Dunia Energi Logo Sabtu, 18 November 2017

Konsumsi BBM Saat Musim Mudik 2017 Diproyeksi Naik 9,7%

JAKARTA – Konsumsi bahan bakar minyak (BBM) saat menjelang dan setelah Hari Raya Idul Fitri 2017 diproyeksi naik 9,7%. Proyeksi ini berdasarkan tren konsumsi BBM, khususnya jenis premium dan pertamax series pada kuartal I 2017.
Peningkatan konsumsi diperkirakan masih tetap didominasi premium dari kondisi normal rata-rata 38 ribu kilo liter (KL) per hari akan meningkat menjadi 40 ribu KL. Untuk pertamax series rata-rata kenaikan konsumsi diperkirakan naik 10%-15% dari kondisi normal.

“Pertamax normal konsumsi sebanyak 17 ribu KL per hari menjadi 19 ribu KL per hari. Pertalite dari 39 ribu KL per hari menjadi 45 ribu KL per hari,” kata Afandi, Vice President Fuel Marketing PT Pertamina (Persero) di Jakarta, Selasa (4/4).

Menurut Afandi, proyeksi pertumbuhan konsumsi BBM bersifat sementara. Pasalnya, potensi peningkatan konsumsi diperkirakan akan lebih besar jika pembangunan jalan tol di lintas Jawa sudah rampung dan digunakan selama masa mudik dan arus balik lebaran 2017.

“Ini prediksi, tapi dengan situasi saat ini yang sedang dibangun jalan tol. Jika nanti jadi digunakan maka bisa tambah lagi,” ungkap dia.

Perubahan konsumsi juga diperkirakan akan terjadi bagi BBM, seperti pada tahun–tahun sebelumnya penurunan konsumsi BBM yang terdiri dari biosolar dan pertamina dex series diperkirakan akan terjadi. Hal itu disebabkan adanya penurunan aktivitas kendaraan-kendaraan pengguna dua jenis BBM tersebut. “Solar turun dari 35 ribu KL per hari menjadi 32 ribu KL per hari,” kata Afandi.

Seiring peningkatan konsumsi bahan bakar membuat Pertamina juga harus menyiapkan stok cadangan melalui impor untuk produk gasoline.

Gigih Wahyu Hari Irianto, Senior Vice President Fuel Marketing and Distribution Pertamina, mengatakan Pertamina sudah menyiapkan langkah-langkah khusus terkait penambahan stokk cadangan guna mengantisipasi peningkatan konsumsi BBM pada masa lebaran 2017, termasuk dengan langkah impor BBM.

“Impornya terkendali, kalau impor banyak-banyak rugi kan ada biaya inventory juga. Kita memang sudah schedule kan fungsi demand dan supply,” kata Gigih.(RI)

Berikan kami pemikiran anda

(dimulai dengan http://)