JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut program 100 Gigawatt peak (GWp) pembangkit yang didorong Presiden Prabowo Subianto bisa mempercepat pencapaian target emisi nol bersih Indonesia.

“Kalau listrik berbasis pada solar panel dan baterai storage system, tentunya emisinya kan nol. Jadi kita menurunkan target daripada angka emisi mendekati nol di 2060, ini bisa maju 10-15 tahun,” kata Airlangga dalam seminar nasional di Jakarta, Selasa (29/9).

Menurut Airlangga, energi hijau dan pengembangan digital akan menjadi mesin ganda (twin engine) pertumbuhan ekonomi menuju target 6 persen pada 2027. Untuk itu, investasi perlu tumbuh 8-9 persen dengan kebutuhan modal Rp2.218–2.258 triliun.

Kebutuhan listrik nasional diproyeksikan mencapai 700–800 terawatt-jam pada 2030. Pemerintah menyiapkan pembangunan jaringan transmisi sekitar 47.758 kilometer-sirkuit untuk menjamin keandalan pasokan, termasuk untuk menopang industri data center.

Airlangga juga menyoroti kekayaan mineral kritis Indonesia seperti nikel, timah, bauksit, dan tembaga sebagai modal hilirisasi. Ekosistem kendaraan listrik disebut punya potensi nilai tambah 67 kali lipat dengan permintaan global USD5,91 triliun pada 2045.

“Ini the golden moment buat Indonesia. Kita punya pasir silika yang besar, ini bisa mendorong kita mempunyai tuan rumah untuk solar panel,” ujarnya.

Dari sisi pembiayaan, pemerintah mengandalkan green bonds, blended finance, JETP, dan AZEC untuk mempercepat proyek energi bersih.(RA)