan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) dan peningkatan penjualan ekspor, di tengah kenaikan harga batu bara global.
Direktur Utama PTBA Bambang Ismawan mengatakan, memasuki periode dengan kondisi operasional yang lebih kondusif, perseroan berhasil mendorong pemulihan kinerja produksi sekaligus memperkuat kinerja penjualan ekspor, baik secara kuartalan maupun tahunan.
“Memasuki periode dengan kondisi operasional yang lebih kondusif, Perseroan berhasil mendorong pemulihan kinerja produksi sekaligus memperkuat kinerja penjualan ekspor, baik secara kuartalan maupun tahunan. Di tengah momentum penguatan harga batubara global, Perseroan mampu mengoptimalkan peluang pasar melalui strategi penjualan yang adaptif, yang didukung oleh pelaksanaan program efisiensi secara cermat dan tepat sasaran,” kata Bambang dalam laporan kinerja perseroan yang disampaikan kepada BEI/OJK.
Menurutnya, capaian tersebut mencerminkan kemampuan PTBA dalam menangkap momentum pasar secara optimal dengan tetap menjaga disiplin operasional dan efisiensi biaya sebagai fondasi pertumbuhan kinerja yang berkelanjutan.
Laba Bersih Rp2,65 Triliun
Pada Semester I 2026, PTBA membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp2,65 triliun. Sementara itu, EBITDA tercatat sebesar Rp4,27 triliun, dengan net profit margin sebesar 12% dan EBITDA margin sebesar 19%. Realisasi laba bersih tahun ini meningkat signifikan atau melonjak 218% dibandingkan laba pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp833,04 miliar.
Penguatan kinerja keuangan tersebut terjadi meskipun volume penjualan batu bara secara tahunan masih mengalami penurunan.
Sepanjang Semester I 2026, volume penjualan PTBA mencapai 21,10 juta ton, turun 2% dibandingkan Semester I 2025 yang mencapai 21,62 juta ton.
Namun, penurunan volume tersebut berhasil dikompensasi oleh kenaikan harga jual. ASP PTBA meningkat 10% secara tahunan (YoY). Penguatan harga tersebut sejalan dengan kenaikan Newcastle Index sebesar 25% YoY dan ICI-3 sebesar 15% YoY.
Dari total penjualan Semester I 2026, sekitar 51% atau 10,77 juta ton diserap pasar domestik, sementara 49% atau 10,33 juta ton merupakan penjualan ekspor.
Penjualan domestik turun 9% dibandingkan Semester I 2025 yang mencapai 11,78 juta ton. Sebaliknya, penjualan ekspor tumbuh 5%, dari 9,85 juta ton pada Semester I 2025 menjadi 10,33 juta ton pada Semester I 2026.
Lima negara tujuan ekspor terbesar PTBA hingga Juni 2026 adalah Vietnam, Bangladesh, Kamboja, India, dan Thailand.
Produksi Turun, Efisiensi Menguat
Dari sisi operasional, produksi batu bara PTBA pada Semester I 2026 tercatat 19,45 juta ton, turun 10% dibandingkan Semester I 2025 yang mencapai 21,73 juta ton. Volume angkutan juga turun 6%, dari 19,27 juta ton menjadi 18,15 juta ton. Meski demikian, PTBA berhasil menekan stripping ratio dari 6,17 kali menjadi 5,26 kali, atau turun 15% secara tahunan.
Penurunan stripping ratio menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga efisiensi biaya produksi di tengah meningkatnya harga bahan bakar. PTBA mencatat beban pokok pendapatan sebesar Rp17,78 triliun, turun 2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan beban pokok pendapatan tersebut sejalan dengan penurunan volume operasional, baik produksi maupun angkutan batu bara. Di sisi lain, beban operasional meningkat Rp184,84 miliar atau sekitar 13% YoY, terutama akibat kenaikan beban umum dan administrasi.
Kinerja biaya juga menghadapi tekanan dari kenaikan harga bahan bakar. Konflik di Selat Hormuz yang terjadi sejak akhir Februari 2026 berdampak terhadap kenaikan harga BBM hingga Rp19.503 per liter per 30 Juni 2026, atau meningkat 34% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan harga BBM tersebut memberikan tekanan terhadap biaya bahan bakar yang digunakan dalam kegiatan jasa penambangan maupun angkutan kereta api. Namun, PTBA menyatakan tekanan tersebut dapat dikelola melalui program efisiensi yang tepat sasaran dan disiplin operasional secara berkelanjutan.
Kontribusi Entitas Asosiasi Meningkat
Dari sisi pendapatan dan biaya keuangan, PTBA membukukan penghasilan keuangan sebesar Rp108,58 miliar, naik 6% YoY. Kenaikan tersebut terutama dipengaruhi peningkatan laba dari nilai tukar mata uang asing. Sementara itu, biaya keuangan turun 25% menjadi Rp98,99 miliar, seiring dengan penurunan beban bunga dari pinjaman bank.
Kontribusi dari entitas asosiasi dan ventura bersama juga mengalami peningkatan signifikan. Bagian atas laba neto entitas asosiasi dan ventura bersama mencapai Rp438,30 miliar, melonjak dibandingkan Rp209,86 miliar pada Semester I 2025.
Kombinasi penguatan harga jual, pertumbuhan ekspor, efisiensi biaya, penurunan biaya keuangan, serta meningkatnya kontribusi entitas asosiasi turut menopang laba bersih PTBA sebesar Rp2,65 triliun pada Semester I 2026.
Realisasi Capex 30%
Di sisi investasi, hingga Semester I 2026 PTBA telah merealisasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp1,09 triliun, atau sekitar 30% dari target tahunan. Untuk tahun penuh 2026, PTBA menetapkan target produksi sebesar 49,55 juta ton, volume penjualan 49,51 juta ton, volume angkutan 41 juta ton, stripping ratio 5,63 kali, serta capex sebesar Rp3,64 triliun.
Dengan demikian, meskipun kinerja produksi dan volume penjualan Semester I 2026 masih berada di bawah realisasi periode yang sama tahun sebelumnya, PTBA mampu meningkatkan pendapatan melalui strategi penjualan dan optimalisasi harga, terutama dengan memperbesar kontribusi pasar ekspor.





Komentar Terbaru