JAKARTA – PT Pertamina (Persero) terus memperkuat pengembangan hidrogen nasional sebagai bagian dari upaya membangun ketahanan energi sekaligus mendukung transisi menuju energi yang lebih bersih. Melalui berbagai proyek yang tengah dikembangkan dari Sumatra hingga Papua, Pertamina membangun ekosistem hidrogen secara terintegrasi, mulai dari produksi, pemanfaatan, hingga kolaborasi dengan berbagai mitra strategis.

Salah satu pengembangan tersebut diwujudkan melalui pembangunan hydrogen hub di Sei Mangkei dan Kuala Tanjung, Sumatera Utara, yang memiliki kapasitas produksi hingga 4.000 kilogram hidrogen per hari. Proyek ini menjadi bagian dari langkah Pertamina dalam mempercepat terbentuknya ekosistem hidrogen nasional.

Oki Muraza, Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) mengatakan hidrogen akan menjadi salah satu energi strategis yang melengkapi bauran energi nasional di masa depan. Karena itu, pengembangannya membutuhkan kolaborasi lintas sektor agar tercipta ekosistem yang kuat dan berkelanjutan.

“Ekosistem hidrogen ini akan menjadi capaian baru transformasi energi di Indonesia, sebagaimana keberhasilan biodiesel B50 yang telah diresmikan pemerintah,” kata Oki saat menjadi pembicara pada Global Hydrogen Ecosystem Summit & Exhibition (GHES) di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Selasa (21/7).

Menurut Oki, Pertamina tidak hanya mengembangkan proyek produksi hidrogen, tetapi juga membangun fondasi ekosistem yang mencakup empat aspek utama, yakni penguatan regulasi, pengembangan teknologi, dukungan pembiayaan, serta penyediaan infrastruktur yang terintegrasi.

“Khusus untuk infrastruktur, kami berharap dapat mengoptimalkan pemanfaatan aset-aset strategis nasional sehingga pengembangan hidrogen dapat dilakukan secara lebih efisien, kompetitif, dan ekonomis,” katanya.

Selain di Sumatera Utara, Pertamina juga mengembangkan berbagai proyek hidrogen di sejumlah wilayah Indonesia. Di Plaju, Sumatera Selatan, Pertamina menjalankan proyek percontohan produksi hidrogen berbasis energi surya berkapasitas 20 kilogram per hari. Sementara di Lampung, fasilitas produksi green hydrogen berbasis panas bumi ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada November mendatang dengan kapasitas 100 kilogram per hari.

Di Pulau Jawa, Pertamina bersama sejumlah mitra mengembangkan ekosistem hydrogen mobility di Jakarta. Sementara di Jawa Barat, Pertamina memperoleh dukungan hibah dari Pemerintah Korea untuk mengembangkan proyek pengolahan sampah dan limbah cair menjadi biogas yang selanjutnya diproses menjadi hidrogen.

Pengembangan hidrogen yang dilakukan Pertamina juga menjangkau kawasan timur Indonesia. Di Sulawesi, perusahaan mengembangkan potensi hidrogen alami, sedangkan di Maluku dan Papua, Pertamina mengembangkan proyek blue ammonia bersama mitra strategis untuk mendukung kebutuhan industri sekaligus membuka peluang pasar ekspor. (RI)