JAKARTA – Pemerintah diperkirakan hanya bisa menahan harga BBM selama bulan April ini apabila tidak ada perubahan signifikan terhadap kondisi di Timur Tengah dalam waktu dekat.
Putra Adhiguna, Managing Director Energy Shift Institute, menjelaskan pemerintah memiliki pertimbangan politis dalam menahan harga, meski perlu juga berkaca dari negara-negara tetangga yang perlahan seperti Vietnam bahkan China yang perlahan secara bertahap melakukan penyesuaian.
“Indonesia memilliki keunggulan karena suplai kita lebih beragam, namun imbas harga pasti sudah akan terasa untuk APBN. Jangan sampai kita melakukan penyesuaian yang terlalu drastis di kemudian hari,” kata Putra kepada Dunia Energi, Sabtu (4/4).
Lebih lanjut dia menuturkan kemampuan anggaran negara paling tidak bisa menahan harga dalam jangka waktu yang tidak lama. ‘Mengingat ini sudah satu bulan saya rasa batasannya dalam 1 bulan ke depan,” ujar Putra.
Dia menuturkan batasan kemampuan tersebut dipengaruhi juga keputusan politik anggaran yang ada di Indonesia. ” tapi mengingat negara2 lain sudah bertahap sementara kita bahkan masih menahan bbm non subsidi,” ungkap Putra.
Kondisi suplai dan pasokan energi dunia khususnya minyak dan gas bumi masih penuh ketidakpastian lantaran kebijakan Amerika Serikat dibawah Donald Trump bersama dengan Israel yang terus memaksanakan menyerang Iran meskipun banyak negara sekutunya bahkan menentang dan menolak memberikan bantuan.
Pemerintah sendiri menjalankan berbagai program tambahan untuk mitigasi gejolak pasokan mulai dari kebijakan WFH setiap hari Jumat hingga percepatan program Biodiesel 50% atau mandatori B50 yang mulai diberlakukan bulan Juli nanti.



Komentar Terbaru