JAKARTA – Sumur pengembangan Jangkrik North-East-6 (JNE-6) berhasil mencatatkan hasil uji produksi gas sebesar 60 juta kaki kubik per hari (million standard cubic feet per day/MMSCFD). Sumur tersebut ditargetkan segera berproduksi pada Oktober 2026.

“Pengeboran sumur pengembangan Jangkrik North-East-6 (JNE-6) telah berhasil dilakukan test dengan produksi 60 MMSCFD,” ujar Djoko Siswanto, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), Sabtu (10/10).

Dia berharap sumur yang dikelola Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) PT Searah tersebut dapat segera memasuki tahap produksi dengan tetap mengutamakan keselamatan operasi.

“Mohon doa, insya Allah pada bulan ini juga, sumur segera diproduksikan dengan aman, lancar dan selamat,” katanya.

Hasil uji produksi sebesar 60 MMSCFD menjadi perkembangan positif bagi upaya peningkatan produksi gas nasional. Namun, angka tersebut merupakan hasil pengujian sumur dan realisasi produksi berkelanjutan masih menunggu pengoperasian sumur secara resmi.

Lapangan Jangkrik dan Jangkrik North-East merupakan bagian dari kompleks pengembangan gas bumi di Blok Muara Bakau, lepas pantai Selat Makassar, Kalimantan Timur. Pengembangan kedua lapangan dilakukan secara terintegrasi melalui proyek Jangkrik yang memanfaatkan fasilitas produksi terapung (Floating Production Unit/FPU).

Proyek Jangkrik mulai mengalirkan gas perdana pada Mei 2017. Gas yang diproduksikan diproses di FPU, kemudian dialirkan melalui pipa bawah laut sepanjang sekitar 79 kilometer menuju fasilitas penerima di darat sebelum diteruskan ke kilang LNG Badak di Bontang. Pasokan gas dari proyek ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun ekspor LNG.

Keberhasilan uji produksi JNE-6 diharapkan menambah kontribusi kegiatan pengembangan sumur terhadap pasokan gas bumi nasional. Tahap selanjutnya adalah memastikan kesiapan teknis dan operasional agar sumur dapat mulai berproduksi sesuai target pada Oktober 2026. (RI)