JAKARTA – Insentif penundaan penyetoran dana Abandonment and Site Restoration (ASR) yang diberikan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) kepada Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) pada Juli 2020 mendapatkan respon positif. Berdasarkan data SKK Migas, dari 43 KKKS yang diberikan penawaran untuk mendapatkan insentif sebanyak 30 KKKS telah menyatakan mengikuti relaksasi pada tahun ini.

Susana Kurniasih, Pelaksana Tugas Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas,  mengatakan relaksasi dana ASR diberikan setelah sebelumnya KKKS tersebut melakukan evaluasi kemampuan finasial keuangan perusahaan secara mandiri.

“Total pencadangan dana ASR pada semester I 2020 yang diberikan relaksasi mencapai US$26 juta dan diperkirakan sampai dengan akhir 2020 nilai total pemberian relaksasi dana ASR akan mencapai US$66,6 juta,” kata Susana, Rabu (9/9).

Susana menambahkan insentif pencadangan dana ASR diberikan agar KKKS dapat menjaga stabilitas kemampuan finansial sehingga fokus pada upaya-upaya pencapaian produksi yang telah ditetapkan.

“KKKS yang telah mengikuti program relaksasi segera kami minta untuk kembali fokus pada kegiatan produksi ataupun kegiatan eksplorasi, yang terpenting investasi di hulu migas tetap berjalan,”kata dia.

Terdapat sembilan insentif yang diusulkan SKK Migas kepada pemerintah, Selain dana ASR, insentif fiskal hulu migas lainnya seperti halnya perpajakan, saat ini masih sedang dalam proses pembahasan dengan kementerian dan lembaga terkait yang berwenang. SKK Migas berharap agar kebijakan pemberian insentif kepada KKKS mampu meningkatkan gairah investasi hulu migas.

Susana mengatakan  bahwa realisasi investasi hulu migas per Agustus 2020 baru mencapai US$6,12 miliar atau 44% dari target 2020.

“Besarnya investasi di industri hulu migas tentunya akan mendorong terciptanya multiplier effect di tengah beratnya kondisi ekonomi saat ini. Kami berharap industri ini mampu memberikan dukungan bagi perekonomian daerah dan pelaku usaha, utamanya di sekitar wilayah operasi hulu migas,” kata Susana.

Menurut Susana, dii tengah upaya pemerintah untuk memperbaiki perekonomian yang turun akibat dampak Covid-19, maka sektor hulu migas dapat berkontribusi lebih.

“Selain operasional hulu migas yang terus berjalan dan investasi yang terus mengalir, hulu migas juga tidak ada PHK sehingga mampu menjaga daya beli pekerja sektor hulu migas yang diharapkan dapat menggerakkan ekonomi masyarakat lainnya,” kata Susana.(RI)