SURABAYA – PT PAL Indonesia resmi masuk industri energi lepas pantai. BUMN galangan kapal itu teken kontrak EPCT Conductor Support Frame (CSF) dengan West Natuna Exploration Limited (WNEL) untuk Proyek Gas Mako di Laut Natuna, Kepulauan Riau.

CSF adalah struktur baja penopang konduktor yang jadi fondasi anjungan produksi gas. PT PAL ditunjuk sebagai kontraktor utama mengerjakan rekayasa, pengadaan, konstruksi, sampai transportasi struktur ke lapangan.

General Manager Sales & Marketing PT PAL, Aris Wacana Putra, menyebut ini langkah strategis perluasan bisnis. “Kepercayaan ini menunjukkan kapabilitas rekayasa dan manufaktur PT PAL untuk infrastruktur eksploitasi gas lepas pantai. Ini kontribusi nyata industri nasional untuk ketahanan energi,” ujarnya, Jumat (19/6).

Sejak 2005, PT PAL memang sudah garap proyek offshore platform Zelda CNOOC, Ujung Pangkah Amerada Hess, KE-32 Kodeco, Wortel & Peluang Santos, hingga Jacket Bukit Tua Petronas. Pengalaman bangun kapal perang dan niaga jadi modal masuk ke struktur offshore migas.

Proyek Mako sudah masuk Final Investment Decision (FID) Maret 2026. Lapangan gas di Wilayah Kerja Duyung ini ditarget jadi pasokan penting listrik nasional. CSF yang dibangun PT PAL akan jadi bagian infrastruktur produksinya.

Menurut Aris peluang bisnis di Duyung bisa melebar. PT PAL menargetkan proyek selesai tepat waktu dengan standar kualitas dan keselamatan, ditopang transformasi digital Industri Maritim 4.0.

Selain infrastruktur, proyek ini didorong untuk menaikkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan libatkan industri pendukung lokal. Kontrak ini sekaligus jadi diversifikasi PT PAL ke sektor energi bernilai tambah tinggi, tak lagi hanya galangan kapal dan pertahanan.(RA)